Malanginspirasi.com – Pernah melihat anak menangis histeris hanya karena salah satu barangnya hilang? Atau marah besar saat kalah dalam permainan? Anak-anak yang belum mampu mengendalikan emosi dirinya cenderung mengalami ledakan perasaan yang sulit dikendalikan.
Jika tidak diajarkan sejak dini, kebiasaan ini bisa terbawa hingga dewasa dan berdampak negatif pada kehidupan sosial serta mental mereka.
Lalu, bagaimana cara membantu anak mengelola emosinya agar tidak mudah frustasi?
Mengapa Anak Sulit Mengendalikan Emosi?
Anak-anak masih dalam tahap perkembangan emosional, sehingga mereka belum sepenuhnya paham bagaimana cara mengontrol perasaan mereka.
Beberapa penyebab umum anak mudah meledak di antaranya:
– Ketidakmampuan Mengungkapkan Perasaan
Anak sering kali belum bisa mengekspresikan apa yang mereka rasakan dengan kata-kata.
-Meniru Lingkungan
Jika anak sering melihat orang tua atau orang di sekitarnya melampiaskan emosi dengan cara negatif, mereka cenderung menirunya.
– Kurangnya Latihan Regulasi Emosi
Anak tidak dilahirkan dengan kemampuan untuk langsung mengendalikan emosinya. Ini adalah keterampilan yang harus dilatih secara konsisten.
Melansir Verywell Mind, kemampuan mengelola emosi adalah faktor penting dalam perkembangan anak. Anak yang bisa mengendalikan emosinya sejak dini lebih mudah beradaptasi dalam lingkungan sosial, memiliki ketahanan mental yang lebih baik, dan lebih siap menghadapi tantangan hidup.
Tanda-Tanda Anak Sulit Mengendalikan Emosi
Orang tua perlu waspada jika anak menunjukkan beberapa tanda berikut:
– Sering tantrum atau menangis berlebihan saat menghadapi masalah kecil.
– Mudah tersinggung dan marah meskipun dalam situasi yang tidak terlalu serius.
– Cenderung menyalahkan orang lain ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya.
– Menghindari situasi yang membuat mereka frustasi, seperti menolak mencoba hal baru karena takut gagal.
Jika tanda-tanda ini muncul secara berulang dan menghambat perkembangan anak, maka penting untuk segera mengajarkan mereka cara mengelola emosi dengan baik.
Cara Mengajarkan Anak Mengendalikan Emosi Sejak Dini
1. Bantu Anak Mengenali Emosi Mereka
Sebelum bisa mengendalikan emosi, anak harus belajar mengenali dan menamai perasaan mereka.
Ajarkan kata-kata seperti “Aku marah”, “Aku sedih”, atau “Aku kecewa” agar mereka lebih mudah mengungkapkan perasaan tanpa harus meledak.
2. Validasi Perasaan Mereka
Jangan buru-buru menyuruh anak berhenti menangis atau marah. Tunjukkan empati dengan mengatakan, “Ibu tahu kamu kecewa karena mainanmu hilang.”
Dengan begitu, anak merasa dimengerti dan lebih mudah diajak berdiskusi.
3. Ajarkan Teknik Pernapasan untuk Menenangkan Diri
Ajari anak teknik pernapasan dalam saat mereka mulai emosi. Misalnya, tarik napas dalam-dalam selama empat hitungan, tahan selama empat detik, lalu hembuskan perlahan.
Ini akan membantu anak merasa lebih tenang sebelum bereaksi secara emosional.
4. Ajarkan Cara Menyelesaikan Masalah
Alih-alih langsung memberikan solusi, ajarkan anak untuk berpikir tentang cara menyelesaikan masalahnya sendiri.
Misalnya, jika mereka marah karena kalah dalam permainan, tanyakan, “Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan supaya kamu bisa merasa lebih baik?”
5. Gunakan Cerita atau Permainan untuk Mengajarkan Emosi
Banyak buku cerita anak yang mengajarkan tentang emosi dan bagaimana mengelolanya.
Selain itu, permainan seperti role play atau boneka tangan bisa membantu anak memahami cara menghadapi situasi emosional dengan cara yang menyenangkan.
6. Beri Pujian Saat Anak Berhasil Mengelola Emosinya
Ketika anak berhasil menenangkan diri tanpa meledak, beri mereka apresiasi. Misalnya, “Wah, tadi kamu kecewa karena kalah, tapi kamu tetap tenang dan tidak marah-marah. Ibu bangga!” Hal ini akan memperkuat kebiasaan positif dalam diri mereka.
Orang tua berperan besar dalam membimbing anak dalam proses ini. Dengan menerapkan cara-cara diatas, anak bisa belajar menghadapi emosinya dengan cara yang lebih sehat.








