3. Ketidaksiapan Siswa untuk Belajar Mandiri
Kurikulum Finlandia menekankan pada pembelajaran mandiri, di mana siswa didorong untuk mengatur kegiatan belajarnya sendiri. Di Indonesia, sebagian besar siswa masih terbiasa dengan metode ceramah dan pengajaran yang berpusat pada guru. Hal ini menyebabkan mereka kesulitan untuk belajar secara mandiri dan kurang mampu bertanggung jawab atas kemajuan belajarnya.
Dampak Negatif Penerapan Kurikulum Merdeka
Meskipun penerapannya memiliki tujuan yang baik, tapi adopsi ini justru menyebabkan dampak negatif, antara lain:
- Penurunan Kualitas Pendidikan: Tanpa ada penilaian kognitif, siswa cenderung kehilangan motivasi belajar. Sehingga berdampak juga pada kemampuan kognitif siswa.
- Kesenjangan Pendidikan Semakin Nyata: Perbedaan implementasi kurikulum antara sekolah yang memiliki fasilitas dengan sekolah yang masih tertinggal semakin terlihat nyata.
- Guru Terbebani: Kebebasan yang diberikan kepada guru untuk menyusun materi dan metode pembelajaran menjadi beban berat karena kurangnya pelatihan dan dukungan, membuat mereka kewalahan.
Solusi Penerapan Kurikulum Finlandia

Indonesia perlu mempertimbangkan faktor-faktor lokal dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Beberapa langkah yang dapat diambil meliputi:
- Peningkatkan Kualitas dan Pelatihan Guru: Memberikan pelatihan dapat meningkatkan kesiapan dan kualitas guru dalam menerapkan kurikulum.
- Mengintegrasikan Ujian Kognitif sebagai Evaluasi Standar: Meskipun penilaian berbasis tes diminimalisir, tetap diperlukannya evaluasi standar untuk memastikan kompetensi siswa. Sistem penilaian yang berimbang antara tes dan penilaian berbasis proses dapat menjadi solusi.
- Memperkuat Infrastruktur Pendidikan: Pemerintah harus memastikan bahwa semua sekolah memiliki akses yang sama terhadap sarana pendidikan dan sumber daya belajar yang memadai.
Kesimpulan
Adopsi Kurikulum Finlandia melalui Kurikulum Merdeka di Indonesia menghadapi berbagai tantangan besar yang menyebabkan penurunan kualitas pendidikan. Meskipun tujuan awalnya baik, faktor-faktor seperti ketidaksiapan guru dan siswa, ketidakmerataan infrastruktur, serta ketiadaan standar penilaian yang jelas menjadi hambatan utama.
Untuk mencapai hasil yang diharapkan, Indonesia harus menyesuaikan strategi penerapan kurikulum ini dengan mempertimbangkan karakteristik lokal dan meningkatkan kesiapan semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan.







