Malanginspirasi.com – Momentum Ramadan dan Idulfitri 2026/1447 H diprediksi memicu lonjakan tajam transaksi digital di Indonesia, seiring pergeseran perilaku konsumen ke pembayaran non-tunai dan belanja online.
Data industri mencatat peningkatan hingga 76% pada transaksi e-commerce selama periode ini, dengan UMKM sebagai penggerak utama. Bank Indonesia (BI) bahkan menargetkan 17 miliar transaksi digital sepanjang 2026. Ekspansi QRIS ke 60 juta pengguna turut mempercepat adopsi selama bulan suci.
Peningkatan ini bukan sekadar prediksi; tren historis menunjukkan Ramadan sebagai katalis utama.
Pada tahun lalu, transaksi digital Pegadaian saja melonjak 324% year-on-year (YoY). Transaksi mencapai 34 juta transaksi, didominasi investasi emas digital menjelang Lebaran.
Operator telekomunikasi seperti XL Axiata, Telkomsel, dan Indosat memproyeksikan kenaikan trafik data 8%-14% dibanding hari biasa. Terutama akibat video streaming, media sosial, dan pembayaran digital selama arus mudik dan silaturahmi.
“Peningkatan terutama didorong oleh layanan video streaming, media sosial, pesan instan, serta pembayaran digital,” kata Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi.
Dari sisi ritel, Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) memperkirakan transaksi mencapai Rp50 triliun selama Lebaran, naik 10-15% YoY. Hal ini didukung pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) dan fenomena “rojali” (rombongan jalan-jalan).
Lebih Efisien
Meski BI menyiapkan uang tunai Rp185,6 triliun—naik dari Rp180,9 triliun tahun lalu—otoritas moneter mendorong masyarakat beralih ke digital untuk efisiensi, seperti BI-FAST dan QRIS.
“Kami imbau manfaatkan transaksi pembayaran digital melalui mobile dan internet banking,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ricky Gozali.
Di sektor e-commerce, platform seperti Tokopedia dan TikTok Shop mencatat lonjakan permintaan sejak awal Ramadan, dengan fokus pada produk musiman seperti fashion, makanan, dan hampers.
Executive Director Tokopedia & TikTok E-commerce Indonesia, Stephanie Susilo, menyatakan momentum ini krusial bagi UMKM, yang diharapkan mendongkrak pertumbuhan ekonomi digital nasional.
Namun, tantangan seperti bottleneck logistik dan risiko keamanan siber tetap mengintai, memerlukan kewaspadaan dari konsumen dan regulator.







