Hamparan Rintik, Butik Zero Waste dengan Sentuhan Kain Jumputan

Malanginspirasi.com – Hamparan Rintik, sebuah butik berbasis kain jumputan yang mengusung konsep zero waste, terus berkembang dengan produk-produk uniknya. Didirikan oleh Fikrah Ryanda, butik ini membedakan diri dari brand lain dengan fokus pada teknik ikat celup atau tie-dye, yang dinilai lebih cepat dan mudah diproduksi dibanding batik atau ecoprint.

Salah satu keunikan Hamparan Rintik adalah penggunaan kain bekas dalam produksinya. Fikrah ini mengaku masih sering mengumpulkan kain sprei bekas, mukena, serta potongan kain kecil dari berbagai sumber untuk kemudian diwarna ulang dan disambung menjadi busana baru.

Hal ini menjadikan mayoritas desain baju di butik ini berbentuk kotak-kotak sebagai ciri khasnya.

“Saya juga sering membuka workshop, di mana peserta bisa mendapatkan diskon dengan membawa mukena bekas. Kain-kain ini saya kumpulkan, kemudian diolah lagi sehingga tetap bernilai,” ujar Fikrah.

Hamparan Rintik memproduksi kain dan pakaian berdasarkan pesanan, namun juga memiliki jadwal produksi rutin bulanan. Pola produksinya disesuaikan dengan tenaga kerja yang terbatas, di mana dalam satu bulan butik ini memproduksi kain, dan di bulan berikutnya fokus pada pembuatan pakaian.

Produk utama butik ini adalah outerwear yang sering digunakan untuk acara formal, serta seragam kantor. Seragam kantor dijual mulai dari Rp200 ribu per potong, dengan salah satu klien saat ini berasal dari Jasa Tirta.

Sementara itu, harga pakaian di Hamparan Rintik umumnya dimulai dari Rp150 ribu ke atas.

Berbeda dengan banyak bisnis fesyen lain yang mengandalkan e-commerce dan media sosial, Hamparan Rintik lebih banyak memasarkan produknya secara offline melalui komunitas dan event tertentu.

Selain itu, butik ini juga menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah untuk penyediaan seragam.

“Penjualan lebih cepat lewat komunitas. Kami sering ikut event dan membuka kelas pelatihan. Bahkan sampai menawarkan proposal ke sekolah-sekolah untuk pengadaan seragam,” kata Fikrah. Meski begitu, Hamparan Rintik tetap memiliki akun Instagram sebagai media promosi utama.

Manfaatkan Aneka Jenis Kain

Hamparan Rintik menggunakan berbagai jenis kain, termasuk katun, linen, dan rayon. Proses pembuatannya dimulai dengan pemotongan kain sesuai ukuran, lalu diikat dengan pola tertentu sebelum dicelupkan ke dalam pewarna.

Teknik pewarnaan yang digunakan di butik ini beragam, mulai dari cipratan warna hingga kuasan langsung pada kain.

Yang membedakan produk Hamparan Rintik dengan jumputan lain adalah metode pengikatan kain yang dilakukan dua hingga tiga kali dalam satu proses produksi, sehingga menghasilkan motif yang lebih unik dan berlapis.

Untuk pewarna, butik ini menggunakan dua jenis bahan, yakni pewarna sintetis (naptol) dan pewarna alami seperti daun indigofera serta kayu tingi.

Pewarna alami ini diperoleh dengan cara merebus kayu hingga mengeluarkan warna yang kemudian digunakan untuk mencelup kain, menghasilkan warna-warna khas seperti cokelat dan biru.

Hasil dari batik Hamparan Rintik (Fikrah/Dok Pri)

Sejauh ini, produk Hamparan Rintik masih dipasarkan di dalam negeri, dengan jangkauan paling jauh ke Jakarta melalui berbagai pameran.

Meskipun belum melakukan ekspor dalam skala besar, produk butik ini pernah dibawa sebagai oleh-oleh ke Australia dan Vietnam.

Dengan konsep zero waste yang terus diterapkan, Hamparan Rintik berupaya meminimalisir limbah tekstil dalam produksinya.

“Polanya memang lebih sulit, tapi ini cara saya untuk tetap berkarya dengan modal yang terbatas. Bisa membeli kain saja sudah bahagia,” tutup Fikrah.

Ke depan, Hamparan Rintik berencana memperluas jangkauan pasarnya dengan tetap mempertahankan konsep ramah lingkungan dan memanfaatkan komunitas sebagai jaringan pemasaran utama.

Authors

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *