
Di sisi lain, Jefri mengimpikan adanya asosiasi atau wadah yang bisa mengayomi serta bisa menjadi tempat bertukar informasi untuk penginapan-penginapan sekelas hostel atau guest house di Kota Batu.
“Belum ada di sini. Setahu saya yang punya asosiasi untuk hostel baru ada di Jogja. Itu saya tahu waktu berkunjung ke sana. Kalau di Batu adanya PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, red). Tapi PHRI kan untuk hotel dan restoran besar. Kalau untuk yang kecil-kecil seperti hostel, belum ada. Padahal teman-teman pemilik hostel di Batu jumlahnya cukup banyak. Mudah-mudahan suatu saat nanti kita bisa punya asosiasi seperti yang di Jogja,” ungkapnya.
Satu hal yang menjadi kegundahan pria asli Batu ini adalah masih banyaknya orang yang mencampuradukkan kota kelahirannya dengan Malang. Meski sama-sama berada di wilayah Malang Raya, keduanya berbeda administrasi pemerintahan.
Anggapan Batu sama dengan Malang inilah yang sedikit banyak berimbas pada kecenderungan wisatawan menginapnya di Kota Malang tetapi pelesirannya ke Kota Batu.
“Kalau yang dari Jatim sih bisa membedakan. Tapi yang dari luar daerah, apalagi luar Jawa, dianggapnya sama saja. Mereka menginapnya di Kota Malang, eh paginya jalan-jalan dan menghabiskan sepanjang hari menikmati keindahan tempat-tempat wisata di Kota Batu. Setelah itu, sorenya balik lagi ke Kota Malang untuk bermalam di sana. Kenapa ga sekalian saja nginapnya di Batu, kan lebih dekat dan hemat waktu kalau memang tujuannya berwisata di sini,” keluh Jefri.

Ia tak menampik bahwa hotel dengan fasilitas mewah di Kota Malang jumlahnya lebih banyak. Tetapi tidak semua wisatawan yang berkunjung memiliki kantong tebal.
Banyak yang justru dengan sangu terbatas tiba melalui stasiun maupun terminal di Kota Malang. Sambut mereka dengan informasi tentang tempat-tempat yang bisa menjadi rujukan mereka menginap di Kota Batu. Sebab, mereka inilah pasar potensial untuk menggenjot tingkat hunian di penginapan-penginapan seperti losmen, hostel maupun guest house yang dikelola masyarakat umum.
“Pemerintah Kota Batu dan seluruh stakeholder industri pariwisata di sini semestinya lebih pro aktif mengambil ceruk pasar wisatawan backpacker ini. Toh mereka juga membelanjakan uangnya di Batu. Meski nominalnya mungkin kecil, tapi kalau jumlahnya banyak kan menambah cepat perputaran ekonomi di sini,” Jefri menuturkan.
“Eman-eman kalau yang seperti mereka ini nginapnya juga di Malang padahal tujuan utamanya ke Batu,” pungkasnya. (TON)







