Malanginspirasi.com – UPT Pusat Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang UM menyelenggarakan kegiatan Diskusi Pancasila 1 Tahun 2026.
Bertema ‘Relevansi Pancasila dalam Pusaran Multikulturalisme, Politik Identitas, dan Krisis Representasi di Indonesia’, hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini yaitu Dr. Desi Dwi Prianti dan Prof. Dewa Agung Gede Agung.
Dr. Desi Dwi Prianti, dalam pemaparannya, menyebut pentingnya pemahaman persoalan kebangsaan Indonesia yang tak hanya dari aspek normatif.
Namun juga lewat dimensi visual, naratif, dan epistemik.
Dr. Desi menjelaskan dalam konteks postkolonial, narasi kebangsaan kerap dipengaruhi cara pandang bias, seperti konsep orientalisme yang membedakan “Timur” dan “Barat.”
Hal ini berpengaruh pada cara masyarakat memaknai identitas, termasuk budaya populer seperti media sosial.
Selain itu, ia menegaskan Pancasila tetap relevan sebagai kerangka etik dalam menilai siapa yang diakui, diwakili, maupun yang terpinggirkan dalam narasi kebangsaan.
Tantangan terbesar dalam konteks multikulturalisme terletak pada bagaimana memastikan representasi adil di tengah arus globalisasi dan politik identitas yang semakin kompleks.
Dinamika Kehidupan Multikultural di Indonesia
Pada kesempatan yang sama, Prof. Dewa Agung Gede Agung mengulas pendekatan teori sosial kritis dalam memandang dinamika kehidupan multikultural di tanah air.
Ia menekankan realitas sosial tidak bersifat statis, namun perlu terus dikonstruksi dan didekonstruksi secara kritis.
Kehidupan beragama di Indonesia masih diwarnai oleh berbagai paradoks dalam praktiknya.
Hal ini termasuk munculnya konflik bernuansa SARA yang menunjukkan belum optimalnya penghayatan nilai-nilai Pancasila.
Prof. Dewa Agung juga menyoroti pentingnya indikator toleransi, kesetaraan, dan kerja sama menjaga harmoni sosial.
Menurutnya, konflik bukan akibat dari perbedaan, tetapi dari cara pandang sempit dalam menyikapi perbedaan tersebut.
Sebagai solusi, ia menekankan perlunya revitalisasi kearifan lokal sebagai fondasi dalam merawat keberagaman.
Berbagai praktik lokal di Indonesia, seperti tradisi bersih desa di Jawa, konsep Tri Hita Karana di Bali, hingga nilai persaudaraan lintas agama di wilayah timur Indonesia menjadi bukti harmoni bisa dibangun lewat pendekatan budaya inklusif.
Diskusi ini menegaskan di tengah tantangan multikulturalisme, politik identitas, dan krisis representasi, Pancasila tetap menjadi pijakan penting membangun kehidupan berbangsa yang adil, inklusif, dan harmonis.
Lewat dialog kritis dan reflektif, diharapkan nilai-nilai Pancasila terus diaktualisasikan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam.







