Benarkah Kalau Jodoh Nggak Akan ke Mana? Ini Perspektif Psikologisnya

Malanginspirasi.com – Kalimat “kalau jodoh nggak akan ke mana” sering terdengar seperti pelipur lara di tengah kegalauan. Ungkapan ini memberi harapan bahwa seseorang akan bertemu dengan pasangan yang tepat pada waktu yang tepat tanpa perlu khawatir berlebihan.

Tapi benarkah seperti itu? Dalam psikologi, cinta dan hubungan bukan hanya soal menunggu, tapi juga soal kesiapan diri dan usaha sadar.

Mari kita lihat bagaimana perspektif psikologi memandang konsep jodoh yang kerap dibungkus dengan nuansa pasrah ini.

Dalam banyak budaya, jodoh sering dikaitkan dengan takdir. Namun, psikologi memandang hubungan sebagai hasil dari serangkaian pilihan sadar, pengalaman pribadi, dan proses perkembangan emosional.

Melansir Psychology Today, hubungan romantis terbentuk dari interaksi kompleks antara kebutuhan emosional, pengalaman masa lalu, serta pola keterikatan yang dibentuk sejak masa kanak-kanak.

Artinya, siapa yang kita pilih untuk dicintai sangat berkaitan dengan siapa diri kita saat ini dan apa yang kita cari dalam sebuah hubungan, bukan semata-mata “ditentukan dari atas”.

Kalimat “jodoh nggak akan ke mana” bisa memberi efek tenang. Tapi juga bisa membuat seseorang pasif.

Dalam dunia nyata, banyak pasangan yang saling mencintai tetapi berpisah karena masalah komunikasi, nilai hidup yang bertabrakan, atau ketidaksiapan emosional.

Perasaan cocok saja tidak cukup. Hubungan butuh kerja sama, komitmen, dan keterampilan untuk menyelesaikan konflik. Tanpa itu, “jodoh” pun bisa kandas.

Psikologi menekankan pentingnya upaya dua arah dalam menjalin dan mempertahankan hubungan. Jadi, meski ada kecocokan yang kuat, tanpa usaha bersama, hubungan bisa tetap gagal.

Faktor Psikologis yang Membentuk “Jodoh”

Beberapa faktor yang memengaruhi ketertarikan dan keberhasilan hubungan jangka panjang antara lain:

– Kesamaan nilai dan tujuan hidup

Orang cenderung menjalin hubungan jangka panjang dengan mereka yang memiliki visi hidup serupa.

– Gaya keterikatan (attachment style)

Gaya ini terbentuk sejak kecil dan memengaruhi bagaimana kita membangun kedekatan dan kepercayaan.

– Kematangan emosional

Hubungan yang sehat hanya bisa terjalin jika kedua pihak mampu mengelola emosi, mendengarkan, dan menghargai perbedaan.

– Pengalaman masa lalu

Trauma atau luka emosional yang belum sembuh bisa menjadi hambatan dalam menerima atau mempertahankan cinta.

Peran Aktif dalam Menemukan Pasangan yang Tepat

Alih-alih pasrah, pendekatan yang lebih sehat adalah menjadi versi terbaik dari diri sendiri, lalu membuka diri terhadap kemungkinan cinta yang datang.

Beberapa langkah konkret yang bisa diambil:

– Kenali diri dan kebutuhan emosionalmu

Apa yang kamu cari dalam hubungan? Apa yang membuatmu merasa aman dan dicintai?

– Kembangkan komunikasi yang sehat

Hubungan yang baik dibangun dari keterbukaan dan kemampuan untuk menyampaikan kebutuhan tanpa menyalahkan.

– Berani meninggalkan yang tidak sehat

Kadang kita terlalu lama bertahan dengan seseorang yang tidak sejalan, hanya karena takut kehilangan “jodoh”.

– Jaga ekspektasi tetap realistis

Jodoh bukan berarti pasangan sempurna. Tapi dia adalah seseorang yang bersedia tumbuh bersama, meski dengan segala kekurangan.

Jodoh bisa dimaknai lebih dari sekadar takdir. Ia adalah hasil dari kecocokan, komitmen, komunikasi, dan kemauan untuk tumbuh bersama.

Seseorang bisa terasa seperti jodoh hari ini, tapi jika tidak ada usaha dua arah, hubungan tetap bisa berakhir.

Jadi, benarkah kalau jodoh tidak akan ke mana? Dari kacamata psikologi, jawabannya tidak sesederhana itu.

Cinta butuh lebih dari sekadar harapan. Ia butuh keberanian untuk mengenal diri, usaha untuk memahami pasangan, dan komitmen untuk terus tumbuh bersama.

Jodoh memang mungkin sudah ditentukan. Tetapi apakah hubungan itu berhasil atau tidak itu tetap tergantung pada kita.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *