Malanginspirasi.com — UMKM Huga’s Kitchen Sosis Bakar & Takoyaki kembali berpartisipasi dalam Bazar Perumahan Permata Jingga yang digelar pada 12–14 Desember.
Tenant ini ditemui pada Sabtu sore, 13 Desember, saat bazar tengah berlangsung.
Usaha kuliner tersebut dimiliki oleh Niar, pelaku UMKM yang telah menekuni bidang kuliner sejak 2012.
Keikutsertaan Huga’s Kitchen dalam bazar ini merupakan bagian dari agenda rutin.
Niar menjelaskan bahwa kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka gathering warga Perumahan Permata Jingga.
“Ini ada gathering di Permata Jingga. Saya tiap tahun memang sudah mengisi di sini, alhamdulillah sudah langganan dan biasanya di-invite,” ujar Niar.
Selain aktif mengikuti bazar, Huga’s Kitchen juga memiliki outlet offline yang berlokasi di kawasan Dieng, Kota Malang.
“Kalau outlet offline-nya ada di Dieng. Saya memang biasa mengisi event-event, terutama yang temanya makanan Jepang,” jelasnya.

Produk Unggulan Huga’s Kitchen
Takoyaki menjadi produk unggulan yang selalu ditawarkan dalam setiap kegiatan bazar.
Niar menyebut fokus usahanya memang pada kuliner Jepang dengan variasi menu yang disesuaikan dengan jenis acara.
“Unggulannya memang takoyaki. Kalau makanan berat jarang saya bawa, tergantung event-nya. Saya lebih fokus ke makanan Jepang,” katanya.
Keistimewaan takoyaki Huga’s Kitchen terletak pada ragam varian dan cita rasa yang dikembangkan secara mandiri.
“Variannya lebih banyak dari yang lain. Salah satu pencetus varian takoyaki yang banyak di Malang itu saya,” ungkap Niar.
Ia merinci varian tersebut antara lain cumi, octopus, udang, sosis, crab, keju, dan ayam.
“Yang spesial, saus takoyaki itu produk kami sendiri, resepnya juga racikan sendiri,” tambahnya.
Dampak Positif Bazar Terhadap UMKM
Menurut Niar, mengikuti bazar memberikan dampak positif terhadap penjualan sekaligus promosi usaha.
“Kalau dampaknya ke penjualan, alhamdulillah meningkat. Event itu memang naik turun, tapi saya sudah punya pelanggan sendiri, insyaallah bagus,” ujarnya.
Ia juga menilai bazar di Permata Jingga memiliki potensi pasar yang cukup stabil.
“Ramai itu relatif, tapi alhamdulillah saya punya banyak pelanggan di sini. Makanya sering di-invite,” katanya.
Dalam setahun, kegiatan bazar di kawasan tersebut dapat berlangsung hingga empat kali, menyesuaikan agenda panitia.

Terkait persaingan usaha, Niar memilih untuk tetap fokus pada pengembangan produk tanpa terlalu memikirkan kompetitor.
“Kalau usaha itu enggak pernah memikirkan orang lain sebagai pesaing. Kita jalan saja. Setiap orang punya pangsa pasar masing-masing,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa perbedaan harga dan target konsumen merupakan bagian dari strategi usaha yang wajar.
“Pedagang ngasih harga pasti sudah hitung HPP dan target pasarnya siapa, jadi enggak perlu takut buat berusaha,” ujarnya.
Selain menjalankan usaha, Niar juga memiliki komitmen berbagi pengalaman, khususnya kepada mahasiswa.
Sejak awal merintis usaha, ia banyak merekrut mahasiswa sebagai karyawan.
“Yang saya ajarkan bukan cuma cara bikin takoyaki, tapi caranya menghadapi pelanggan,” jelasnya.
Ia menilai pembelajaran tersebut penting sebagai bekal masa depan.
“Masak itu gampang dipelajari, tapi kedisiplinan, kebersihan, dan komitmen itu yang perlu ditanamkan,” kata Niar.
Menurutnya, mahasiswa di semester akhir seharusnya mulai menggali pengalaman kerja dan kemampuan menghadapi dunia profesional.
Ke depan, Niar berharap Huga’s Kitchen dapat terus berkembang.
“Harapannya tentu berkembang lebih baik. Kalau ada kesempatan punya outlet yang lebih besar atau restoran, itu keinginan saya,” ujarnya.
Dengan pengalaman lebih dari satu dekade, Huga’s Kitchen optimistis dapat terus berinovasi dan berkontribusi dalam penguatan UMKM lokal di Kota Malang.








