Malanginspirasi.com – Tidak semua orang pandai mengungkapkan isi hati, termasuk pasangan kita sendiri. Di satu sisi, kamu ingin merasa dicintai dan dimengerti. Tapi di sisi lain, pasanganmu justru terlihat tertutup, canggung, atau bahkan cuek saat bicara soal perasaan.
Situasi ini bisa memicu salah paham, membuatmu bertanya-tanya, “Dia sayang nggak sih sebenarnya?” Atau, “Kenapa dia nggak bisa ungkapin apa yang dia rasakan?”
Kalau kamu sedang menghadapi hal serupa, tenang. Kamu tidak sendiri, dan kondisi ini bukan akhir dari segalanya.
Ada cara-cara sehat untuk memahami dan menghadapi pasangan yang sulit mengekspresikan perasaannya.
Kenapa Ada Orang yang Sulit Mengekspresikan Perasaan?
Sebelum buru-buru menilai pasanganmu dingin atau tak peka, penting untuk memahami banyak faktor memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengekspresikan emosi.
Beberapa orang tumbuh di lingkungan yang tidak terbiasa membicarakan perasaan. Ada juga yang merasa rentan jika harus terbuka secara emosional, atau pernah mengalami pengalaman buruk saat menunjukkan sisi emosinya.
Melansir Verywell Mind, kesulitan dalam mengungkapkan emosi bisa berkaitan dengan apa yang disebut “alexithymia” yaitu kondisi di mana seseorang kesulitan mengenali dan menamai emosinya sendiri.
Bukan berarti mereka tidak punya perasaan, tapi mereka butuh waktu lebih lama untuk memahaminya.
Jangan Paksa, Tapi Ajak Bicara dengan Lembut
Memaksa pasangan untuk langsung terbuka bisa membuatnya merasa terpojok atau malah makin menutup diri. Coba ganti pendekatan.
Alih-alih bertanya, “Kenapa kamu nggak pernah bilang sayang?”, kamu bisa mulai dengan, “Aku merasa senang kalau kamu bisa cerita apa yang kamu rasain, meskipun pelan-pelan.”
Ingat, komunikasi yang efektif bukan cuma tentang apa yang kita katakan, tapi juga bagaimana kita menyampaikannya. Nada suara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh bisa menentukan apakah pasangan merasa aman untuk membuka diri.
Hargai Bentuk Ekspresi Emosi Mereka
Mungkin pasanganmu tidak romantis lewat kata-kata. Tapi ia menunjukkan cinta lewat tindakan seperti menjemputmu tanpa diminta, memperbaiki barang-barang di rumah, atau mengingat hal-hal kecil yang kamu suka. Ini bisa jadi love language mereka.
Penting bagi pasangan untuk mengenali dan menghargai cara masing-masing dalam menunjukkan kasih sayang. Dengan begitu, kita bisa melihat meski ekspresinya berbeda, perasaannya tetap ada.
Ajarkan dengan Contoh, Bukan Ceramah
Kamu bisa menjadi “guru emosional” yang baik bagi pasanganmu. Tunjukkan bagaimana kamu mengekspresikan perasaanmu tanpa drama, tanpa tekanan.
Misalnya, “Aku senang banget waktu kamu anterin aku tadi. Aku merasa diperhatikan,” atau, “Aku lagi capek banget hari ini dan pengen dipeluk.”
Dengan memberi contoh, kamu menciptakan ruang aman di mana pasangan bisa belajar dan ikut menyesuaikan diri.
Kesabaran Adalah Kunci
Mengubah cara komunikasi dalam hubungan bukan hal instan. Dibutuhkan waktu, pengertian, dan tentunya konsistensi.
Pasanganmu mungkin butuh waktu lebih lama untuk merasa nyaman berbicara soal emosi. Tapi selama kamu melihat adanya usaha dan perkembangan, itu sudah jadi langkah besar.
Jika kamu merasa lelah sendiri, nggak ada salahnya bicara dari hati ke hati soal kebutuhanmu dalam hubungan. Hubungan sehat adalah kerja sama dua pihak, bukan perjuangan satu orang saja.
Kapan Perlu Bantuan Profesional?
Kalau kamu merasa komunikasi di antara kalian benar-benar buntu, atau malah jadi sumber konflik berkepanjangan, bisa jadi ini saatnya minta bantuan profesional.
Konselor atau terapis pasangan bisa membantu membuka jalan komunikasi yang selama ini tertutup. Terapis bisa jadi jembatan aman yang membuat masing-masing pihak merasa didengar dan dipahami.
Ekspresi Cinta Tak Selalu Lewat Kata
Tidak semua orang lahir dengan kemampuan mengekspresikan perasaan secara terbuka. Tapi bukan berarti mereka tidak mencintai. Dengan pendekatan yang tepat, kesabaran, dan komunikasi yang sehat, hubungan kalian tetap bisa berkembang jadi lebih kuat.
Jangan buru-buru menyerah karena perbedaan gaya komunikasi. Sebaliknya, jadikan ini sebagai proses belajar bersama. Karena kadang, cinta itu bukan tentang seberapa sering diucapkan, tapi seberapa nyata ia ditunjukkan hari demi hari.








