Malanginspirasi.com – Departemen Statistika Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) menyampaikan hasil penelitian bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Malang tentang analisis pemetaan klaster spasial Ekonomi Kreatif (Ekraf) di kantor Bappeda Kota Malang, Senin (05/10/2026).
Hadir dalam kegiatan ini adalah tujuh perwakilan jajaran Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Bappeda Kota Malang serta lima perwakilan dari Departemen Statistika UB yang terdiri dari empat dosen dan satu mahasiswa.
Diskusi dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Bappeda Kota Malang, Yogi Handoyo Waseso, S.Sos., M.Si.
Dalam sambutannya, Yogi menyambut positif kontribusi aktif perguruan tinggi dalam memberikan masukan berbasis riset ilmiah bagi penyusunan kebijakan publik.
Statistisi Muda Bappeda Kota Malang, Riza Saadiah, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa sektor Ekraf memberikan kontribusi penting terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang menjadi salah satu indikator kinerja utama Wali Kota Malang.
Saat ini, Bappeda Kota Malang dan BPS Kota Malang juga berkolaborasi dalam Program Kelurahan Cantik (Kelurahan Cinta Statistik) yang menghimpun data kuesioner Perhitungan PDRB Ekraf dengan bantuan mahasiswa UB dan UM.
“Saat ini hasil Perhitungan PDRB Ekraf Kota Malang masih dalam tahap penyusunan laporan akhir. Kami berharap penelitian bersama dosen Departemen Statistika ini dapat memperkaya analisis hasil lapangan terkait Ekraf di Kota Malang,” ujar Riza.
Perwakilan dosen Departemen Statistika UB, Rahma Fitriani, S.Si., M.Sc., Ph.D., memaparkan riset ini memetakan lima kecamatan di Kota Malang selama kurun waktu empat tahun (2022–2025).
Hasil analisis mengelompokkan Kota Malang ke dalam dua klaster utama.
“Klaster 1 meliputi Kecamatan Klojen dan Lowokwaru yang merupakan pusat kampus dan industri. Sedangkan Klaster 2 mencakup Blimbing, Kedungkandang, dan Sukun yang masih membutuhkan penguatan kapasitas industri,” jelas Rahma.
Pemetaan potensi Ekraf tersebut juga memiliki keterkaitan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Baca Juga:
Gandeng BAPPELITBANGDA Kota Batu, Departemen Statistika FSTeM UB Kembangkan SEPAK TERJANG
Informasi mengenai karakteristik dan potensi ekonomi di setiap wilayah dapat menjadi dasar untuk mendorong pengembangan usaha kreatif, memperkuat kapasitas pelaku usaha, serta mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
Pendekatan berbasis wilayah dalam penelitian ini juga sejalan dengan SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, khususnya dalam mendukung perencanaan pembangunan kota yang mempertimbangkan karakteristik dan potensi masing-masing kecamatan.
Menanggapi hasil tersebut, pihak Bappeda menilai hasil penelitian sesuai dengan kondisi riil di lapangan dan karakteristik 17 subsektor Ekraf. Klaster 1 diidentifikasi sebagai wilayah yang memiliki aktivitas ekonomi digital, termasuk aplikasi dan game developer, serta didominasi sektor kuliner.
Sementara itu, untuk wilayah Kedungkandang di Klaster 2, Rahma menambahkan bahwa kawasan tersebut memiliki modal berupa potensi lahan dan sumber daya manusia yang dapat dikembangkan untuk mendukung kegiatan industri.
Diskusi juga membahas tantangan keterbatasan data akibat dinamisnya pelaku usaha di lapangan, termasuk adanya pelaku Ekraf yang tidak lagi beroperasi.
Untuk mengatasi hal ini, mahasiswa Sains Data UB yang melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Bappeda Kota Malang membantu memetakan persebaran pelaku Ekraf dari data mentah (raw data) hasil riset yang dilakukan oleh Bappeda di tahun 2025, agar informasi tersebut dapat diperbarui secara berkala.
Melihat pentingnya ketersediaan data yang berkelanjutan, Zakaria, S.AP., M.AP., Perencana Muda Subkoor Inovasi dan Daya Saing Daerah Bappeda, mengusulkan agar analisis spasial Ekraf dilakukan secara berkala karena data pelaku ekraf ini bersifat dinamis, dan dibentuk forum bersama untuk mendiskusikan hasil-hasil penelitian.
Kolaborasi antara Bappeda Kota Malang dan Departemen Statistika UB tersebut sekaligus mencerminkan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan mahasiswa memungkinkan hasil penelitian tidak berhenti pada kajian akademik, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai masukan berbasis data dalam perencanaan dan evaluasi kebijakan pembangunan daerah.
Diskusi ditutup oleh Yogi yang menegaskan bahwa Bappeda Kota Malang sangat terbuka terhadap hasil riset perguruan tinggi maupun mahasiswa PKL sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pemerintah.
Kolaborasi ini diharapkan dapat terus berlanjut sehingga pemetaan Ekraf dapat diperbarui secara berkala dan memberikan dasar yang semakin kuat bagi pengembangan ekonomi kreatif serta pembangunan Kota Malang yang berkelanjutan.







