Malanginspirasi.com – Ponsel kini menjadi perangkat yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan semua orang. Pastinya keberadaannya memberikan banyak dampak, entah positif atau negatif.
Dilansir dari fkkmk.ugm.ac.id, hasil survei lembaga di AS mencatat bahwa orang Indonesia adalah pengguna ponsel pintar nomor satu di dunia.
Mulai anak-anak hingga lansia, rata-rata menghabiskan waktu 181 menit per hari di ponsel mereka.
Namun, di balik kemudahan yang diberikan, muncul kekhawatiran mengenai dampak radiasi gelombang elektromagnetik yang dipancarkan ponsel terhadap kesehatan.
Dalam ujian terbuka Program Doktor Fakultas Kedokteran UGM, Dr. dr. Isna Qadrijati, M.Kes., menjelaskan bahwa radiasi radiofrekuensi pada ponsel terbukti mampu mempengaruhi kesuburan pria.
Hal tersebut merupakan temuan penting dalam disertasinya yang berjudul “Pajanan Radiasi Gelombang Elektromagnetik Radiofrekuensi Telepon Seluler terhadap Kualitas dan Fungsionalitas Spermatozoa Manusia.”
Dampak Radiasi Ponsel
Isna memaparkan bahwa jenis radiasi yang ditimbulkan ponsel berbeda-beda, bergantung pada intensitas, frekuensi, durasi pajanan, dan sensitivitas jaringan yang terkena.
Berdasarkan bukti empirik, sekitar 50% kasus infertilitas pada pasangan, salah satu pemicunya adalah paparan gelombang elektromagnetik dari ponsel pada pria.
Dalam penelitiannya, Isna menemukan bahwa semakin lama dan besar paparan radiasi yang diterima, semakin rendah kualitas serta fungsionalitas spermatozoa.
Paparan ini juga menghambat ekspresi Voltage-Gated Calcium Channel (VGCC), yakni kanal kalsium yang berperan penting dalam fungsi sperma.
Penurunan fungsi ini berdampak langsung pada peluang keberhasilan reproduksi.
Tidak hanya itu, jika terjadi kehamilan dari spermatozoa yang sudah terpapar radiasi berlebih, kondisi tersebut dapat mempengaruhi perkembangan janin.
Baca Juga:
Bahaya! Bakteri Listeria Kontaminasi Makanan, Bisa Keguguran!
Potensi risiko yang muncul antara lain kecenderungan autisme, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), skizofrenia, serta gangguan pertumbuhan pada bayi.
Isna juga menyoroti pentingnya kebijakan pemerintah terkait penggunaan ponsel, terutama pada anak-anak di bawah lima tahun.
Karena banyak orang tua belum memahami kalau paparan radiasi pada usia dini dapat mengganggu perkembangan sel.
Oleh sebab itu, edukasi mengenai penggunaan ponsel yang aman perlu terus digencarkan.
Dalam presentasinya, Isna memberikan beberapa saran penggunaan ponsel yang lebih aman, seperti memakai pelindung ponsel, mengurangi panggilan suara langsung, serta memilih perangkat dengan specific absorption rate (SAR) di bawah 2 W/kg.
Rekomendasi ini dinilai penting, terutama bagi pasangan yang sedang menjalani program hamil.







