Malanginspirasi.com – Pada awal Agustus 2026, dua mantan bintang National Basketball Association (NBA) yang secara biologis jelas laki-laki tiba-tiba mengumumkan niat mereka untuk masuk draft Women’s National Basketball Association (WNBA) 2027. Enes Kanter Freedom (tinggi 208 cm) dan Royce White (tinggi 203 cm) secara terbuka “mendeklarasikan” diri sebagai perempuan atau transgender untuk tujuan kompetisi basket profesional wanita.
Enes Kanter Freedom, yang pernah bermain 11 musim di NBA dan dikenal sebagai aktivis, merilis video di media sosial dengan mengenakan hoodie WNBA.
Ia menyatakan telah meninjau pedoman kelayakan liga dan menyimpulkan bahwa jika “hanya dengan menyatakan siapa diri Anda sudah cukup”, maka ia sudah memenuhi semua syarat.
“Saya secara resmi mendeklarasikan diri sebagai prospek WNBA,” katanya.

Ia menekankan bahwa langkah ini bukan untuk mengejek komunitas mana pun. Ia hanya meminta agar aturan yang sama diterapkan secara setara kepada semua orang.
Beberapa jam kemudian, Royce White, mantan pemain NBA yang kini juga kandidat Senat dari Partai Republik di Minnesota, ikut serta.
Dalam wawancara dengan Fox News, ia menyatakan dengan tegas.
“Saya transgender. Saya perempuan. Dan saya mengidentifikasi diri sebagai perempuan kadang-kadang untuk tujuan basket profesional. Jadi saya juga akan mendeklarasikan untuk draft WNBA 2027,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sudah memesan rambut palsu dan dirinya akan “tak terkalahkan” di liga wanita. Ia juga mengancam akan menggugat jika ditolak dengan alasan diskriminasi.
🚨 JUST IN: Former NBA player Royce White just dropped this line on national TV after QUALIFYING for the WNBA Draft
“I’m just having a blast in my feminine era. I never thought that I was a woman.”
“I think it’s only fair I get a chance to play with some of my queens here in… pic.twitter.com/FrJL2vayLe
— Eric Daugherty (@EricLDaugh) August 9, 2026
Protes Berbalut Ejekan
Langkah kedua pria ini bukan muncul dari keyakinan gender yang tiba-tiba berubah secara mendalam. Sebaliknya, ini adalah aksi protes yang dirancang untuk mengekspos dan menguji kebijakan kelayakan WNBA terkait atlet transgender.
WNBA dalam Collective Bargaining Agreement-nya menyatakan bahwa “hanya pemain yang adalah perempuan yang berhak bermain di WNBA”. Namun, dokumen tersebut tidak mendefinisikan secara jelas apa yang dimaksud dengan “perempuan” dan tidak memiliki kebijakan publik yang rinci mengenai atlet transgender atau self-identification.
Aksi ini muncul di tengah perdebatan yang semakin panas di Amerika Serikat mengenai partisipasi pria biologis yang mengidentifikasi diri sebagai wanita di olahraga wanita. Beberapa pemain WNBA dan tokoh liga telah mengeluarkan pernyataan yang mendukung inklusi. Sementara yang lain, termasuk bintang Indiana Fever, Sophie Cunningham, menolak kehadiran atlet transgender di kompetisi wanita.
Freedom dan White memanfaatkan celah bahasa aturan tersebut untuk menunjukkan bahwa jika pengidentifikasian diri saja dianggap sudah cukup, maka secara logika mereka pun berhak ikut.
Kedua mantan pemain NBA ini sebelumnya sudah dikenal kritis terhadap isu ini.
Freedom pernah menyatakan pada 2023 bahwa ia bisa saja “memakai periwig (rambut palsu), mengidentifikasi diri sebagai perempuan, dan mendominasi WNBA”, mempertanyakan keadilan bagi wanita yang telah bertahun-tahun mengejar impian mereka.

Laki-Laki Secara Biologis
Secara biologis, tidak ada keraguan. Keduanya adalah pria dewasa yang telah melalui masa pubertas laki-laki. Mereka memiliki kerangka tubuh, massa otot, kepadatan tulang, kapasitas paru-paru, dan keunggulan fisik lain yang terbentuk oleh testosteron selama masa perkembangan.
Keunggulan fisik pria dewasa atas wanita dewasa dalam olahraga yang mengandalkan kekuatan, kecepatan, dan tinggi badan sudah terdokumentasi secara ilmiah. Bukti ilmiah ini tidak bisa hilang begitu saja hanya karena pernyataan identitas yang dideklarasikan secara sepihak oleh yang bersangkutan.
Ironisnya, “pernyataan tiba-tiba” ini adalah konsep gender self-identification yang dianut oleh sebagian kebijakan olahraga dan lembaga di sejumlah negara Barat. Dalam kerangka ini, identitas gender dipandang sebagai sesuatu yang ditentukan oleh perasaan individu. Bukan lagi oleh seks biologis (kromosom, organ reproduksi, atau karakteristik fisik yang ditentukan sejak lahir).
Ketika aturan olahraga tidak secara tegas mendefinisikan “perempuan” berdasarkan biologi, maka pernyataan lisan atau tertulis dapat dijadikan dasar klaim kelayakan.
Di banyak olahraga, kebijakan mengenai atlet transgender wanita (pria biologis yang bertransisi) masih menjadi perdebatan sengit. Beberapa federasi internasional telah memperketat aturan dengan menuntut penurunan kadar testosteron dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan yang lain lebih longgar atau bahkan hanya mengandalkan pengakuan diri saja.
WNBA sejauh ini belum mengeluarkan kebijakan yang sangat rinci sehingga membuka ruang bagi aksi seperti yang dilakukan mantan bintang NBA, Freedom dan White.
Picu Kontroversi
Langkah keduanya langsung memicu reaksi kuat. Banyak yang melihatnya sebagai sindiran tajam yang berhasil menyoroti inkonsistensi kebijakan. Yang lain menganggapnya sebagai bentuk ejekan terhadap para transgender.
WNBA sendiri belum memberikan respons resmi yang detail. Aturan liga tetap menyatakan hanya perempuan yang boleh bermain, namun tanpa definisi operasional yang jelas. Kontroversi diperkirakan akan berlanjut hingga draft 2027.
Kasus ini menjadi ilustrasi nyata bagaimana pergeseran dari definisi berbasis biologi ke definisi berbasis identitas dapat menciptakan situasi yang sebelumnya dianggap mustahil. Pria dewasa yang tidak menjalani proses transisi medis serius tiba-tiba “memenuhi syarat” untuk kompetisi wanita hanya dengan ngaku-ngaku sebagai wanita.

Bagi para pendukung perlindungan olahraga wanita berdasarkan seks biologis, aksi Freedom dan White adalah peringatan keras, khususnya di dunia olahraga. Akan tetapi bagi pendukung inklusi penuh berdasarkan identitas, ini adalah contoh nyata deklarasi seenak udel yang malah membuat rancu definisi gender.
Apapun hasil akhirnya, satu hal sudah jelas. Tatkala aturan olahraga tidak lagi berpijak pada realitas biologis yang objektif, maka batas antara kategori pria dan wanita menjadi sangat mudah diotak atik dan jadi bahan olok-olok.
Persis seperti yang dilakukan oleh dua mantan center NBA yang “laki banget” dengan tinggi lebih dari dua meter.








