Malanginspirasi.com – Layar sentuh senilai puluhan juta rupiah itu terpasang di depan kelas.
Tapi yang tampil di atasnya hanya slide PowerPoint. Guru berdiri, membaca poin demi poin.
Siswa duduk, mencatat. Tidak ada yang menyentuh layar. Tidak ada interaksi. Persis seperti saat proyektor masih jadi andalan.
Inilah ironi yang terjadi di banyak kelas hari ini. Investasi Besar, Hasil Belum Optimal
Pemerintah dengan serius mendorong digitalisasi pendidikan.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menargetkan setiap sekolah memiliki enam unit Interactive Flat Panel (IFP) pada akhir 2027, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Program ini bukan wacana. Dilansir dari Tempo Kemendikdasmen distribusi dimulai pada 15 Agustus 2025 untuk 288.865 sekolah, dan per November 2025 sudah mencapai 173 ribu sekolah atau 75 persen dari total target tahun ini.
Harga satu unit IFP di pasaran Indonesia berkisar antara Rp35 juta hingga Rp75 juta, tergantung merek dan spesifikasi.
Ini bukan angka kecil. Ini investasi negara yang seharusnya mengubah cara siswa belajar, bukan sekadar mengganti layar proyektor dengan layar yang lebih mahal. Suara.com
Sayangnya, Di Lapangan Ceritanya Berbeda. Layar Canggih, Cara Mengajar Sama
Bayangkan sebuah kelas di salah satu SMP Kabupaten Malang. IFP sudah terpasang.
Guru membuka laptop, menghubungkan ke IFP, lalu menampilkan slide materi. Satu arah.
Siswa hanya menatap dan menulis dari kursi masing-masing. Tidak ada yang dipanggil ke depan untuk menyentuh layar. Tidak ada kuis interaktif. Tidak ada simulasi. Tidak ada kolaborasi digital.
Layar itu hanya jadi proyektor mahal
Dalam jurnal yang ditulis oleh (Aryadi Nursantoso, 2025) pendidikan menyarankan guru untuk tidak hanya menggunakan IFP sebagai media presentasi satu arah, tetapi mengoptimalkan fitur multitouch dan aplikasi pihak ketiga untuk menstimulasi kemampuan eksplorasi mandiri siswa. Peneliti juga menekankan perlunya pelatihan berkelanjutan yang berfokus pada integrasi pedagogis, bukan sekadar pengoperasian teknis perangkat. a
Artinya, masalah ini sudah diidentifikasi oleh akademisi. Tapi perubahan di kelas belum mengikuti.
IFP Bukan Proyektor. Jauh Lebih dari Itu
IFP dan proyektor bukan perangkat yang setara. Keduanya berbeda secara fundamental.
Fungsi IFP di sekolah mencakup kemampuan menulis dan menggambar langsung di layar menggunakan jari atau styluspen, mengakses internet dan aplikasi edukasi, serta berkolaborasi dengan siswa dalam membuat berbagai macam model seperti diagram, mind mapping, atau anotasi secara langsung.
IFP juga mendukung pembelajaran aktif, kolaboratif, hingga hybrid learning.
Dengan fitur layar sentuh dan kemampuan multi-user, siswa bisa langsung terlibat dalam proses belajar.
Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi. Murid bisa aktif menulis, menggambar, dan menjawab soal langsung di layar, inilah yang dinamakan interaktif.
Melansir dari CMI LED, studi di sekolah internasional menunjukkan penggunaan IFP meningkatkan partisipasi siswa hingga 40 persen.
Guru melaporkan siswa lebih antusias dan termotivasi mengikuti pelajaran. Angka 40 persen bukan angka yang bisa dikatakan kecil. Itu menunjukan perbedaan antara siswa yang pasif dan siswa yang benar-benar belajar.
Akar Masalahnya: Pelatihan yang Tidak Memadai
Mengapa IFP masih dipakai seperti proyektor? Jawabannya sederhana: banyak guru belum tahu cara memaksimalkan fiturnya.
Distribusi fisik IFP ke 288 ribu sekolah adalah pencapaian logistik yang patut diapresiasi.
Namun terdapat catatan kritis: investasi besar ini bisa berakhir sebagai pemborosan anggaran jika tidak disertai peningkatan literasi digital guru secara menyeluruh.
Bahkan bila perlu Kepala sekolah harus mengingatkan secara khusus agar guru mengintegrasikan IFP dalam pembelajaran harian, bukan hanya pada momen tertentu, dan mengikuti pelatihan internal terkait pemanfaatan fitur-fiturnya.
Ini sinyal yang tidak bisa diabaikan. Ketika kepala sekolah harus mengingatkan hal paling dasar ini, artinya distribusi perangkat berjalan lebih cepat dari distribusi pengetahuan.
Teknologi Tidak Bisa Bekerja Sendiri
Masalah ini bukan soal guru yang malas atau tidak mau berubah atau bahkan umur yang sudah tua. Banyak guru mau, tapi tidak diberi ruang dan waktu yang cukup untuk belajar.
Mereka sudah disibukkan administrasi, kurikulum yang berganti, dan beban mengajar yang tinggi. Teknologi tidak otomatis mengubah kualitas pembelajaran.
Yang mengubah kualitas pembelajaran adalah cara guru menggunakan teknologi itu. IFP hanyalah alat.
Efeknya bergantung pada siapa yang memegangnya dan bagaimana cara ia menggunakannya. Pemerintah sudah benar mendorong digitalisasi.
Tapi hilirisasi program ini perlu diperkuat, distribusi IFP harus diiringi program pelatihan yang terstruktur, bukan sekadar buku panduan yang diunduh dari tautan.
Target enam IFP per sekolah pada 2027 adalah langkah ambisius. Tapi angka enam tidak akan berarti banyak jika cara penggunaannya masih sama seperti lima tahun lalu.
Yang dibutuhkan sekarang bukan lebih banyak perangkat. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang mendukung berbagai aspek, mulai dari pelatihan guru yang berkelanjutan, kurikulum yang dirancang untuk pembelajaran interaktif, dan evaluasi nyata terhadap cara IFP digunakan di kelas.
Siswa Indonesia berhak belajar dengan cara yang benar-benar interaktif. Bukan hanya duduk menatap slide yang berganti.
IFP sudah ada di depan kelas mereka. Tugas penting sekarang adalah memastikan potensinya tidak tidur begitu saja di balik layar kaca itu.
* Tulisan ini merupakan kontribusi dari Mahasiswa Prodi PPKn, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang








