Malanginspirasi.com – Lapas Kelas I Malang memanfaatkan lahan brandgang di sisi selatan untuk mengembangkan pertanian produktif. Panen perdana jagung manis hasil budidaya warga binaan menghasilkan sekitar 4 kuintal.
Panen dilakukan Kamis (1/10/2025) usai Upacara Hari Kesaktian Pancasila. Kepala Lapas Kelas I Malang, Christo Victor Nixon Toar, bersama jajaran pejabat struktural meninjau langsung proses panen yang melibatkan 26 warga binaan.
Jagung manis varietas Talenta atau hibrida F1 dibudidayakan di lahan sekitar 300 meter persegi. Warga binaan dilibatkan secara penuh mulai pengolahan lahan, penanaman, perawatan, hingga panen.
Christo mengatakan panen perdana ini menjadi pijakan awal untuk meningkatkan produksi. Lapas Malang menargetkan hasil panen secara bertahap mencapai 1 ton.
“Panen perdana ini menghasilkan sekitar 4 kuintal jagung. Target kami secara bertahap bisa mencapai 1 ton. Namun, kami tentu bersyukur karena ini merupakan panen perdana dan menjadi bukti bahwa lahan brandgang dapat dimanfaatkan secara produktif dengan berbagai komoditas,” ujar Christo.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya berorientasi pada hasil pertanian. Warga binaan juga memperoleh pengalaman dan keterampilan yang dapat dikembangkan sebagai bekal setelah menjalani masa pembinaan.
Hasil panen akan disalurkan melalui koperasi dan pemborong untuk dipasarkan. Sebagian digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur di lapas. Hasil penjualan dikelola sesuai mekanisme yang berlaku. Adapun untuk warga binaan yang terlibat mendapatkan premi sebagai bentuk apresiasi.
Salah satu warga binaan, BS, mengaku senang bisa mengikuti proses budidaya hingga panen.
“Ini pertama kalinya kami menanam jagung. Alhamdulillah, kami berhasil panen dan hasilnya cukup memuaskan. Yang membuat kami semakin senang, hasil panen ini bisa dipasarkan ke luar Lapas,” ujarnya.
Melalui program Asimilasi dan Edukasi, Lapas Kelas I Malang terus mengembangkan pembinaan kemandirian di sektor pertanian.
Pemanfaatan brandgang diharapkan meningkatkan produktivitas sekaligus membekali warga binaan dengan keterampilan kerja yang dapat diterapkan setelah kembali ke masyarakat.







