Nobar ‘Film Pesta Babi’ di Kosayu Malang, Pastor Biru Kira Jelaskan Keimanan dan Kearifan Lokal dalam Perjuangan Masyarakat Papua

Malanginspirasi.com – Acara nonton bareng (nobar) film ‘Pesta Babi’ yang berlangsung di Aula GSG Lt3, SMAK Kolese St Yusup Malang pada Sabtu 23 Mei 2026 berlangsung menarik karena kehadiran dari Reverendus Dominus (RD) atau pastor Biru Kira.

Para penonton film yang tengah viral tersebut dapat berdiskusi langsung dengan pastor yang telah mengabdikan diri di tanah Papua sejak tahun 2012 itu.

Sebelum acara diskusi, ia menjelaskan tentang bagaimana masyarakat Papua bisa menghadapi tantangan yang ada selama tekanan struktur sosial yang demikian berat.

“Pada akhirnya mereka akan mengatakan ‘ada Tuhan Yesus toh’. Jadi penghayatan iman yang begitu besar, yang membuat mereka tadinya sudah berhenti dan putus asa akhirnya maju lagi  menemukan cara-cara untuk bisa bertahan hidup,” paparnya.

Ketua panitia Chris Inderayanto saat memberikan sambutan di acara nobar film ‘Pesta Babi’ di aula Kosayu Malang (Tri Sukma)

Hal ini tergambar dalam film ‘Pesta Babi’ dimana masyarakat adat di sejumlah wilayah mendirikan salib dan patok untuk menandai tanah adat.

Semuanya itu mereka lakukan untuk mencegah pemerintah mengambil alih tanah mereka untuk dijadikan sebagai lahan proyek strategis nasional.

Tantangan Terbesar Masyarakat Adat Papua

Kira melanjutkan bahwa tantangan masyarakat adat Papua adalah tiga hal besar, yakni  globalisasi, kapitalisme, dan militerisme.

“Dan ini mengakibatkan perubahan yang berwajar tidak manusiawi.  Orang Papua dijauhkan dari tanah dan budaya, mengalami kemiskinan struktural, identitas dihilangkan, dan manusia diperlakukan sebagai obyek” lanjut Kira.

Tetapi, kata Kira, dalam situasi kapitalisme global dan militerisme yang demikian menekan mereka tetap berjuang.

“Tekanan yang seolah mengatakan ‘kamu tidak ada jalan keluar, terima saja’ ternyata dapat dilawan dengan taktik imam dan kearifan lokal yang bernama adalah gerakan perubahan kehidupan,” lanjutnya.

Ia melanjutkan bahwa  tanah, hutan, tempat keramat, sumber mata air, tempat-tempat yang penting bagi masyarakat harus dilindungi.

“Sesudah dilindungi lalu dikelola supaya menghasilkan hidup bagi mereka.  Dalam hal itu, gereja selalu berjalan bersama, mendampingi,” kata pastor yang menyelesaikan S1 Filsafat di Driyarkara, Jakarta itu.

Perlawanan Tanpa Kekerasan

Lebih lanjut, Kira mengatakan bahwa taktik yang mereka gunakan adalah salah satunya penanaman salib yang ditampilkan dalam film ‘Pesta Babi’ tersebut.

“Selain itu juga pesta babi yang merupakan kearifan lokal. Taktik itu merupakan taktik orang-orang kecil untuk melawan strategi penguasa-penguasa yang mau menghancurkan tanah-tanah mereka.  Dan hal tersebut menjadi topik disertasi saya,” kata Kira.

Kira menjelaskan masyarakat lokal tidak punya kekuatan dan senjata serta bahkan tidak punya apa-apa.

“Namun mereka bisa memikirkan taktik dan bisa menemukan celah untuk melawan strategi yang mau menghancurkan hidup mereka,” kata dia.

Baca Juga:

Keberagaman dalam Kesatuan Jadi Tema Festival Cap Go Meh di SMAK Kolese St Yusuf Malang

Kira menjelaskan bahwa di keuskupan mereka, namanya adalah Gerakan Tungku Kehidupan.

“Di film tersebut diperlihatkan bahwa masyarakat melindungi hutan dengan melepasliarkan babi-babi tersebut di dalam hutan sehingga hutan harus dihidungi. Babi-babi tersebut akan ditangkap setelah 10 tahun untuk dijadikan sajian dalam pesta tersebut,” begitu dia mengisahkan.

Pastor yang menempuh S2 Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta itu mengatakan bahwa masyarakat adat memiliki penghayatan iman dan keariman lokal yang diandalkan untuk melakukan perlawanan tanpa kekerasan.

“Tanpa kekerasan fisik, namun  dengan kearifan lokal dan penghayatan iman mereka menghadapi tanah terjal dan tantangan. Begitulah umat yang saya dampingi,” pungkasnya.

Ratusan Penonton Hadiri Nobar Film ‘Pesta Babi’
Salah satu siswi kelas 10 SMAK St. Yusuf mengungkapkan kesan setelah menonton film ‘Pesta Babi’ (Tri Sukma)

 

Ketua panitia acara nobar film ‘Pesta Babi; Chris Inderayanto mengatakan bahwa pendaftar acara nobar ini mencapai lebih dari 300 orang.

“Mereka terdiri dari komunitas dari beberapa gereja Katolik dan juga masyarakat umum serta para penghuni asrama Kolese Santo Yusuf,” begitu katanya dalam acara tersebut.

Sebelum duskusi, beberapa penonton mendapatkan kesempatan dalam mengungkapkan kesan terkait film tersebut.

Acara ini merupakan inisiasi dari AGORA sebagai Ruang Diskusi Awam Katolik dengan dukungan Kolese St Yusup, Malang  dan Ikatan Sarjana Katolik Malang (ISKA Malang).

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *