Malanginspirasi.com – Sejak dulu, kesenian Bantengan di Jawa Timur tak bisa dipisahkan dari ritual dan persembahan.
Sesajen atau sandingan menjadi bagian penting dalam setiap pertunjukannya. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan penguasa alam, sesajen juga berfungsi untuk menenangkan para pemain yang mengalami kesurupan atau ndadi dan kalap agar pertunjukan berjalan lancar.
Sesajen yang digunakan untuk pertunjukan kesenian tradisi Bantengan memiliki beragam isi, mulai dari hasil bumi seperti padi, Janur, dan pisang, hingga makanan seperti ketan dan kelapa.
Bahkan, uang dan bunga juga turut dimasukkan sebagai pelengkap. Di balik tradisi ini, ada sisi ekonomi yang berjalan.
Salah satunya adalah Mistin, yang akrab disapa Mak Nun Kembang. Di kediamannya di Desa Pakisjajar, Kecamatan Pakis Kabupaten Malang, ia menjual berbagai perlengkapan untuk sandingan Bantengan dan Jaran Kepang.
“Start harga sandingan untuk Bantengan dan Jaran Kepang mulai dari Rp200.000, itu sudah lengkap,” ujar Mak Nun.
Ia menyebutkan, dengan harga tersebut, pembeli akan mendapatkan paket lengkap berisi cok bakal, dupa, kemenyan, minyak fanbo, dua sisir pisang, badek (minuman dari ketan hitam), dan sudah termasuk ranjang.
Pembeli Mak Nun tidak hanya berasal dari satu desa. Tetapi juga dari berbagai daerah seperti Jabung, Nongkojajar, Plosokerep, Kemantren, Gadingkembar, hingga Sulfat Kota Malang.

Selain sandingan, ia juga menjual bunga untuk ziarah kubur.
“Insyaallah nanti ke depannya saya akan pasang spanduk di depan rumah. Biar orang-orang enggak kesasar,” tambahnya, menunjukkan harapannya untuk memperluas usahanya.
Usaha yang dijalankan Mak Nun ini membuktikan bahwa tradisi dan ekonomi bisa berjalan beriringan. Di mana kebutuhan ritual dari sebuah seni pertunjukan menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.








