Pelaku UMKM Perempuan Taman Singha Merjosari Bertahan di Tengah Keterbatasan Literasi Keuangan

Malanginspirasi.com – Aktivitas UMKM di kawasan Taman Singha Merjosari, Kota Malang, menunjukkan dinamika tersendiri.

Para pelaku usaha perempuan di kawasan ini memikul peran ganda dalam ekonomi rumah tangga. Meski perputaran ekonomi cukup hidup, literasi keuangan masih menjadi tantangan utama.

Sementara peran ganda perempuan dalam sektor informal turut memperkuat kerentanannya.

Dari pendataan cepat terhadap 14 pedagang di Taman Merjosari, tercatat 8 pelaku usaha adalah perempuan. Mayoritas menjual makanan siap saji seperti sempol, maklor gulung, jasuke, dan cilok.

Sebanyak 10 pedagang telah menggunakan QRIS, menunjukkan tingkat adopsi pembayaran digital yang baik, meski pemahaman terkait manajemen keuangan masih terbatas.

Pembukuan Uang
Pelaku UMKM Perempuan Taman Singha Merjosari Bertahan di Tengah Keterbatasan Literasi Keuangan
Wati saat menggoreng sempol untuk pembeli. (Ananda Putri Noviana)

Salah satu pedagang, Wati, penjual sempol, mengaku belum pernah melakukan pencatatan pemasukan maupun pengeluaran.

“Enggak pernah dicatat, Mbak. Pendapatan ya langsung buat beli modal lagi. Kadang buntung sedikit,” ungkapnya.

Pendapatannya berkisar Rp100 ribu hingga Rp500 ribu per-hari tanpa pencatatan yang rapi.

Modal hariannya sekitar Rp300 ribu, belum termasuk minyak dan telur sebagai bahan tambahan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku UMKM perempuan masih menjalankan usaha tanpa sistem pembukuan sehingga sulit mengukur perkembangan atau merencanakan ekspansi.

Selain aspek finansial, peran perempuan sebagai penopang ekonomi keluarga tampak jelas. Banyak pedagang tetap harus mengurus rumah tangga di sela menjalankan usaha.

Wati menuturkan bagaimana ia membagi waktu antara pekerjaan domestik dan berjualan.

“Pagi ngurus anak sekolah, siang bikin sempol, sore sampai malam jualan,” tuturnya.

Meski berjualan hingga malam, ia mengaku tetap merasa aman demi menambah pendapatan keluarga.

Sistem Bagi Hasil
Pelaku UMKM Perempuan Taman Singha Merjosari Bertahan di Tengah Keterbatasan Literasi Keuangan
Yeni, penjual Cilok Bandung saat berbicara dengan wartawan media Malang Inspirasi. (Ananda Putri Noviana)

Pedagang lain, Yeni, penjaga outlet cilok Bandung titipan sebuah perusahaan kuliner, menghadapi tantangan serupa.

Ia bekerja bergantian dengan suaminya, sementara penghasilan diatur melalui sistem bagi hasil dengan pemilik outlet di Tulungagung.

“Pendapatannya nggak tentu. Kalau rame lumayan. Tapi yang ngitung biasanya suami,” ujarnya.

Meski telah menggunakan QRIS, bahkan dengan akun milik tetangganya, ia mengakui belum pernah mengikuti pelatihan UMKM atau manajemen keuangan.

Tingginya penggunaan QRIS sebenarnya membuka peluang untuk meningkatkan pengelolaan keuangan secara digital.

Namun tanpa edukasi mengenai pencatatan sederhana, pemisahan uang pribadi dan usaha, serta perhitungan laba-rugi, kapasitas perkembangan usaha tetap terbatas.

Kedua pelaku UMKM perempuan ini menyampaikan harapan terhadap perkembangan usahanya.

“Pengen punya warung sendiri,” ujar Ibu Wati.

“Harapannya lancar-lancar terus usahanya,” tambah Ibu Yeni.

Kondisi ini menegaskan kebutuhan akan program literasi keuangan bagi UMKM perempuan. Mencakup pendampingan pencatatan sederhana, pemahaman modal, dan optimalisasi pembayaran digital.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *