Malanginspirasi.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat kinerja perekonomian daerah yang tetap solid pada Triwulan III Tahun 2025.
Kepala BPS Kota Malang, Umar Sjaifudin, M.Si., menyampaikan bahwa ekonomi Kota Malang tumbuh 6,29 persen secara year-on-year (y-on-y) dan 1,44 persen secara quarter-to-quarter (q-to-q).
Paparan tersebut disampaikan dalam siaran pers BPS Kota Malang yang ditayangkan melalui kanal YouTube resmi pada Senin, 5 Januari 2026, pukul 13.30 WIB.
Siaran pers tersebut mengangkat topik PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha dan Pengeluaran Kota Malang Triwulan III 2025.
Pemulihan Ekspansi Ekonomi
Secara kumulatif (c-to-c), pertumbuhan ekonomi Kota Malang hingga Triwulan III 2025 tercatat sebesar 5,92 persen, menunjukkan tren pemulihan dan ekspansi ekonomi yang berkelanjutan.
BPS mencatat sejumlah indikator yang mendorong pertumbuhan ekonomi Kota Malang pada Triwulan III 2025.
Baca Juga:
Inflasi Kota Malang Desember 2025 Tercatat 0,56 Persen, Dipicu Kenaikan Harga Cabai Rawit dan Emas
Industri pengolahan makanan dan minuman mengalami peningkatan produksi sebesar 1,72 persen, sejalan dengan meningkatnya permintaan masyarakat.
Realisasi belanja modal pemerintah daerah juga menunjukkan akselerasi.
Belanja modal berupa pembangunan gedung, jalan, jaringan, dan irigasi meningkat 1,14 persen dibandingkan Triwulan II 2025, berdasarkan data Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Malang.

Dari sektor transportasi, angkutan darat tumbuh signifikan dengan kenaikan jumlah penumpang berangkat sebesar 2,90 persen, sebagaimana tercatat di Terminal Arjosari Malang.
Sektor pariwisata turut berkontribusi melalui peningkatan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel rata-rata sebesar 5,92 persen, serta kenaikan Lama Malam Kamar Terjual sebesar 9,69 persen.
Sementara itu, sektor jasa pendidikan mengalami peningkatan permintaan sebesar 6,06 persen, dipicu oleh bertambahnya jumlah mahasiswa baru di perguruan tinggi swasta pada awal semester baru.
Di sisi lain, pengurusan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Baru (BBN-KB1) meningkat tajam sebesar 12,04 persen pada Triwulan III 2025 dibandingkan triwulan sebelumnya.
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Malang menunjukkan peningkatan baik atas dasar harga berlaku (ADHB) maupun harga konstan (ADHK).
Pada Triwulan III 2025, PDRB ADHB tercatat sebesar Rp27.439,66 miliar, sementara ADHK mencapai Rp16.963,91 miliar, meningkat dibandingkan Triwulan II 2025.

Berdasarkan lapangan usaha, sektor tersier masih menjadi penopang utama perekonomian Kota Malang dengan kontribusi 59,09 persen dan pertumbuhan 1,50 persen (q-to-q).
Pertumbuhan ini didorong oleh sektor perdagangan, transportasi, serta jasa lainnya, termasuk peningkatan pengurusan kendaraan baru dan aktivitas perhotelan.
Sektor sekunder berkontribusi 40,69 persen dengan pertumbuhan 1,35 persen (q-to-q), terutama dari industri pengolahan makanan, minuman, dan tembakau.
Sementara itu, sektor primer hanya berkontribusi 0,22 persen dan mengalami kontraksi 3,68 persen (q-to-q).
Pertumbuhan Tinggi dalam Setahun

Secara tahunan (y-on-y), sektor sekunder mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 7,53 persen, disusul sektor tersier sebesar 5,65 persen.
Adapun sektor primer mengalami kontraksi cukup dalam sebesar 15,32 persen, akibat penurunan produksi padi dan sayuran semusim.
Dari sisi pengeluaran, komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga masih menjadi penopang utama ekonomi Kota Malang dengan kontribusi 67,44 persen.
Meskipun pertumbuhannya relatif moderat sebesar 0,34 persen (q-to-q).

Pertumbuhan tertinggi tercatat pada komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,51 persen, didorong oleh meningkatnya realisasi belanja modal pemerintah dari APBD dan APBN.
Konsumsi akhir pemerintah juga tumbuh 4,96 persen, seiring meningkatnya belanja pegawai, belanja barang, serta bantuan sosial pada Triwulan III 2025.
Dengan dominasi sektor tersier dan menguatnya investasi pemerintah, BPS menilai perekonomian Kota Malang memiliki fondasi yang cukup kuat. Terkhusus dalam menjaga momentum pertumbuhan pada triwulan berikutnya.
Penguatan sektor produktif dan pemulihan sektor primer menjadi tantangan sekaligus peluang strategis dalam menjaga keseimbangan pertumbuhan ekonomi daerah.








