Bahaya Visual Digital dan Pentingnya Menjaga Pandangan dalam Islam

Malanginspirasi.com – Di era digital saat ini, menjaga pandangan bukan lagi sekadar menundukkan kepala. Saat berada di ruang publik, umat muslim juga harus menjaga tatapan saat di dunia maya. Setiap geseran jari di layar ponsel dapat menjadi ujian kecil antara iman dan keinginan.

Media sosial yang penuh visual sering kali memancing perhatian tanpa kita sadari.

Melihat fenomena ini, Islam telah memberikan panduan yang jelas mengenai pentingnya menundukkan pandangan. Baik saat bertatapan langsung maupun saat berada di jagat maya.

Saat ini, menahan pandangan memang bukan perkara mudah, terutama ketika algoritma media sosial terus menampilkan berbagai konten yang menggugah rasa penasaran.

Namun justru karena tantangan itu besar, nilai ibadahnya pun semakin tinggi.

Dampak Visual Berlebih Terhadap Otak

Dilansir dari Instagram @taulebih.id, penelitian neurosains oleh Kühn & Gallinat (2014) menunjukkan bahwa konsumsi pornografi intensif dapat mengubah struktur dan fungsi otak.

Menurut penelitian tersebut, area otak yang mengatur rasa senang mengalami penyusutan volume.

Juga aktivitas otak yang merespons rangsangan seksual melemah dan koneksi ke bagian otak yang berfungsi untuk kontrol diri cenderung menurun.

Penelitian di atas menunjukkan bahwa paparan visual berlebih, meski bukan pornografi secara eksplisit.

Tetap dapat menurunkan sensitivitas otak terhadap rangsangan normal dan melemahkan kontrol diri.

Rangsangan berlebihan yang terus-menerus di media sosial dapat membuat otak terbiasa dengan impuls cepat dan instan.

Sehingga kebiasaan ini secara tidak langsung memengaruhi cara kita memandang sesuatu. Termasuk bagaimana kita menilai kecantikan, ketertarikan, hingga hubungan sosial di dunia nyata.

Perintah Menundukkan Pandangan dalam Islam

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan laki-laki dan perempuan beriman untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.

Hal ini ditulis dalam QS. An-Nur: 30–31. Perintah ini menjelaskan bahwa menjaga pandangan bukan hanya adab. Namun juga perisai dari hal-hal yang dapat menimbulkan syahwat.

Rasulullah SAW juga mengingatkan dalam hadistnya, “Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan.” (HR. Bukhari no. 6243; Muslim no. 2657).

Hadis ini menegaskan bahwa apa yang kita lihat dapat memengaruhi kondisi hati dan perilaku.

Di era visual seperti sekarang, pesan ini menjadi semakin relevan, mengingat paparan konten sensitif jauh lebih mudah ditemui.

Konsekuensi Mengabaikan Pandangan

Kebiasaan mengabaikan pandangan membawa konsekuensi berlapis, baik secara spiritual, sosial, maupun psikologis.

Secara spiritual, seseorang dapat terjerumus pada zina mata dan melemahkan kualitas imannya.

Lalu secara sosial, seseorang bisa terbiasa menilai orang lain berdasarkan fisik, bukan akhlak atau karakternya. Sehingga hal ini memengaruhi cara mereka dalam berinteraksi jangka panjang.

Kemudian dari sisi psikologi, paparan visual yang tidak terkendali dapat mendorong kecanduan visual, munculnya nafsu instan, serta menurunnya fokus.

Dalam kondisi ekstrem, pola ini bahkan dapat mengarah pada konsumsi konten eksplisit yang merusak, sebagaimana dijelaskan dalam penelitian neurosains.

Strategi Menjaga Pandangan di Dunia Maya

Menjaga pandangan di era media sosial merupakan bentuk ibadah sekaligus perlawanan terhadap algoritma yang dirancang untuk terus menarik perhatian.

Salah satu langkah awal adalah meniatkan aktivitas bermedia sosial sebagai bagian dari ibadah dalam menjaga diri.

Selain itu, mengkurasi timeline dengan cara unfollow atau mute akun yang sering menampilkan aurat dapat membantu mengurangi paparan.

Baca Juga:

Bisakah Kita Merubah Kepribadian? Ini Caranya dari Ilmu Psikologi!

Refleks cepat juga perlu dibangun, misalnya langsung scroll atau menutup layar ketika tanpa sengaja menemukan konten yang memicu syahwat.

Kemudian mengisi linimasa dengan konten bermanfaat, seperti ilmu, inspirasi, atau dakwah. Sehingga pengalaman bermedia sosial lebih sehat dan produktif.

Tips di atas bisa membantu umat muslim dalam menjaga pandangan sebagai bentuk ketaatan pribadi dan juga melawan algoritma media sosial yang tidak selalu positif.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *