Orang Tua Insecure Karena Melihat Anak Lain Lebih Pintar, Normal atau Berlebihan?

Malanginspirasi.com – Ayah dan Bunda, pernahkah merasa minder saat melihat anak teman seusia si kecil sudah bisa membaca, berhitung, atau tampil percaya diri di depan umum, sementara buah hati kita masih belajar mengeja atau cenderung pemalu?

Kalau iya, Ayah dan Bunda nggak sendirian. Banyak orang tua pernah mengalami perasaan serupa. Tapi apakah itu hal yang wajar, atau justru bisa berdampak negatif kalau dibiarkan?

Yuk, kita bahas dari sudut pandang psikologi.

Perbandingan Itu Manusiawi, Tapi Harus Disadari

Secara psikologis, membandingkan adalah respons yang alamiah. Orang tua tentu ingin yang terbaik untuk anaknya.

Namun, kalau perbandingan ini berubah menjadi rasa tidak percaya diri yang mendalam, apalagi sampai membuat Ayah dan Bunda meragukan kemampuan anak sendiri itu bisa berdampak pada pola pengasuhan.

Malansir Verywell Mind, orang tua yang sering merasa insecure cenderung lebih mudah terjebak dalam pola “over-parenting” atau terlalu mengatur anak secara berlebihan. Akibatnya, anak justru kehilangan ruang untuk berkembang secara alami sesuai usianya.

Setiap Anak Punya Jalur Tumbuhnya Sendiri

Salah satu hal yang sering luput disadari adalah bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Ada yang cepat bicara, tapi motoriknya lambat. Ada juga yang unggul secara akademik, tapi butuh waktu dalam keterampilan sosial. Bandingkan perkembangan anak bukan dengan anak lain, tapi dengan kemajuan dirinya sendiri dari waktu ke waktu.

Psikolog perkembangan anak menyarankan agar orang tua lebih fokus pada progress daripada performa.

Jadi daripada bertanya, “Kenapa anakku belum bisa seperti si A?”, akan lebih sehat jika kita bertanya, “Apa yang sudah berkembang dari anakku bulan ini?”

Efek Emosional pada Anak Jika Orang Tua Terlalu Membandingkan

Anak-anak bisa sangat peka terhadap tekanan, bahkan sejak usia dini. Ketika orang tua terlalu sering menunjukkan rasa tidak puas atau terlalu sering membandingkan dengan anak lain, itu bisa menumbuhkan rasa rendah diri pada anak.

Ia mungkin merasa tidak cukup baik, atau harus terus berjuang untuk menyenangkan orang tua bukan demi dirinya sendiri.

Selain itu, anak bisa tumbuh dengan pandangan bahwa cinta dan penerimaan harus selalu “dibuktikan” lewat prestasi. Dalam jangka panjang, ini dapat memengaruhi harga diri dan kesehatan mentalnya.

Cara Mengelola Rasa Insecure Sebagai Orang Tua

Tenang, Ayah dan Bunda. Merasa tidak aman atau ragu bukan berarti kita adalah orang tua yang buruk. Justru, kesadaran ini bisa menjadi titik awal untuk memperbaiki pola pikir dan pendekatan kita terhadap tumbuh kembang anak.

Berikut beberapa langkah yang bisa membantu:

1. Kenali dan Validasi Perasaan Sendiri

Wajar kok merasa minder sesekali. Tapi penting juga untuk mengenali perasaan itu tidak selalu mencerminkan kenyataan. Terkadang, itu hanya datang dari tekanan sosial atau ekspektasi yang terlalu tinggi.

2. Berhenti Mengonsumsi Perbandingan Berlebihan di Media Sosial

Foto dan cerita yang kita lihat di media sosial seringkali hanya menampilkan sisi terbaik. Ingat, setiap keluarga punya tantangannya masing-masing.

3. Rayakan Kemajuan Kecil Anak Setiap Hari

Bantu anak merasa dihargai dengan memperhatikan hal-hal kecil yang berkembang darinya. Misalnya, hari ini ia berani menyapa tetangga, atau bisa memakai sepatunya sendiri.

4. Bangun Komunikasi Positif dengan Anak

Gunakan kata-kata yang membangun dan menunjukkan bahwa cinta orang tua tidak bersyarat. Ini akan menjadi pondasi yang kuat bagi rasa percaya dirinya.

Orang Tua Bahagia, Anak Juga Bahagia

Ayah dan Bunda, rasa insecure itu manusiawi, tapi jangan sampai membuat kita lupa bahwa anak tidak harus menjadi seperti anak orang lain.

Mereka hanya perlu menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri, dan dukungan kita sangat berarti dalam proses itu.

Jadi, alih-alih membandingkan, yuk kita mulai menghargai setiap langkah si kecil. Karena saat orang tua merasa cukup dan bahagia, anak pun akan tumbuh dengan penuh rasa percaya diri dan cinta.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment