Malanginspirasi.com – Praktisi Media dan Psikologi sekaligus Consumer Behavior Strategist, Happy Dwiyastuti, S.Psi., M.M. mengungkap fakta mendalam mengenai perilaku siswa SMA dan SMK atau remaja dengan media sosial (medsos).
Di balik kebiasaan scrolling berjam-jam, remaja sebenarnya menyimpan keinginan kuat untuk memanfaatkan media sosial secara produktif, namun terkepung oleh aturan ketat serta kebingungan menentukan arah.
Ia membeberkan fakta tersebut dalam acara Peningkatan Literasi Digital untuk Masyarakat bertema Tumbuh Aman di Ruang Digital Melalui Penguatan Peran Guru dalam Melindungi dan Mendampingi Siswa di Arayanna Hotel & Resort, Trawas, Mojokerto, Minggu (20/9/2026).
Dalam paparan bertajuk Dampak Digital Terhadap Perilaku dan Kesehatan Psikologi Remaja, alumnus Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut memaparkan 10 temuan utama dari wawancara mendalam secara acak terhadap 10 siswa SMA dan SMK.
Ia mengungkap 10 temuan lapangan perilaku digital siswa yakni:
- Gawai Sebagai Prioritas: Ponsel menjadi benda pertama yang dipegang saat bangun tidur hingga hendak tidur.
- Scrolling Tanpa Tujuan: Kebiasaan menatap layar berjam-jam dilakukan sekadar mengisi waktu senggang.
- Tertekan Aturan: Siswa merasa terkepung larangan ketat di sekolah dan rumah.
- Haus Edukasi: Menyimpan keinginan kuat untuk diajari cara menggunakan media sosial secara produktif.
- Arah yang Bingung: Tidak tahu harus memulai dari mana untuk memanfaatkan ruang digital.
- Antusiasme Tinggi: Memiliki ketertarikan besar pada pelatihan literasi digital yang tepat.
- Inisiatif Ekonomi: Berkeinginan memanfaatkan media sosial untuk menghasilkan pendapatan (cuan).
- Pengguna Pasif: Mayoritas masih sebatas penikmat konten, bukan pembuat karya.
- Menjaga Jarak: Memilih mengunci akun (private mode), tanpa foto profil asli, dan membatasi pengikut.
- Harapan Pendampingan: Menginginkan media sosial tidak lagi dianggap tabu, melainkan dijembatani untuk persiapan karier.
Pertarungan Otak Lawan Algoritma
Wanita yang berpengalaman selama 19 tahun di dunia jurnalistik dan pernah menjabat Manajer Digital Jawa Pos Radar Malang ini menegaskan, perilaku siswa bukan bentuk pembangkangan.
Otak remaja secara teknologis bertarung melawan sistem algoritma yang dirancang oleh para behavioral engineer.
Sensasi ketagihan tersebut dipicu oleh dopamine loop saat menerima notifikasi, like, atau kiriman video baru di feed.
Kondisi ini diperparah oleh dominasi konten short-form video (TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts) berdurasi 15–30 detik yang memanjakan otak dengan stimulasi cepat, sehingga menurunkan rentang perhatian (attention span) siswa di kelas.
“Siswa SMA dan SMK berada pada fase pencarian identitas. Jumlah followers, views, dan likes sering kali dikelirukan sebagai ukuran harga diri dan validasi sosial,” ujar sosok yang juga pemilik usaha Rambak Sapi Happy Khan tersebut.
Ketidakmampuan mengendalikan penggunaan gawai ini memicu doomscrolling hingga larut malam, kecemasan sosial akibat Fear of Missing Out (FOMO), hingga perilaku agresif di dunia maya (cyberbullying) yang berbanding terbalik dengan kecanggungan saat berinteraksi langsung.
Pendampingan Edukatif, Bukan Sanksi
Menghadapi fenomena ini, larangan total atau penyitaan ponsel dinilai sudah tidak relevan karena siswa akan selalu menemukan celah, seperti membuat akun anonim (second account).
Sebagai solusinya, pendidik disarankan menerapkan digital hygiene dan keterampilan dasar jurnalistik. Guru dapat mengajari prinsip verifikasi check and re-check — saring sebelum sharing — agar siswa tidak mudah terpengaruh berita bohong.

Pendidik dan orang tua diajak mengubah sudut pandang agar media sosial dijadikan wadah portofolio karya, wirausaha muda, serta pembentukan citra diri (personal branding).
“Dunia digital remaja adalah realita yang tidak bisa dihapus, tetapi harus dikelola. Guru yang relevan adalah guru yang memahami cara kerja media muridnya. Mari dorong tugas sekolah berbentuk konten kreatif dan bangun ruang aman (safe space) agar siswa bijak memilah, aman berinteraksi, dan produktif berkarya demi masa depan,” tutup Happy.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Pemprov Jatim ini turut dihadiri anggota Komisi A DPRD Jawa Timur, Sumardi, serta diikuti oleh perwakilan guru SMA dan SMK se-Jawa Timur.







