Scroll Phobia: Ketika Kemudahan Teknologi Tidak Sejalan dengan Tanggung Jawab Akademik Mahasiswa

* Oleh: Tino Ferdiansah Hidayat Nurwahid

Malanginspirasi.com – Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara mahasiswa berkomunikasi dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas perkuliahan. Berbagai platform seperti WhatsApp, Telegram, Google Classroom, hingga Google Drive memungkinkan koordinasi dilakukan secara cepat tanpa dibatasi ruang dan waktu. Informasi mengenai jadwal presentasi, pembagian tugas, arahan dosen, maupun dokumen kelompok dapat diakses hanya melalui beberapa sentuhan pada layar ponsel.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul sebuah ironi yang semakin sering dijumpai dalam kehidupan akademik. Tidak sedikit mahasiswa yang memiliki akses penuh terhadap informasi, tetapi tidak benar-benar membacanya. Informasi telah dikirimkan, dokumen telah dibagikan, dan instruksi telah dijelaskan secara rinci, tetapi pertanyaan yang sama tetap muncul berulang kali. Fenomena inilah yang secara satir penulis sebut sebagai scroll phobia.

Istilah scroll phobia bukanlah konsep ilmiah dalam kajian psikologi. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kecenderungan seseorang yang enggan menggulir layar dan membaca informasi yang sebenarnya telah tersedia dalam ruang komunikasi digital. Fenomena tersebut mungkin terdengar sederhana. Tetapi dampaknya cukup nyata dalam berbagai aktivitas akademik, terutama ketika mahasiswa mengerjakan tugas kelompok.

Dalam berbagai pengalaman pengerjaan tugas kelompok, penulis sering menjumpai situasi ketika informasi yang telah dijelaskan berulang kali masih kembali ditanyakan oleh anggota kelompok.

Pertanyaan seperti “kita kelompok berapa?”, “siapa moderatornya?”, atau “kapan presentasinya?” kerap muncul meskipun jawabannya telah tersedia beberapa pesan sebelumnya. Akibatnya, proses koordinasi menjadi kurang efektif karena sebagian anggota harus terus mengulang informasi yang sama.

Fenomena tersebut ternyata tidak hanya dialami oleh penulis. Berbagai unggahan dalam komunitas mahasiswa di media sosial, termasuk Keluh Kesah Ngampus, menunjukkan pola keluhan yang relatif serupa. Banyak mahasiswa mengaku menghadapi anggota kelompok yang pasif dalam diskusi, jarang membaca informasi yang telah dibagikan, atau baru terlibat ketika tenggat waktu semakin dekat.

Meskipun unggahan tersebut tidak dapat dijadikan data ilmiah, kemunculan keluhan yang berulang dari berbagai kampus menunjukkan bahwa persoalan ini merupakan fenomena yang cukup luas dalam kehidupan akademik.

Lebih jauh lagi, rendahnya partisipasi dalam komunikasi kelompok sering kali berujung pada ketimpangan kontribusi. Sebagian mahasiswa berinisiatif mencari referensi, menyusun materi, memperbaiki kesalahan, dan berkomunikasi dengan dosen. Di sisi lain, terdapat anggota kelompok yang minim keterlibatan selama proses pengerjaan, tetapi tetap memperoleh manfaat dan hasil yang sama pada akhir tugas. Situasi seperti ini sering memunculkan rasa ketidakadilan di antara anggota kelompok yang aktif.

Baca Juga: 

Curhat sama AI, Bisa. Tapi Apa Itu yang Psikismu Butuhkan?

Membangun Generasi Cerdas dan Berkarakter Melalui Tujuh Kebiasaan Ini

Dalam kajian psikologi sosial, fenomena tersebut dikenal sebagai social loafing, yaitu kecenderungan individu mengurangi usaha dan kontribusinya ketika bekerja dalam kelompok dibandingkan ketika bekerja secara individual.

Penelitian Stephanie Sutanto dan Ermida Simanjuntak menunjukkan bahwa tugas kelompok memang dapat memunculkan kecenderungan social loafing pada mahasiswa, terutama ketika tanggung jawab individu menjadi tidak jelas dan kontribusi setiap anggota sulit dievaluasi. Penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa ketidakjelasan pembagian tugas merupakan salah satu faktor yang mendorong munculnya perilaku free rider dalam kelompok.

Fenomena scroll phobia dan social loafing pada dasarnya memiliki keterkaitan yang erat. Ketika seseorang tidak memiliki kemauan untuk membaca informasi yang telah tersedia, keterlibatan dalam proses kerja kelompok juga cenderung menurun. Akibatnya, tanggung jawab yang seharusnya dipikul bersama beralih kepada segelintir anggota yang lebih aktif.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengurangi kualitas pembelajaran kolaboratif yang sebenarnya menjadi tujuan utama tugas kelompok.

