Malanginspirasi.com – Konfederasi Sepak Bola Eropa (UEFA) mengeluarkan reaksi keras dan tegas terhadap rencana Presiden FIFA Gianni Infantino yang ingin membuka pintu bagi investasi swasta di kompetisi-kompetisi unggulan, termasuk Piala Dunia.
Rencana tersebut, yang diumumkan FIFA pada Selasa (28/7/2026), melibatkan pembentukan anak perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Perusahaan ini akan mengonsolidasikan operasi komersial dan penyelenggaraan event FIFA, dengan valuasi awal sekitar USD20 miliar.
FIFA berencana menjual saham minoritas non-pengendali (hingga sekitar 21 persen) kepada investor swasta untuk mengumpulkan dana hingga USD4,2 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk memperbesar pendanaan pengembangan sepak bola bagi 211 asosiasi anggota hingga lebih dari USD10 miliar melalui program FIFA Fast-Forward.
FIFA menekankan bahwa investor luar hanya akan memegang saham minoritas tanpa peran operasional. Sementara FIFA tetap memegang kendali penuh atas tata kelola, kompetisi, kalender pertandingan, serta keputusan olahraga.
Bank JPMorgan disebut sebagai penasihat utama. Adapun Thrive Eternal yang terkait Joshua Kushner disebut sebagai calon pemimpin kelompok investor.
Sebagai informasi, Joshua Kushner adalah saudara kandung Jared Kushner, menantu sekaligus penasihat senior Presiden AS, Donald Trump.
Baca Juga:
Presiden FIFA Sebut Ada Peluang Piala Dunia Diikuti 64 Tim
UEFA “Ngamuk”
Namun, UEFA tidak tinggal diam. Dalam pernyataan resmi yang dirilis segera setelah laporan media muncul, badan pengelola sepak bola Eropa itu menyatakan dengan tegas.
“Ini melewati garis yang tidak pernah boleh dilintasi oleh institusi-institusi yang mengatur sepak bola. UEFA menganggapnya sangat serius. Begitu pula seharusnya setiap asosiasi sepak bola nasional. Begitu pula setiap pemangku kepentingan: liga, klub, pemain, pendukung, pemerintah, dan siapa pun yang peduli masa depan permainan ini.
Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk diperdagangkan—terlebih lagi tanpa transparansi sama sekali mengenai siapa yang memperoleh keuntungan finansial. Tidak ada di antara kita yang menjadi pemilik sepak bola. Sepak bola bukan milik FIFA untuk dijual.”
UEFA statement on The Times article: ⬇️ pic.twitter.com/ye1tjfWRCb
— UEFA (@UEFA) July 28, 2026
Pernyataan tegas tanpa tedeng aling-aling ini mencerminkan kekhawatiran mendalam UEFA bahwa langkah tersebut dapat membuka pintu pengaruh kepentingan keuangan swasta secara permanen terhadap kompetisi paling bergengsi dunia. Sejumlah kalangan di Eropa bahkan menyebut rencana ini sebagai ancaman serius, mirip “bom nuklir” bagi struktur sepak bola yang ada.
Namun FIFA berkelit dengan mengklaim kendali tetap di tangan organisasi sepak bola dunia tersebut.
Rencana FIFA masih memerlukan persetujuan dari asosiasi anggota. Sementara itu, ketegangan antara UEFA dan FIFA yang sudah berlangsung lama kembali memanas, menempatkan masa depan tata kelola sepak bola global dalam ketidakpastian dan kubu-kubuan.








