Semangat ‘Jaga Diri, Jaga Sesama’ Jadi Komitmen FBiPK UB Bangun Lingkungan Akademik Aman

Pendidikan11 views

Malanginspirasi.com –  Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) menggelar sosialisasi kesehatan mental bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health Day, 10 Oktober 2026.

Acara ini menggaungkan pentingnya menjaga kesehatan mental, mencegah kekerasan, serta membangun lingkungan akademik yang aman dan saling mendukung

Mengusung semangat “Jaga Diri, Jaga Sesama”, pembekalan terhadap sekitar 1.300 mahasiswa baru menjadi bagian dari komitmen FBiPK UB untuk membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki ketangguhan mental, kesadaran sosial, serta keberanian untuk melindungi diri dan sesama dari berbagai bentuk kekerasan.

Kesehatan mental tersebut berlangsung dalam 2 hari berurutan, turut menghadirkan dua narasumber, yakni Ketua Unit Layanan Terpadu Kekerasan Seksual dan Perundungan (ULTKSP) FBiPK UB, Dwi Retnoningsih, S.P., M.P., Ph.D. pada tanggal 10 Oktober 2026, serta Agustinus Tedja Bawana dari Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) yang mengisi pada tanggl 11 oktober 2026.

Keduanya memberikan pemahaman mengenai kesehatan mental, pencegahan kekerasan seksual dan perundungan, bahaya penyalahgunaan narkoba, serta pentingnya membangun karakter dan kepercayaan diri mahasiswa.

Kesehatan Mental Menjadi Fondasi Keberhasilan Akademik

Dalam sesi pertama, Dwi Retnoningsih menyampaikan materi bertajuk “Melangkah dengan Tangguh: Menjaga Kesehatan Mental dalam Perjalanan Akademik dan Kekerasan Seksual.”

Ia menegaskan bahwa kesehatan mental merupakan aspek penting yang perlu mendapat perhatian selama mahasiswa menjalani pendidikan tinggi.

Menurutnya, kehidupan perkuliahan bukan hanya tentang pencapaian akademik, tetapi juga proses penyesuaian diri dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, emosional, dan lingkungan yang baru.

Mahasiswa baru, khususnya, berada pada masa transisi yang membutuhkan kemampuan adaptasi, kemandirian, serta dukungan sosial yang memadai.

Oleh karena itu, Dwi mengingatkan agar mahasiswa tidak mengabaikan kondisi psikologisnya ketika menghadapi tekanan maupun persoalan pribadi.

“Mahasiswa harus memiliki kesehatan mental yang baik selama menjalani pendidikan. Ketika menghadapi permasalahan, jangan memilih diam atau memendam semuanya sendiri. Carilah bantuan, konsultasikan persoalan yang dihadapi, dan manfaatkan layanan pendampingan yang telah disediakan oleh fakultas,” tegas Dwi.

Pada kesempatan tersebut, Dwi juga memperkenalkan keberadaan ULTKSP FBiPK UB sebagai salah satu bentuk dukungan institusi dalam memberikan layanan konsultasi dan pendampingan, khususnya terkait persoalan kekerasan seksual dan perundungan di lingkungan kampus.

Ketua ULTKSP FBiPK UB, Dwi Retnoningsih, S.P., M.P., Ph.D. saat memberikan pemaparan (Istimewa)

Ia menekankan bahwa upaya pencegahan kekerasan membutuhkan keterlibatan seluruh warga kampus. Mahasiswa perlu memahami batasan dalam berinteraksi, menghormati hak dan martabat orang lain, serta memiliki keberanian untuk mencari pertolongan maupun melaporkan tindakan kekerasan melalui mekanisme yang tersedia.

Selain memberikan edukasi mengenai kesehatan mental dan layanan pendampingan, Dwi mengajak mahasiswa untuk membangun ketangguhan diri dengan tetap menjaga hubungan baik bersama keluarga, lingkungan sosial, dan nilai-nilai spiritual.

“Ketika menghadapi kegagalan, kekecewaan, atau merasa putus asa, ingatlah perjuangan orang tua dan keluarga yang telah memberikan dukungan hingga kita berada di bangku perguruan tinggi. Jangan lupa untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan mencari bantuan ketika menghadapi kesulitan,” pesannya.

Menutup pemaparannya, Dwi menekankan pentingnya keseimbangan antara kesehatan fisik, kesehatan mental, dan prestasi akademik sebagai bekal mahasiswa dalam mempersiapkan masa depan.

Baca Juga:

Pengenalan Zona Integritas dan Anti Korupsi Kepada Mahasiswa Baru FBiPK UB, Ini Kata Evi Hayati

“Mahasiswa FBiPK harus sehat jiwa dan raganya. Kalian adalah generasi yang akan terus tumbuh dan berkembang. Harapannya, kelak kalian mampu menjadi pribadi yang bermanfaat, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga, institusi, masyarakat, dan negara,” pungkasnya.

