Malanginspirasi.com – Radja Nainggolan, gelandang berdarah Batak yang sempat bersinar di AS Roma dan Inter Milan, sejak awal karier internasionalnya memilih membela Belgia. Ia debut bersama De Rode Duivels pada 2009 dan mengumpulkan 30 caps sebelum kariernya di level timnas terhenti pada 2018 setelah konflik dengan pelatih Roberto Martinez, termasuk dicoret dari skuad Piala Dunia.
Pada masa puncaknya, ia tidak pernah benar-benar mempertimbangkan opsi Indonesia. Saat pertama kali datang ke Tanah Air pada 2013, organisasi sepak bola Indonesia belum berada di level yang membuatnya tertarik.
Ia mengakui tidak mengenal budaya Indonesia secara mendalam karena ayahnya (Marianus Nainggolan) meninggalkan keluarga sejak ia kecil. Keputusan itu dianggap wajar kala itu. Belgia adalah salah satu kekuatan Eropa, sementara Indonesia dipandang sebagai tim pinggiran.
Namun, seiring waktu, pandangan itu berubah. Setelah pengalaman bermain bersama Bhayangkara FC pada 2023 dan menyaksikan antusiasme suporter serta perkembangan Timnas Indonesia, Radja Nainggolan berulang kali mengungkapkan penyesalan.
Hal itu dikemukakannya dalam wawancara dengan media Belgia Het Nieuwsblad (Oktober 2026).
“Saat itu, saya tidak memikirkan hal itu, tetapi sekarang saya berusia 38 tahun, saya melihat hal-hal secara berbeda. Terutama ketika saya melihat karier internasional saya di sini dan bagaimana berakhirnya di bawah Martinez. Saya bisa saja memiliki karier selama 15 tahun sebagai pemain internasional Indonesia,” tuturnya.
Baca Juga:
Ole Romeny Bagikan Foto-Foto Anak Indonesia, “Kalian Adalah Masa Depan”
Pernyataan serupa sudah ia sampaikan sebelumnya, antara lain pada April 2026. Ketika itu ia menegaskan jika tahu kariernya bersama Belgia akan berakhir pahit, ia akan memilih Indonesia lebih awal.
Permain berjuluk Il Ninja itu juga menyinggung besarnya apresiasi, fanatisme, hingga keuntungan komersial (sponsor mewah) yang diterima pemain keturunan di Indonesia. Hal yang ia rasakan berbeda dibanding di Belgia.
Kesempatan itu kini sudah tertutup. Aturan FIFA tidak memungkinkan pemain yang pernah tampil di level senior untuk satu negara beralih ke negara lain.








