Minke, Kolonialisme, dan Kelahiran Nasionalisme di Orasi Ilmiah Dies Natalis ke 19 Universitas Ma Chung

Malanginspirasi.com – Orasi ilmiah dosen Universitas Ma Chung FX Dono Sunardi dalam acara Dies Natalis ke-19 Universitas Ma Chung mengulas tentang bagaimana pendidikan tinggi masih belum dapat dinikmati seluruh pemuda Indonesia sejak sistem pendidikan formal pertama kali diperkenalkan di awal abad ke-20.

Bertajuk “Pendidikan Kolonial, Krisis Identitas, dan Lahirnya Kesadaran Nasional dalam Tetralogi Buru”,  orasi ilmiah ini mengajak sivitas akademika merenungkan kembali peran pendidikan dalam membentuk kesadaran kebangsaan.

Dalam pemaparannya, Dono menegaskan bahwa pendidikan tinggi masih menjadi hak istimewa yang belum dapat dinikmati oleh  hingga sekarang.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa pendidikan di ruang kelas saja tidak cukup untuk melahirkan generasi yang berjiwa merdeka dan berani menembus batas-batas lama.

Inti orasi ini adalah kajian atas novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, bagian dari Tetralogi Buru. Dono mengambil sikap berbeda dari tesis klasik sejarawan Bruce McCully yang menyebut ada hubungan sebab-akibat langsung antara pendidikan kolonial dan tumbuhnya nasionalisme.

Baca Juga:

Dies Natalis ke 19 Universitas Ma Chung, Enam Program Studi Raih Akreditasi Unggul dalam Setahun 

Program Affiliate Universitas Ma Chung Tawarkan Reward Hingga Rp1,25 Juta per Affiliator

Menurut Dono, nasionalisme bukan reaksi yang muncul begitu saja. Ia adalah hasil proses dialektis yang panjang, berlangsung dalam diri individu dan merentang lintas generasi.

“Pendidikan kolonial berfungsi sebagai kekuatan yang mengubah cara pandang lulusannya—mendorong mereka mengadopsi cara berpikir ala Eropa, kerap dengan konsekuensi tercerabut dari akar budaya sendiri,” begitu kutipan dalam orasinya.

Tiga Wajah Respons terhadap Pendidikan Kolonial

Dari analisisnya, Dono memetakan tiga kelompok besar yang lahir dari rahim pendidikan kolonial.

“Pertama, kelompok konformis yang menerima begitu saja nilai-nilai baru. Kedua, kelompok yang terjebak krisis identitas hingga berujung kebencian terhadap sistem yang membentuknya. Ketiga, kelompok “kreatif” yang diwakili tokoh Minke dalam novel tersebut. Minke justru piawai bergerak di antara dua budaya, bahkan menjadikan alat-alat kolonial sebagai senjata perlawanan,” paparnya.

Dono mengakui penelitiannya masih bertumpu pada satu karya sastra, yakni Bumi Manusia, sehingga temuannya belum bisa digeneralisasi untuk menggambarkan seluruh konteks kolonial secara luas.

Ia mendorong penelitian lanjutan yang menelusuri jejak pendidikan kolonial pada generasi-generasi sesudahnya, serta kajian perbandingan di berbagai wilayah bekas jajahan untuk memperkaya pemahaman tentang hubungan pendidikan dan ideologi nasionalis.

Komitmen Universitas Ma Chung di Usia ke-19

Menutup orasinya, Dono menyampaikan lima harapan bagi Universitas Ma Chung ke depan.

Pertama adalah terus memfasilitasi pendidikan formal terbaik bagi mahasiswa, kemudian membangun keterampilan berpikir kritis dan analitis.

“Universitas Ma Chung diharapkan merajut kemitraan strategis model hexa helix bersama dunia usaha-industri, pemerintah, akademisi, komunitas, media, dan lingkungan serta memberi ruang bagi mahasiswa yang ingin membangun kemitraan strategis dengan pihak luar. Juga mendorong lahirnya pemikiran alternatif yang mungkin belum relevan hari ini namun berpotensi membawa dampak besar di masa depan,” lanjutnya dalam orasi ilmiah tersebut.

Perayaan Dies Natalis ke-19 ini sekaligus menjadi momentum refleksi bagi Universitas Ma Chung untuk terus membuka diri terhadap dinamika zaman, sembari tidak melupakan tanggung jawabnya mencetak generasi yang berani dan berjiwa merdeka.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *