Jelang OSI 3 Pada 4 Oktober, SMA Taman Harapan Malang Libatkan OSIS dan Matangkan Fasilitas Peserta

Event-Agenda35 views

Malanginspirasi.com – SMA Taman Harapan Malang kembali dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Omni Local Competition (OLC) Malang bersama Omni Sains, pada Minggu, 4 Oktober mendatang.

Ajang kompetisi akademik ini menandai kerja sama ketiga kalinya antara pihak penyelenggara dengan sekolah, setelah sebelumnya sempat dilaksanakan pada Mei dan Agustus 2026.

Kepala SMA Taman Harapan Malang, Palupi Yamini, S.Pd menyatakan bahwa persiapan teknis dan logistik telah dimatangkan dengan melibatkan para guru pengawas serta pengurus OSIS.

Dalam pelaksanaannya, siswa OSIS akan ditugaskan sebagai tenaga bantuan lapangan atau splinter yang sigap menunjang mobilitas pengawas di kelas.

Kepala SMA Taman Harapan Malang Palupi Yamini S.Pd (Tri Sukma)

“Jadi selain guru yang menjadi pengawas, para siswa anggota OSIS juga diperlukan bergerak cepat) di luar ruangan. Kalau pengawas di dalam butuh tambahan soal atau kekurangan medali, siswa OSIS ini yang akan bergerak ke sana,” ungkap Palupi.

Ia menambahkan bahwa pelibatan siswa ini sekaligus menjadi ruang edukasi praktis dalam manajemen acara.

“Ini semacam pendidikan juga. Suatu saat mereka jadi panitia apapun, ibaratnya menjadi event organizer (EO), mereka sudah terbiasa tanggap dan cekatan membantu orang yang sedang repot,” jelasnya.

Sebagai tuan rumah, SMA Taman Harapan juga telah menerapkan sejumlah hasil evaluasi krusial dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu perbaikan fasilitas yang paling ditekankan adalah penyediaan ruang tunggu bagi orang tua peserta.

Baca Juga:

Giat OLC di SMA Taman Harapan Malang Jaring 350 Peserta

Berbekal pengalaman masa lalu, area transit orang tua yang awalnya berada di sekitar tangga kini direlokasi ke zona yang lebih nyaman di area kantin.

“Dulu orang tua banyak protes karena menunggu di sana itu panas. Sekarang sudah ada tempat duduk dan tempat yang tidak panas. Hal ini kelihatannya sepele, tapi pengaruhnya sangat besar,” ujar Palupi.

Palupi juga menyoroti kendala teknis pada masa lalu ketika lonjakan peserta pendaftaran langsung (on the spot) mengakibatkan kerusakan printer atau mesin pencetak sertifikat.

“Solusinya adalah dengan mengirimkan sertifikat ke rumah peserta sehingga tidak perlu lagi mencetak sertifikat di lokasi bagi para peserta dan pemenang.

Hal ini, katanya, juga menjaga perangkat elektronik sekolah dari kerusakan.

Bagi SMA Taman Harapan, menjadi tuan rumah ajang berskala besar ini bukan sekadar penyediaan sarana, melainkan langkah strategis untuk memperkuat eksistensi institusi di mata masyarakat.

“Selama ini kan banyak orang mengira gedung kami hilang atau tutup. Dengan adanya orang yang datang ke sini, mereka bisa melihat, ‘Loh, sekolah ini masih ada dan masih aktif berkegiatan’. Bagi kami, tamu itu adalah rezeki,” kata Palupi.

Dengan hadirnya ratusan peserta kompetisi dari tingkat SMP, SMA Taman Harapan turut memanfaatkan agenda OMNI Sains ini sebagai ajang promosi pengenalan lingkungan sekolah.

Pihak sekolah berencana membagikan brosur informasi pendaftaran kepada para peserta jenjang menengah pertama, dengan harapan dapat menjaring minat calon peserta didik baru di masa mendatang.

 

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *