Tawa, Tantangan, dan Pelajaran Tak Terlupakan Mahasiswa AM UM SMK Terpadu Al-Ishlahiyah

Malanginspirasi.com – Program Asistensi Mengajar (AM) yang diselenggarakanan oleh UM menjadi ruang belajar kedua bagi mahasiswa, terkhususnya bagi mereka yang berada di SMK Terpadu Al-Ishlahiyah. Selama empat bulan, berbagai cerita terekam. Mulai dari ketakutan hari pertama, momen momen lucu yang mengundang gelak tawa, tantangan yang menuntut kesabaran, hingga pelajaran hidup yang tak diajarkan saat duduk di ruang kelas sebagai mahasiswa.

Kesan Pertama: Diluar Ekspektasi!

Pengalaman pertama memasuki kelas menjadi momen campur aduk. Rasa takut hingga tangan serasa beku dialami oleh ke-enam mahasiswa, yakni Natasya, Niken, Rizkha, Ryo, Imel, dan Tamara.

Rasa ketakutan yang dialami bahkan sampai membuat Tamara mendramatisir pengalaman pertamanya, “tangan ku dingin banget, mau mati rasanya.”

Kesan dramatis ini disebabkan oleh kelas besar yang memiliki jumlah siswa sebanyak 43. Sangat besar hingga membuat Ryo kehilangan kata-kata. Pemikiran akan model, strategi, hingga media pembelajaran efektif untuk kelas besar memenuhi kepala.

Imel, Niken, dan Natasya sempat ketakutan kelas akan berjalan tak kondusif.

Namun, ketakutan itu pudar dengan terpatahkannya ekspektasi kelas akan berjalan dengan banyak celotehan siswa. Realita siswa yang menyimak dan aktif dalam Kegiatan Belajar Mengajar menumbuhkan semangat mengajar mahasiswa.

“Melihat mereka (para siswa) semangat mengerjakan tugas yang aku siapkan, bikin aku ikut semangat juga!,” ujar Imel.

Tawa di Ruang Kelas
Suasana kegiatan pembelajaran di dalam kelas. (Rizkha)

Dibalik kesungguhan mahasiswa AM dalam mengajar, terselip kisah-kisah yang mengundang tawa.

Natasya menceritakan momen kesulitan menghidupkan sound system, bahkan rela berkutat dengan tombol-tombol yang Ia sendiri tak tahu fungsinya hanya untuk mendengarkan.

“Bu bluetooth-nya belum hidup,” kata salah satu murid.

Berbeda dengan Imel yang mengalami momen lucu dan panik saat seorang siswi tanpa sengaja membuat kantong susu keledainya mbledos dan menumpahkannya di meja komputer disaat keesokan harinya akan digunakan untuk ujian kompetensi.

Dengan gesit Imel membersihkan tumpahan tersebut serta memastikan komputer aman.

Gelak tawa baru keluar saat menyadari kepanikan yang ia alami beberapa saat lalu, “alhamdulillah-nya komputernya aman dan akhirnya kami semprot parfum biar ga bau.”

Di sisi lain, senyum tipis kebingungan muncul di wajah Rizkha saat salah satu siswi salim dibarengi dengan ucapan, “selamat menempuh hidup baru” hanya karena lagu romantis terdengar dari speaker kelas.

Keanehan tersebut, masih tak bisa mengalahkan momen ‘kamu memang dari planet lain’ yang disaksikan oleh Niken. Niken mengingat jelas wajah-wajah para siswi yang iseng menduplikat wajah mereka lewat mesin fotokopi.

“Mereka satu per satu scan wajah mereka di mesin fotokopi kelas, sambil cekikikan,” ujar Niken seraya menggelengkan kepala tak habis pikir.

Tantangan dan Pelajaran Tak Terlupakan

Dibalik tawa yang menggelegar, sudah pasti ada tantangan yang menguji kesabaran. Materi pembelajaran yang harus disesuaikan, latar belakang siswa yang beragam, serta waktu yang terbatas membuat proses mengajar tidaklah mudah. Mendorong strategi kolaboratif team teaching di antara mahasiswa AM. Seperti yang dilakukan oleh Natasya dan NIken, “satu orang bagian di depan menjelaskan materi, sedangkan yang lain bagian keliling kelas untuk membantu murid secara bergilir.”

Menyadarkan mahasiswa AM bahwa sekecil apapun informasi yang kita sampaikan bisa berdampak besar bagi siswa.

Tamara dan Imel sepakat bahwa beban luaran AM (artikel ilmiah, publikasi media massa, laporan, video profil sekolah, dan naskah akademik) sangatlah berat. Apalagi dengan adanya tuntutan mengikuti mata kuliah dan kerja.

“Sekolah kita masuk 6 hari kerja, jadi semua tanggung jawab tumpang tindih,” tambah Tamara.

Mendorong mahasiswa untuk belajar mengelola waktu, menentukan prioritas, dan fokus atas target.

Aku, Seorang Guru
Mahasiswa AM UM mengajar kelas X MP SMK Terpadu Al-Ishlahiyah (Rizkha)

Semua pengalaman yang dialami oleh mahasiswa AM menyadarkan mereka akan peran penting seorang guru yang membawa tanggung jawab besar. Kebanggaan yang muncul saat melihat hasil belajar siswa memberikan rasa lega bagi mahasiswa akan transfer ilmu yang berhasil.

Menjadi seorang guru tak akan utuh hanya dengan melihat nilai sempurna siswa, melainkan saat siswa mengakui dan menginginkan mereka sebagai guru.

Panggilan Bu/Pak Guru yang mengetuk hati, punggung tangan yang anggap barang suci, dan permintaan untuk mengajar di sekolah lagi menjadi titik balik.

“Itu titik yang bikin aku sadar kalau, aku seorang guru,” jelas Tamara.

Terima Kasih Telah Diterima

Hanya ucapan terima kasih yang dilontarkan oleh para mahasiswa AM di akhir wawancara.

Ryo bahkan meminta maaf.

“Kami baru menguasai teori, mohon dimaklumi kekurangan kami,” ucapnya.

Rizkha menambahkan dengan tulus.

“Terima kasih sudah menerima dan menghargai kami, meski kami belum sempurna. Semoga ada sedikit perubahan baik yang kami bawa,” tuturnya.

Asistensi Mengajar bukan sekadar kewajiban bagi mahasiswa UM, tapi perjalanan menjadi manusia pembelajar yang sesungguhnya.

Sebuah kisah tentang tawa, tantangan, dan pelajaran yang akan hidup dalam ingatan mereka selamanya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *