Malanginspirasi.com – Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, yang dijadwalkan menjadi wasit pertama dari negaranya di putaran final Piala Dunia FIFA, ditolak masuk ke Amerika Serikat dan dideportasi ke Turki. Kejadian ini terjadi hanya beberapa hari sebelum turnamen sepak bola terbesar di dunia dimulai pada 12 Juni 2026.
Artan tiba di Bandara Internasional Miami dari Istanbul, Turki, akhir pekan lalu untuk mengikuti seminar wajib wasit FIFA. Meski telah memiliki visa AS yang valid dan paspor diplomatik yang difasilitasi Kedutaan Somalia di Nairobi, petugas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) langsung menolak masuknya Artan. Ia langsung dipulangkan dengan penerbangan berikutnya.
Omar Abdulkadir Artan sendiri adalah wasit internasional FIFA sejak 2018. Wasit berusia 34 tahun itu bahkan dinobatkan sebagai Wasit Terbaik Afrika (CAF Best Male Referee 2025). Artan juga termasuk salah satu dari tiga wasit utama asal Afrika yang dipilih FIFA untuk Piala Dunia 2026.
Sayangnya, hingga saat ini, tidak ada penjelasan resmi dari pihak imigrasi AS, FIFA, maupun Federasi Sepak Bola Somalia mengenai alasan penolakan tersebut. Namun, banyak pihak menghubungkannya dengan kebijakan imigrasi ketat pemerintahan Presiden Donald Trump, termasuk daftar larangan perjalanan yang mencakup Somalia.
Tindakan semena-mena ini terang saja memantik kritikan keras. Apalagi Artan sudah mengantongi visa AS dan memiliki paspor diplomatik.
Ciise Aden Abshir, penasihat senior Kementerian Pemuda dan Olahraga Somalia, menyatakan keputusan tersebut merusak semangat keadilan dan persatuan dalam olahraga. Kasus ini juga menambah deretan panjang masalah visa di Piala Dunia FIFA 2026, termasuk kendala yang dialami suporter, tim, dan jurnalis.
Baca Juga:
Jurnalis Piala Dunia FIFA 2026 Hadapi Risiko Intimidasi Aparat di Negara Tuan Rumah
Staf Pendukung Skuad Iran Protes Tak Dapatkan Visa Masuk AS Jelang Piala Dunia FIFA 2026
Fans dan komunitas sepak bola internasional mempertanyakan pelbagai kebijakan tuan rumah, terutama AS, yang sangat kaku dan diskriminatif sehingga berpengaruh terhadap semaraknya turnamen sepak bola terbesar sejagad itu.
Sementara dua host lainnya, Meksiko dan Kanada, relatif lebih terbuka terhadap para tamu yang terkait dengan penyelenggaraan Piala Dunia. Kalau pun ada restriksi, itu hanya berlaku bagi pengunjung dari negara yang tengah terpapar wabah berbahaya seperti Ebola.







