Suka Membantu Orang Lain Ternyata Bikin Otak Awet Muda

Perilaku7 views

Malanginspirasi.com – Istilah “ringan tangan” biasanya disematkan pada orang yang suka membantu orang lain. Mudah dimintai tolong tanpa banyak persyaratan ini itu. Ternyata, sifat ini bukan hanya membuat hubungan sosial lebih baik, tapi juga berkaitan dengan kesehatan otak.

Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa orang yang lebih sering memberi dukungan kepada orang lain cenderung memiliki otak yang tampak lebih muda dibanding usia sebenarnya.

Temuan ini dipublikasikan di jurnal Translational Psychiatry.

Para peneliti dari Georgetown University, Emory University, dan University of Wisconsin–Madison menganalisis data dari studi Midlife in the United States (MIDUS).

Mereka meneliti 194 orang dengan usia rata-rata sekitar 56 tahun. Para peserta diminta melaporkan berapa banyak waktu yang mereka luangkan setiap bulan untuk membantu orang lain. Baik itu secara praktis (seperti membantu pekerjaan rumah, memberikan tumpangan, atau mengasuh) maupun secara emosional (mendengarkan keluh kesah, memberi kenyamanan, atau nasihat).

Data ini dikumpulkan sebelum para peserta menjalani pemindaian MRI otak.

Dengan menggunakan algoritma machine learning, para peneliti memperkirakan “usia otak” (BrainAGE) berdasarkan struktur otak. Nilai negatif berarti otak tampak lebih muda dari usia biologisnya.

Hasilnya cukup jelas. Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk mendukung orang lain, semakin muda usia otak yang terdeteksi. Keterkaitan ini tetap signifikan setelah memperhitungkan berbagai faktor lain, seperti usia, jenis kelamin, kondisi kesehatan, gaya hidup, status sosial-ekonomi, ukuran jaringan sosial, dukungan yang diterima, kualitas hubungan, dan tingkat stres.

Baca Juga:

Manfaat Bernostalgia untuk Menjaga Kesehatan Emosional

Murah Senyum Bikin Awet Muda, Benarkah?

Yang menarik, waktu-waktu yang diluangkan untuk membantu orang lain memberikan pengaruh tambahan di luar status peran formal. Misalnya, menjadi seorang pengasuh atau kakek-nenek yang ngemong cucunya.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa dukungan emosional cenderung lebih kuat hubungannya dengan otak yang lebih muda dibandingkan bantuan praktis.

Temuan ini mendukung gagasan bahwa perilaku prososial sehari-hari seperti suka membantu orang lain dapat menjadi jalur potensial untuk melindungi otak di usia dewasa.

Meski demikian, penelitian ini bersifat observasional sehingga belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat. Diperlukan studi lanjutan untuk memahami mekanisme di baliknya dan melihat apakah intervensi berbasis perilaku prososial bisa benar-benar melindungi otak.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *