Soroti Kasus Bullying Anak SMP Malang, Dosen Psikologi Unmer Tekankan Pentingnya Peran Sekolah dan Orang Tua

Malanginspirasi.com – Kasus bullying terhadap seorang siswa SMP di Kota Malang yang sempat viral sekitar satu bulan lalu yang sempat menjadi perhatian masyarakat.

Hal ini disampaikan oleh Lutfi Hidayati Fauziah, S.Psi., M.Si., dosen Psikologi Universitas Merdeka Malang (UNMER).

Ia menilai bahwa kasus perundungan seperti ini bukan lagi hal baru, bahkan cenderung meningkat baik dari jumlah kasus maupun bentuk kekerasannya.

“Bullying ini masih menjadi isu yang tinggi di Malang. Di mana mana masih ada saja kasus kasus bullying,” ujarnya di Fakultas Psikologi UNMER Malang.

Pencarian Jati Diri

Menurut Lutfi, perilaku bullying pada remaja berkaitan erat dengan fase perkembangan psikologis mereka.

Masa SMP dan SMA adalah fase pencarian identitas, di mana remaja ingin diakui, ingin terlihat, dan ingin memperoleh perhatian dari teman sebaya.

“Remaja itu butuh pengakuan. Bahkan sekarang kan mereka membentuk grup tapi arahnya lebih ke negatif. Salah sedikit langsung dipanggil, langsung dieksekusi untuk bully,” jelasnya.

Soroti Kasus Bullying Anak SMP Malang, Dosen Psikologi Tekankan Pentingnya Peran Sekolah dan Orang Tua
Kasus bullying anak SMP di Malang karena asmara. (Facebook/Balai Polres)

Menyikapi kasus pada anak SMP ini ternyata dipicu kesalahpahaman terkait asmara.

Korban yang saat itu menjadi pengurus sekolah, hendak menagih uang kepada teman laki lakinya.

Kemudian korban memanggil teman laki lakinya tersebut menggunakan panggilan “sayang”, karena hal tersebut memicu kecemburuan dari salah satu pelaku yang menyukai anak laki laki itu.

Hal kecil seperti itu kemudian berkembang menjadi tindakan kekerasan setelah diceritakan ke teman temannya.

Menurut Lutfi, situasi seperti ini semakin mudah terjadi karena sistem dukungan yang salah, baik dari teman sebaya maupun dari rumah.

Sebagian remaja tumbuh tanpa kontrol emosi yang baik, tanpa empati, dan kurang mendapatkan contoh positif dari keluarga.

“Sekarang itu kok semakin membabi buta ya. Tidak ada empati, tidak ada rasa kasihan. Mereka berani mukul, nendang, menjambak. Dulu paling ejek ejekan, tapi sekarang sudah berani menyakiti fisik, bahkan sampai ada yang bunuh,” ungkap Lutfi dengan perasaan miris.

Soroti Kasus Bullying Anak SMP Malang, Dosen Psikologi Tekankan Pentingnya Peran Sekolah dan Orang Tua
Ilustrasi konsep bullying dengan dua anak menggertak gadis di sekolah. (Pixabay/Aleksei Naumov)
Dampak Pembullyan

Lutfi menjelaskan bahwa dampak bullying bagi korban bisa sangat panjang. Korban dapat mengalami stres, takut, cemas, hingga depresi.

Dalam beberapa kasus, korban menarik diri dari lingkungan sosial, tidak mau sekolah, dan bahkan memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup.

“Dampaknya panjang sekali. Bisa trauma, depresi, bahkan pada titik terburuk korban bisa bunuh diri,” tambahnya.

Sementara bagi pelaku, tindakan bullying juga bisa menimbulkan dampak psikologis juga.

Setelah viral, pelaku biasanya dihantui rasa takut dan bersalah. Namun jika tidak ditangani, pelaku bisa menjadi semakin agresif atau mengulangi tindakannya.

Tindak Lanjut Pihak Sekolah dan Orang Tua
Soroti Kasus Bullying Anak SMP Malang, Dosen Psikologi Tekankan Pentingnya Peran Sekolah dan Orang Tua
Lutfi Hidayati Fauziah (Kiri) bersama Malang Inspirasi (Kanan). (Riznima Azizah Noer)

Menurut Lutfi, sekolah memegang peran besar dalam mencegah bullying. Apalagi banyak kasus terjadi di lingkungan sekolah, mulai dari jam pulang, area sekitar sekolah, hingga di dalam ruang kelas.

“Sekolah sangat penting. Seharusnya ada Satgas Anti Bullying yang benar benar aktif. Disosialisasikan ke siswa, jobdesknya jelas, ada patroli, ada CCTV,” imbuhnya.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah sebenarnya sudah menyediakan modul pembinaan karakter dan pencegahan bullying melalui kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Namun implementasinya kembali pada kualitas SDM di sekolah.

“Sistemnya sudah ada, tapi tergantung SDM nya. Kalau sekolah sampai ada kasus seperti ini, ya sekolah juga terdampak. Reputasinya menurun,” tegasnya.

Baca Juga:

10 Langkah Lindungi Anak dari Bullying, Salah Satunya Bangun Kepercayaan Diri

Ini yang Perlu Dilakukan Orangtua Saat Anak Mengalami Bullying!

Selain sekolah, orang tua juga menjadi kunci pencegahan. Lutfi menekankan pentingnya menanamkan kasih sayang, kepercayaan diri, batasan perilaku, serta kemampuan mengelola emosi sejak dini.

“Kalau rumahnya kuat, anaknya penuh kasih sayang dan percaya diri, di luar pun dia kuat. Tidak mudah tergoyahkan atau mencari pengakuan dari lingkungan negatif,” jelas Lutfi.

Sebagai penutup ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak diam ketika melihat indikasi kekerasan.

“Kadang masyarakat melihat tapi diam saja. Padahal kita semua punya peran agar kasus seperti ini tidak terulang,” tutupnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *