Malanginspirasi.com – Semangat kebersamaan dan pelestarian budaya lokal membumbung tinggi di Wahana Wisata Ledok Ombo, Desa Wisata Poncokusumo, Kabupaten Malang. Jumat, (15/5/2026), kawasan tersebut menjadi saksi digelarnya Reuni Akbar NAHKODA yang mengusung konsep unik bertajuk Kembol Bujono, sebuah tradisi makan bersama masyarakat setempat.
Ketua Pelaksana Acara, Purna Irawan menjelaskan bahwa agenda ini didesain bukan sekadar untuk tempat berkumpul. Melainkan juga memiliki filosofi mendalam untuk merekatkan hubungan antarpeserta yang mayoritas datang dari berbagai daerah di Indonesia.
“Hari ini sebenarnya adalah kegiatan Reuni Akbar NAHKODA yang bertajuk Kembol Bujono atau makan bareng-bareng di Pendopo Ledok Ombo. Tujuannya sendiri adalah untuk menyatukan kita, di mana simbol dari Kembol Bujono itu adalah makan bersama. Artinya, dalam reuni tersebut terdapat kebersamaan yang melekat dan nantinya akan dikenang seumur hidup oleh peserta yang hadir di sini,” ujar Purna saat ditemui di lokasi acara.
Kemeriahan acara ini merupakan hasil kolaborasi dari berbagai elemen masyarakat. Purna menyebutkan bahwa kesuksesan agenda ini tidak lepas dari gotong royong lintas komunitas yang ada di dalam maupun di luar lingkungan kecamatan.
“Yang terlibat di kegiatan ini ada banyak. Baik itu dari komunitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Poncokusumo, komunitas Bantengan Sadewo Putro Manunggal dari Kecamatan Jabung, komunitas kesenian Karawitan, dan juga UMKM lokal yang ada di Poncokusumo,” tambahnya.

Angkat Potensi Alam dan Kuliner Unik
Pemilihan lokasi di Pendopo Gastronomi Ledok Ombo dinilai sangat selaras dengan visi panitia yang ingin menyuguhkan nuansa otentik pedesaan. Purna berharap, fasilitas pendopo yang terhitung masih baru ini dapat menjadi pemantik ekonomi baru bagi sektor pariwisata daerah.
“Untuk titik lokasinya ada di Wahana Wisata Ledok Ombo, tepatnya di Pendopo Gastronomi Ledok Ombo. Di sini sangat cocok karena memang konsepnya adalah alam dan budaya yang mana akan terus kita tingkatkan. Karena pendopo maupun kegiatan di sini masih baru, harapan kami Desa Wisata Poncokusumo memiliki titik baru untuk pengembangan pariwisata desa,” terang Purna panjang lebar.

Rangkaian acara pun dikemas secara apik dan sarat akan nilai tradisi. Prosesi dimulai dari penyambutan tamu, ritual storytelling (penceritaan) mengenai makna dibalik gerakan Kembol Bujono, hingga pengenalan kuliner tradisional yang mulai langka.
“Rangkaian acaranya dimulai dari penyambutan tamu. Lalu ritual storytelling dari Kembol Bujono tadi, termasuk menyajikan makanan unik khas Desa Poncokusumo yaitu Kolak Goblok. Prosesi makan tersebut juga diiringi dengan musik gamelan. Kemudian ada pembagian doorprize yang mengangkat pertanyaan-pertanyaan unik sehingga peserta bisa tergugah,” papar Purna.
Sebagai gong atau acara puncak, para panitia mempersembahkan pertunjukan seni komunal yang berhasil menyedot perhatian seluruh penonton.
“Terakhir, acara puncaknya adalah pertunjukan kesenian Bantengan atau Mberot dari Dusun Gunung Kunci, Desa Jabung, yakni Sadewo Putro Manunggal,” imbuhnya.

Pesan Kelestarian Budaya
Di penghujung acara, Purna Irawan menyampaikan kesan positif sekaligus harapannya agar kegiatan serupa dapat terus digulirkan secara konsisten demi masa depan pariwisata dan kebudayaan lokal.
“Menurut saya acara ini sangat bagus dan bisa dikembangkan lagi nantinya agar lebih meriah, sehingga lebih banyak lagi tamu yang berkunjung ke Desa Wisata Poncokusumo. Mungkin kita perlu melestarikan budaya kita, terutama kebudayaan asli Indonesia. Di Jawa ini salah satunya ada kesenian Bantengan,” pungkasnya penuh harap.








