Ini yang Terjadi pada Otak Ketika Kita Berhenti Menggunakan Media Sosial

Malanginspirasi.com – Di era digital seperti sekarang, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Kita menghabiskan waktu berjam-jam scrolling, menyukai, dan membagikan konten tanpa henti.

Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya, apa yang terjadi pada otak kita jika berhenti menggunakan media sosial?

Ternyata, dampaknya cukup signifikan, baik dari sisi psikologis maupun neurologis.

1. Peningkatan Fokus dan Konsentrasi

Media sosial terkenal sebagai pengganggu utama dalam menjaga fokus. Notifikasi yang terus-menerus muncul memecah perhatian kita dan membuat otak terbiasa dengan multitasking, yang sebenarnya kurang efektif.

Saat kita berhenti menggunakan media sosial, otak mulai ‘detoks’ dari gangguan tersebut dan kemampuan untuk fokus pada satu tugas pun meningkat.

Banyak orang melaporkan merasa lebih produktif hanya dalam beberapa hari setelah berhenti menggunakan media sosial.

2. Perbaikan Kesehatan Mental

Studi menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berkaitan erat dengan peningkatan kecemasan, depresi, dan perasaan tidak berharga akibat membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.

Dengan berhenti dari media sosial, otak mendapatkan ruang untuk kembali ke kondisi mental yang lebih stabil. Individu cenderung merasa lebih bahagia, lebih puas dengan kehidupan, dan tidak terlalu terpengaruh oleh validasi eksternal berupa likes dan komentar.

3. Kualitas Tidur Meningkat

Banyak orang terbiasa mengecek media sosial sebelum tidur. Paparan cahaya biru dari layar gadget bisa menghambat produksi melatonin, hormon yang mengatur tidur.

Saat kita berhenti menggunakan media sosial, terutama sebelum tidur, ritme sirkadian otak menjadi lebih teratur, sehingga kualitas tidur pun membaik.

4. Meningkatkan Interaksi Sosial yang Nyata

Menariknya, ketika seseorang mengurangi atau berhenti total dari media sosial, ia cenderung lebih terlibat dalam interaksi sosial secara langsung. Otak pun mulai terbiasa merespons isyarat sosial nyata—seperti ekspresi wajah dan intonasi suara—yang jauh lebih kompleks dan bermanfaat secara emosional dibanding komunikasi digital.

Kesimpulannya, berhenti menggunakan media sosial bisa menjadi keputusan yang menyehatkan bagi otak. Meski awalnya mungkin terasa canggung atau membosankan, seiring waktu, manfaatnya akan terasa nyata: fokus meningkat, kecemasan berkurang, dan kualitas hidup jadi lebih baik.

Jadi, tak ada salahnya mencoba ‘puasa’ media sosial sesekali, bukan?

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *