Malanginsipirasi.com – Belakangan ini, konsep “main character energy” semakin populer di media sosial. Banyak orang mulai mengadopsi mindset ini dengan tujuan menjalani hidup yang lebih menarik, penuh petualangan, dan sesuai dengan keinginan pribadi.
Ide ini muncul dari tren yang menggambarkan seseorang sebagai pemeran utama dalam kehidupannya sendiri, lengkap dengan soundtrack keren dan momen sinematik.
Tapi benarkah semua orang perlu menjadi “main character” dalam hidupnya?
Apakah ini benar-benar membawa kebahagiaan, atau justru menciptakan tekanan baru?
Dalam teori psikologi, konsep ini bisa dikaitkan dengan narrative identity, yaitu cara seseorang memahami dan membentuk identitas dirinya berdasarkan pengalaman hidupnya.
Melansir Medical News Today, memiliki kesadaran akan peran kita dalam kehidupan dapat meningkatkan motivasi dan membentuk perspektif yang lebih positif.
Namun, jika terlalu terobsesi membuat hidup terlihat menarik dan dramatis, seseorang bisa kehilangan jati diri dan kebahagiaan sejati.
Ketika Jadi “Main Character” Terasa Positif
Memandang diri sendiri sebagai tokoh utama bisa menjadi cara yang baik untuk meningkatkan kepercayaan diri. Dengan mindset ini, seseorang lebih terdorong mengambil keputusan yang lebih berani, berusaha lebih keras dalam mencapai tujuan, dan menikmati momen-momen kecil dalam hidup.
Jika diterapkan dengan cara yang sehat, ini bisa menjadi bentuk self-love yang membantu seseorang menghargai hidupnya lebih dalam.
Banyak orang yang selama ini hidup dengan menyesuaikan diri terhadap ekspektasi orang lain. Dengan konsep main character energy, mereka terdorong untuk lebih fokus pada kebahagiaan diri sendiri.
Misalnya, jika selama ini seseorang takut mencoba hobi baru karena khawatir dengan pendapat orang lain, menganggap diri sebagai “main character” bisa menjadi dorongan untuk keluar dari zona nyaman dan mulai menikmati hal-hal yang benar-benar disukai.

Ketika “Main Character Energy” Berubah Jadi Tekanan
Di sisi lain, dorongan untuk menjadi pemeran utama dalam hidup sendiri bisa berubah menjadi tekanan bagi sebagian orang.
Dalam era media sosial, banyak orang merasa perlu menciptakan versi hidup yang terlihat sempurna. Feed Instagram penuh dengan foto estetik, video perjalanan ke tempat-tempat indah, dan rutinitas pagi ala film. Namun, apakah hidup benar-benar harus selalu terlihat menarik dan sinematik?
Masalah muncul ketika seseorang merasa gagal karena hidupnya tidak cukup dramatis atau istimewa. Tidak semua orang bisa bepergian ke tempat eksotis, memiliki pekerjaan impian, atau menjalani kehidupan yang penuh kejutan setiap hari.
Jika terlalu terobsesi dengan konsep ini, seseorang bisa merasa bahwa kehidupannya “biasa saja” atau kurang berharga. Padahal, kehidupan yang tenang dan sederhana juga memiliki makna yang mendalam.
Jadi, apakah kita harus menjadi “main character” dalam hidup sendiri? Jawabannya ada di keseimbangan.
Menjadikan diri sendiri sebagai pemeran utama dalam hidup bisa menjadi motivasi positif. Tetapi jangan sampai ini berubah menjadi tekanan untuk menjalani hidup yang sempurna.
Tidak ada salahnya menikmati momen kecil, membuat keputusan terbaik untuk diri sendiri, dan merasa kita memiliki kendali atas hidup yang dijalani.
Namun, penting juga untuk menerima kenyataan tidak semua hari akan terasa seperti adegan film. Ada hari-hari yang membosankan, ada kegagalan, dan ada tantangan yang membuat kita merasa kecil.
Justru di situlah kehidupan yang sesungguhnya. Kebahagiaan tidak selalu datang dari momen spektakuler. Tetapi juga dari ketenangan dan keaslian dalam menjalani hidup.
Pada akhirnya, kamu tetap bisa menjadi “main character” dengan caramu sendiri, tanpa harus membandingkan hidupmu dengan narasi orang lain.
Yang paling penting adalah merasa nyaman dengan diri sendiri, tanpa perlu memaksakan cerita yang tidak benar-benar mencerminkan siapa dirimu.
Nikmati setiap prosesnya, dan ingat bahkan dalam adegan sederhana pun, kamu tetap berharga.







