Menurut Widodo, PLTS yang akan dipasang di Ranu Kumbolo terdiri dari satu set PLTS off grid (tanpa sambungan PLN). Rencana menggunakan 4 buah baterai VRLA, per baterai 12Vdc 100 ampere-jam (Ah). Bila ditotal semua baterai memiliki kapasitas 4800 Watt-Jam yang setara 4,8 kWh.
Baterai tersebut mampu bertahan tiga tahun, dan sesudahnya harus dilakukan penggantian, atau baterai bisa di upgrade ke jenis LiFePo4 kapasitas 5kWh yang bisa bertahan hingga 10 tahun atau bahkan lebih. Solar cell/ panel surya yang dipakai sebanyak 16 lembar, masing-masing berkapasitas 200 Wp. Sehingga total dari kapasitas solar cell 3,2 kWp.
“PLTS ini bisa dioperasikan 24 jam penuh. Untuk menghindari pemborosan penggunaan energi listrik karena kelalaian penggunaan di siang hari, maka kami memasang timer untuk lampu. Kalau untuk pompa tidak dibatasi penggunaannya, namun tetap dipasang alat pengontrol air agar air tidak terbuang sia-sia,” jelasnya.
Untuk pembuatan PLTS ini Tim Teknik Elektro ITN Malang sebelumnya telah membuat desain dengan mempertimbangkan kondisi lokasi, konstruksi PLTS, dan memperhitungkan kemungkinan adanya aspek vandalisme di lokasi.
Setelah desain jadi, dan belanja bahan dan material PLTS, maka dilakukan perakitan mock-up komponen selama dua hari di laboratorium Teknik Elektro ITN Malang. Sementara untuk uji coba hanya membutuhkan waktu sehari.
“Untuk perakitan, dan uji coba dilakukan di Laboratorium Teknik Elektro. Setelah PLTS dipastikan berfungsi maka rakitan dibongkar kembali dan dilakukan packaging dengan berat dan ukuran yang sesuai untuk dapat dimobilisasi ke Ranu Kumbolo,” katanya.
Mobilisasi peralatan dari ITN Malang menuju Ranu Kumbolo akan transit di Ranu Pane. Selanjutnya komponen dan peralatan PLTS nantinya akan dimobilisasi dari Ranu Pane ke Ranu Kumbolo dengan cara dipikul dibantu tim relawan yang sudah berkoordinasi dengan Himakpa dan Gimbal Alas.
Sesampainya di lokasi PLTS akan dilakukan setup permanen, kemudian PLTS diuji kembali dibawah supervisi dari mahasiswa asisten Laboratorium Teknik Elektro ITN Malang. Mahasiswa ini sudah memiliki keahlian dalam melakukan proses konstruksi dan pengujian PLTS.
Untuk kelancaran perakitan di Ranu Kumbolo, Teknik Elektro juga mentraining anggota Himakpa dan pendaki gunung lainnya di Laboratorium Energi Baru Terbarukan (EBT) Prodi Teknik Elektro ITN Malang.
“Kami rasa untuk perencanaan sudah cukup, tapi memang arus diuji langsung dilapangan. Semoga segera terpasang, dan tahan lama, serta membawa banyak manfaat,” harapnya.