Dari perspektif etika, perilaku tersebut juga menimbulkan persoalan moral. Menurut K. Bertens, etika berkaitan dengan nilai-nilai yang menjadi dasar seseorang dalam menentukan baik dan buruknya suatu tindakan. Dalam konteks tugas kelompok, tanggung jawab, kejujuran, dan keadilan merupakan nilai penting yang harus dijaga oleh setiap anggota. Menikmati hasil kerja kelompok tanpa memberikan kontribusi yang sepadan bukan hanya persoalan akademik, tetapi juga persoalan etis karena menyangkut penghargaan terhadap usaha orang lain.

Selain itu, dari sudut pandang perkembangan peserta didik, mahasiswa seharusnya berada pada fase perkembangan yang ditandai oleh meningkatnya kemampuan berpikir kritis, kemandirian, serta tanggung jawab sosial.

Sebagaimana dijelaskan oleh Sudarwan Danim, pendidikan tidak hanya bertujuan mengembangkan kemampuan intelektual, tetapi juga membentuk karakter dan kedewasaan peserta didik. Oleh karena itu, kebiasaan menghindari tanggung jawab dalam tugas kelompok berpotensi menghambat proses pembentukan karakter tersebut.

Ironisnya, di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih, sebagian mahasiswa justru mengalami kemunduran dalam aspek literasi digital. Literasi digital tidak hanya berarti mampu menggunakan aplikasi atau perangkat elektronik, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, memilah pesan yang relevan, serta berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam ruang digital.

Kemampuan menggulir layar mungkin terlihat sepele. Tetapi di balik tindakan sederhana tersebut terdapat sikap disiplin, perhatian, dan tanggung jawab terhadap informasi yang diterima.

Untuk mengatasi persoalan ini, diperlukan upaya dari berbagai pihak. Pada tingkat kelompok, pembagian tugas harus dilakukan secara jelas dan disertai mekanisme pelaporan progres yang transparan. Setiap anggota perlu memahami bahwa kerja kelompok bukan sekadar membagi hasil, tetapi juga membagi tanggung jawab. Sementara itu, dosen dapat menerapkan sistem evaluasi individu atau peer evaluation agar kontribusi setiap anggota dapat dinilai secara lebih objektif.

Penelitian mengenai social loafing juga menunjukkan bahwa kejelasan tanggung jawab dan penilaian individu dapat membantu mengurangi kecenderungan perilaku free rider dalam kelompok.

Pada akhirnya, persoalan terbesar dalam kerja kelompok bukanlah keterbatasan teknologi, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan. Kemajuan teknologi seharusnya mempermudah proses belajar, bukan menjadi alasan untuk mengurangi partisipasi dan tanggung jawab.

Jika budaya membaca, memahami informasi, dan berkontribusi secara aktif dapat dibangun sejak bangku kuliah, maka teknologi akan benar-benar menjadi sarana yang mendukung pembelajaran. Namun jika sikap acuh terhadap informasi terus dipelihara, kemajuan teknologi hanya akan menghasilkan komunikasi yang semakin cepat tanpa diiringi peningkatan kualitas tanggung jawab akademik.

Referensi

Bertens, K. (2015). Etika (Edisi Revisi). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Danim, S. (2017). Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Alfabeta.

Sutanto, S., & Simanjuntak, E. (2015). Intensi Social Loafing pada Tugas Kelompok Ditinjau dari Adversity Quotient pada Mahasiswa. Jurnal Experientia, 3(1), 33–45.

Data Pendukung Lapangan

Penulis menggunakan beberapa sumber observasi lapangan berupa dokumentasi pengalaman pribadi dan arsip diskusi mahasiswa pada komunitas Keluh Kesah Ngampus yang dapat diakses melalui:

1. Dokumen Keluh Kesah Penulis:

   https://www.facebook.com/share/p/1DBfdAoTG9/

2. Arsip Komunitas Keluh Kesah Ngampus I:

   https://www.facebook.com/share/p/1RsV4gjRs9/

3. Arsip Komunitas Keluh Kesah Ngampus II:

   https://www.facebook.com/share/p/1Lid9XPobj/

4. Arsip Komunitas Keluh Kesah Ngampus III:

   https://www.facebook.com/share/p/17tnqw7rYj/

5. Arsip Komunitas Keluh Kesah Ngampus IV:

   https://www.facebook.com/share/p/18kgYaE4Rr/

Selain itu, penulis juga menggunakan hasil observasi selama pelaksanaan tugas kelompok di lingkungan perkuliahan sebagai bahan refleksi dan analisis.

* Tulisan ini merupakan kontribusi dari Tino Ferdiansah Hidayat Nurwahid. Penulis merupakan mahasiswa Program Studi PPKn, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama).

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *