MALANGINSPIRASI.COM – Fakultas Sains dan Teknologi (FSTem) Universitas Brawijaya (UB) menegaskan pentingnya mengintegrasikan ilmu dasar (basic science) dengan applied science dan engineering agar inovasi benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa.
Hal ini disampaikan Ketua Panitia Prof. Akhmad Sabarudin, S.Si., M.Sc., Dr.Sc acara 14th Basic and Applied Science International Conference (BASIC) yang digelar di Hotel Ijen Suites Resort & Convention, Malang, Kamis 15 Oktober.
Bertema “Advancing Mathematics, Science and Technology for Research and Sustainable Development”, acara ini menekankan bahwa fundamental sains saja tidak cukup.
“Kalau kita hanya berbicara tentang fundamental science itu saja, mungkin hanya pada tahap utama teknologisnya yang mendasar. Kemudian bagaimana untuk dinasihati ke depan? Sehingga apabila kita mengkombinasikan, mengintegrasikan antara science dan technology, science dan engineering disebutnya applied science, maka apa yang diinginkan oleh pemerintah saat ini bisa terwujud,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pengembangan dari basic science menjadi fondasi penting.
“Kita mengembangkan sesuatu yang dari dasar, misalkan dalam bidang kimia, dalam biologi, hingga sampai nanti menuju inovasi yang sangat berguna bagi masyarakat dan bangsa. Itu bisa terwujud, jadi tidak akan terputus. Nah, itulah kenapa pengembangan dari basic science itu memang menjadi suatu fondasi yang sangat penting, “lanjutnya.
Baca Juga
Perkuat Sektor Otomasi, FSTeM UB Gandeng PT TOP Gelar Innotech Workshop
Prof. Sabarudin juga menyoroti ketergantungan teknologi Indonesia terhadap luar negeri.
“Apabila apa yang ada saat ini, kita umumnya teknologi hanya mengambil dari luar, akibatnya apa? Terus kita tergantung, melingkar, tergantung dari luar. Di sini maka harus diintegrasikan, dari science hingga sampai ke teknologi menjadi satu kesatuan.”
Menurutnya, FSTem Universitas Brawijaya menjadi fakultas pertama yang mengintegrasikan basic science, applied science, hingga engineering.
“Saya pikir FSTeM itu merupakan fakultas yang pertama, menurut saya, di Universitas Brawijaya, yang mengintegrasikan hal ini, mulai dari basic science, applied, hingga sampai ke engineering-nya.”
Konferensi BASIC ke-14 melibatkan lima negara yakni Indonesia, Thailand, Malaysia, Mesir, dan Jepang.
Prof. Sabarudin mengungkapkan bahwa diskusi sudah digelar sejak malam sebelumnya mengenai pengembangan riset bersama.
Ia menyoroti keunggulan Indonesia yang memiliki sumber daya manusia (SDM) berlimpah, namun masih perlu peningkatan kualitas di bidang STEM.
“Salah satu keuntungan Indonesia itu memiliki sumber daya yang sangat banyak. Namun ada satu kekurangan di situ, yaitu bagaimana kita meningkatkan kualitas SDM kita. Kita mungkin punya SDM yang banyak, di sana SDMnya sedikit, tapi mereka memiliki fasilitas riset yang sangat bagus.”
Ia menambahkan pentingnya pendekatan lokal yang berdampak global.
“Perkembangan ke depan itu secara global, kita melakukan aksi yang lokal, kita melakukan sesuatu yang mungkin di Indonesia bersifat lokal, tetapi memiliki dampak yang global.”
Menurutnya, penguatan ekosistem penelitian harus dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antarlembaga, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan inovasi yang mampu menjembatani kebutuhan akademik dan industri.







