Malanginspirasi.com – Mariono, merupakan seorang pengrajin topeng asal Pakisaji, Kabupaten Malang, membagikan perjalanannya sebagai pengrajin sekaligus kegelisahannya terhadap masa depan topeng Malangan.
Ia mulai belajar membuat topeng sejak tahun 1987. Dua tahun kemudian saat masih duduk di bangku kelas 2 SMA, ia sudah bisa menghasilkan topeng Malangan pertamanya, yaitu Topeng Panji.
“Saya mulai belajar bikin topeng itu tahun 1987, cuma bisa buat sendiri itu kelas 2 SMA tahun 1989,” ujar Mariono di kediamannya, Pakisaji.
Sejarah dan Filosofi
Menurutnya, Topeng Panji memiliki nilai sejarah dan filosofi yang panjang. Tokoh Panji dikenal sebagai Panji Asmoro Bangun, dengan nama asli Raden Inu Kertapati dari Kerajaan Kahuripan.
Dinamika sejarah kerajaan di masa itu dimulai dari Kahuripan, Dahanapura, hingga pecahan Panjalu dan Jenggala yang membuat kisah Panji sangat melekat dengan berbagai wilayah di Jawa Timur, termasuk Malang, Surabaya, dan Blitar.
Bahkan, nama daerah seperti Kepanjen berasal dari jejak sejarah Panji (Kepanjian).
Selain kaya sejarah, topeng Malangan juga memiliki ciri khas teknik yang berbeda dari daerah lain. Menurutnya, karakter topeng Malangan adalah perpaduan antara wayang dan bentuk manusia.
“Topeng Malang itu memang benar benar separuh wayang, separuh manusia,” jelasnya.

Hal ini berbeda dengan topeng Solo, Jogja, dan Cirebon yang condong pada bentuk wayang, serta topeng Bali yang lebih realistis menyerupai manusia.
Perbedaan ini, menurutnya, muncul dari kearifan lokal setiap daerah yang memiliki ciri khasnya masing masing.
Tantangan Topeng Malangan
Meski demikian, seni topeng Malangan saat ini menghadapi tantangan besar, terutama dari sisi pasar. Mariono mengakui bahwa daya saing topeng Malangan masih kalah dibanding Bali, Solo, atau Jogja.
“Di Malang, saya rasa marketnya masih kalah dibanding Jogja, Solo, sama Bali,” katanya.
Bapak dari dua anak itu menilai ini karena minimnya destinasi wisata budaya dan rutinitas adat membuat topeng Malangan tidak mendapat panggung sebesar daerah lain.
Baca Juga:
Bangkit dari Tidur Panjang, Wayang Topeng Menak Malang Harus Dilestarikan
Krisis regenerasi juga menjadi masalah yang paling ia rasakan. Dulu, pada pertengahan tahun 1990 an, terdapat sekitar 27 pengrajin aktif di sekitarnya. Kini, jumlah itu menyusut drastis.
“Sekarang tinggal hanya senior saja, beberapa teman pengrajin juga sekarang tinggal sedikit,” tuturnya.
Baginya, kurangnya edukasi dari pemerintah yang berperan dalam merosotnya minat generasi muda.

“Edukasi, pengenalan juga di sekolah sekolah SD atau SMP untuk perkerajin masih sangat kurang,” tutur Mariono.
Ia mengkhawatirkan bahwa jika kondisi ini terus dibiarkan, nilai budaya topeng Malangan bisa hilang.
“Kita akan kehilangan nilai nilai yang sudah ditinggalkan leluhur sebagai jati diri bangsa,” katanya.
Meski prihatin, Mariono tetap setia berkarya. Selain topeng Malangan, ia juga membuat topeng Bali, Jogja, Madura, hingga kreasi wajah lainnya.
“Ada nilai keasikan tersendiri bikin wajah khususnya topeng Malangan,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah dapat memperkuat edukasi budaya sejak dini untuk para generasi muda.
“Harapan saya pemerintah bisa menciptakan atau memberdayakan nilai-nilai edukasi, agar topeng Malang itu sendiri tidak punah dan tidak berhenti pada saya,” tutupnya.








