Malanginspirasi.com – Memilih pasangan hidup bukanlah perkara sederhana, terutama bagi perempuan yang kelak akan menjalani peran sebagai istri dan ibu.
Hal ini disampaikan oleh Damayanti M.Pd, dosen Pendidikan Anak Usia Dini, dalam sebuah sesi wawancara yang membahas pentingnya memilih lelaki sebagai suami secara bijak dan penuh pertimbangan.
Menurut Damayanti, ketertarikan awal perempuan terhadap laki-laki sering kali dimulai dari penampilan fisik atau good looking. Hal tersebut dianggap wajar.
“Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, yang dilihat wajahnya dia. Jadi kalau good looking, no problem,” ujarnya di Malang Town Square (Matos).
Tak Hanya Berfokus Pada Paras
Namun, ia menegaskan bahwa penampilan saja tidak cukup untuk dijadikan landasan membangun rumah tangga.
Yang jauh lebih penting adalah adab dan sikap lelaki tersebut dalam kehidupan sehari hari.
Bagaimana cara berbicara, bagaimana memperlakukan pasangan, hingga ketulusan senyum dan perhatian yang diberikan.

“Good looking saja tidak cukup, kita juga harus lihat apakah adabnya juga bagus? Setiap hari dengan kita bagaimana?” tambahnya.
Selain adab, kesiapan finansial juga menjadi aspek penting. Damayanti menekankan bahwa pembahasan mengenai penghasilan dan perencanaan ekonomi adalah bagian dari perencanaan rumah tangga.
Ia mengingatkan bahwa perempuan bukanlah tulang punggung utama dalam keluarga. Meski begitu, ia tetap mengapresiasi perempuan perempuan hebat yang bekerja dan mandiri.
Baca Juga:
Dipaksa Orang Tua Menikah Padahal Belum Siap, Apa yang Harus Dilakukan?
“Perempuan mandiri itu bagus, luar biasa. Tapi jangan sampai itu dimanfaatkan,” ujarnya.
Menurutnya, laki-laki tetap memiliki tanggung jawab untuk memberikan kebahagiaan lahir dan batin kepada istrinya. Mulai dari kebutuhan sandang, pangan, papan, hingga rasa aman dan nyaman.
Damayanti juga menyampaikan bahwa kondisi finansial laki laki yang masih sederhana bukanlah masalah. Selama ada kesepakatan dan komitmen untuk berkembang bersama.
Perencanaan hidup, seperti kapan memiliki anak, pendidikan anak, hingga menjaga kewarasan ibu, perlu dibicarakan sejak awal.

Ia menekankan pentingnya komunikasi terbuka sebelum menikah, baik melalui perjanjian pranikah maupun diskusi mendalam tentang hal hal yang disukai dan tidak disukai.
“Dalam rumah tangga itu mitra, bukan babu,” tegasnya.
Menurut Damayanti, kebahagiaan dan kewarasan perempuan merupakan kunci utama keharmonisan rumah tangga.
Jika ibu bahagia dan waras, maka ia tidak akan takut menjalani perannya sebagai ibu, termasuk dalam persiapan kehamilan dan menyusui.
Dengan persiapan matang sejak sebelum menikah, rumah tangga yang sehat dan bahagia pun dapat terwujud.