JKJT Ajak Mahasiswa Bangga Menjadi Diri Sendiri dan Berani Menolak Narkoba

Sesi berikutnya menghadirkan Agustinus Tedja Bawana dari Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) dengan materi bertajuk “Wujudkan Kampus Bersinar: Bersih dari Narkoba, Sehat Mental, Siap Menjadi Penerus Bangsa.”

Melalui pesan utama “Ruang yang Aman untuk Belajar, Bertumbuh, dan Saling Menjaga”, Agustinus mengajak mahasiswa baru untuk memahami pentingnya membangun kepercayaan diri, menjaga pergaulan, serta memiliki kesadaran terhadap berbagai risiko sosial yang dapat muncul selama menjalani kehidupan perkuliahan.

Dalam pemaparannya, Agustinus menggambarkan Kota Malang sebagai salah satu kota pendidikan yang menjadi tujuan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurutnya, kehidupan mahasiswa di kota pendidikan menghadirkan banyak kesempatan untuk mengembangkan potensi, sekaligus tantangan yang menuntut kematangan dalam mengambil keputusan.

Ia menyoroti sejumlah persoalan yang berpotensi dihadapi mahasiswa, mulai dari kesulitan beradaptasi, persoalan hubungan pribadi dan putus cinta, tekanan lingkungan pertemanan, hingga risiko penyalahgunaan narkoba dan zat adiktif.

Agustinus juga mengingatkan bahwa aktivitas sosial dan pergaulan mahasiswa perlu disertai kemampuan menetapkan batasan, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, serta memahami konsekuensi dari setiap tindakan.

Menurutnya, salah satu langkah penting dalam membangun ketahanan mental adalah menumbuhkan rasa percaya diri dan kebanggaan terhadap identitas diri.

Mahasiswa yang mampu menerima dan menghargai dirinya akan memiliki bekal untuk menghadapi tekanan sosial tanpa harus mengikuti perilaku yang merugikan.

“Mahasiswa yang kuat bukan yang tidak pernah rapuh, melainkan tahu cara menjaga diri dan berani mencari pertolongan. Sehingga mampu menjadi pribadi yang bersih, sehat mental, dan siap meneruskan harapan bangsa,” ujar Agustinus.

Melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan generasi muda, Agustinus menekankan bahwa ketangguhan mental bukan berarti seseorang harus selalu terlihat kuat atau mampu menyelesaikan seluruh persoalan secara mandiri.

Sebaliknya, keberanian mengenali keterbatasan diri, membangun relasi yang sehat, serta mencari bantuan ketika diperlukan merupakan bagian penting dari kedewasaan.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk menjauhi penyalahgunaan narkoba, menghindari perilaku berisiko, dan membangun lingkungan pertemanan yang saling mengingatkan serta memberikan dukungan positif.

Jaga Diri, Jaga Sesama: Membangun Budaya Kampus yang Aman dan Peduli

Penyelenggaraan pembekalan kesehatan mental dan pencegahan kekerasan pada momentum Hari Kesehatan Mental Sedunia memberikan makna tersendiri bagi pelaksanaan Pengembangan Potensi Mahasiswa FBiPK UB 2026.
Melalui kegiatan ini, fakultas ingin menegaskan bahwa pengembangan potensi mahasiswa tidak cukup hanya melalui penguatan kompetensi akademik dan keterampilan organisasi.

Aspek kesehatan mental, integritas, kepedulian sosial, serta kemampuan membangun hubungan yang sehat juga menjadi bagian penting dalam membentuk karakter mahasiswa.

Pesan “Jaga Diri, Jaga Sesama” menjadi ajakan kepada seluruh mahasiswa baru untuk mulai membangun budaya saling menghormati, menolak kekerasan seksual dan perundungan, menjauhi penyalahgunaan narkoba, serta menciptakan ruang belajar yang inklusif dan mendukung kesejahteraan bersama.

Pembekalan ini juga mengingatkan mahasiswa bahwa mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan. Kesadaran untuk mengenali masalah, berkonsultasi dengan pihak yang tepat, dan memberikan dukungan kepada sesama merupakan langkah nyata dalam menciptakan lingkungan kampus yang sehat secara fisik, mental, dan sosial.

Melalui keterlibatan ULTKSP FBiPK UB dan JKJT, kegiatan PPM 2026 diharapkan menjadi langkah awal dalam meningkatkan kesadaran 1.300 mahasiswa baru mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental dan keselamatan diri selama menempuh pendidikan tinggi.

Lebih dari sekadar agenda pembekalan, kegiatan ini mempertegas komitmen FBiPK UB untuk menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan bebas dari kekerasan, sekaligus mempersiapkan generasi muda yang tangguh, berintegritas, dan bertanggung jawab.

Sebab keberhasilan mahasiswa tidak hanya diukur dari prestasi yang diraih, tetapi juga dari kemampuannya menjaga diri, menghargai sesama, dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.

 

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *