Halloween dan Día de los Muertos, Dua Tradisi Seram dengan Makna Berbeda

Malanginspirasi.com – Akhir bulan Oktober selalu identik dengan warna hitam dan oranye di berbagai belahan dunia.

Dekorasi labu, kostum menyeramkan, dan suasana mistis menghiasi jalanan karena masyarakat Barat merayakan tradisi besar bernama Halloween.

Selain perayaan Halloween yang identik dengan simbol kematian, Masyrakat Meksiko juga merayakan tradisi lain yang juga memiliki kesan “horor”, yaitu Día de los Muertos atau Day of the Dead.

Kedua perayaan besar ini sering dianggap serupa karena kemiripan suasana seramnya, namun sebenarnya memiliki makna dan asal-usul yang jauh berbeda.

Asal Usul dan Sejarah
Perbedaan Halloween dan Día de los Muertos: Dua Tradisi di Balik Nuansa Seram dan Kematian
Trick or treat yang menjadi salah satu ikon di hari perayaan Halloween, dengan saling berbagi permen. (www.adventurebook.com)

Bangsa Keltik kuno menciptapan Halloween melalui festival bernama Samhain.

Acara ini telah berlangsung lebih dari 2.000 tahun lalu di wilayah Irlandia, Skotlandia, dan Inggris.

Festival ini menandai berakhirnya musim panen sekaligus awal musim dingin.

Selain itu, orang Keltik meyakini bahwa malam 31 Oktober sebagai waktu di mana batas antara dunia orang hidup dan roh menjadi tipis.

Mereka percaya arwah orang mati dapat “berkunjung” ke bumi, sehingga mereka menyalakan api unggun dan mengenakan kostum menyeramkan agar roh-roh jahat tidak mengenali mereka.

Tradisi ini kemudian berbaur dengan pengaruh agama Kristen. Ketika gereja menetapkan All Hallows’ Eve (Malam Semua Orang Kudus) pada 31 Oktober, sehari sebelum All Saints’ Day pada 1 November.

Seiring waktu, masyarakat mengenal luas perayaan tersebut dengan nama Halloween seperti sekarang.

Sementara itu, Día de los Muertos (Day of the Dead) berakar dari kepercayaan masyarakat Aztec kuno di Mesoamerika yang telah ada ribuan tahun sebelum penjajahan Spanyol.

Mereka mempercayai bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan bagian dari siklus kehidupan.

Orang mati tidak perlu ditakuti, melainkan dihormati dan dirayakan. Ketika penjajahan Spanyol membawa pengaruh Katolik.

Masyarakat kemudian menggabungkan unsur All Saints’ Day (1 November) dan All Souls’ Day (2 November).

Hasilnya adalah bentuk perayaan unik yang kini dikenal di seluruh dunia.

Perbedaan Halloween dan Día de los Muertos: Dua Tradisi di Balik Nuansa Seram dan Kematian
Perayaan Day of the Death di pemakaman di seluruh Meksiko. (www.wineandspirit.com)
Tujuan yang Kontras

Halloween berfokus pada kengerian, rasa takut, dan hal-hal supernatural.

Masyarakat mengenakan kostum menyeramkan, menghias rumah dengan tengkorak, dan labu berwajah menyeramkan (jack-o’-lantern), serta mengadakan pesta atau trick-or-treat

Tujuan utama perayaan ini adalah menciptakan sensasi menakutkan, meskipun hanya untuk bersenang-senang.

Sebaliknya, Día de los Muertos menghadirkan nuansa penuh kasih dan kegembiraan.

Perayaan ini menjadi momen spiritual untuk mengenang keluarga atau sahabat yang telah meninggal, bukan dalam kesedihan.

Inti dari perayaan terletak pembuatan ofrenda atau altar yang dihias dengan foto, lilin, bunga marigold, dan makanan kesukaan almarhum sebagai bentuk menghormati dan merayakan kehidupan mereka.

Perbedaan Halloween dan Día de los Muertos: Dua Tradisi di Balik Nuansa Seram dan Kematian
Ofrenda atau altar yang disusun untuk mengenang dan menghormati almarhum. (www.skratch.world)
Waktu dan Suasana Perayaan

Halloween dirayakan setiap 31 Oktober, sementara Día de los Muertos berlangsung 1–2 November.

Meskipun waktunya berdekatan dan sama-sama berkaitan dengan roh orang mati, maknanya keduanya sangat berbeda.

Jika Halloween mencerminkan rasa takut terhadap kematian, Día de los Muertos justru mengekspresikan cinta dan pengormatan kepada kehidupan setelah kematian.

Keduanya memperlihatkan dua sisi yang kontras, namun sama-sama mengingatkan bahwa hidup dan mati adalah bagian dari satu lingkaran yang tak terpisahkan.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *