Malanginspirasi.com – Setelah kemenangan di babak 16 besar melawan Kolombia, Swiss telah mencapai perempat final Piala Dunia FIFA untuk pertama kalinya sejak 1954 dan langsung berhadapan dengan juara bertahan, Argentina.
Beberapa pemain telah menunjukkan ketekunan seperti kapten Granit Xhaka, yang berusia 33 tahun, yang akhirnya memimpin timnya ke babak delapan besar setelah tiga kali tersingkir berturut-turut setelah babak 16 besar.
“Piala Dunia 2014 adalah turnamen besar pertama saya sebagai pemain Swiss, dan kami telah bermain di begitu banyak turnamen. Terkadang, keberuntungan tidak berpihak pada kami, dan kami tersingkir beberapa kali, termasuk melalui adu penalti,” kata Xhaka.
Kapten Swiss itu pilih bermain santai menjelang pertarungan melawan Messi dan La Albiceleste yang lebih diunggulkan.
“Kami tahu bahwa kami bermain melawan salah satu tim sepak bola terhebat dalam sejarah. Kita pilih menikmatinya dan menunjukkan pada dunia bahwa tim sekecil Swiss bisa merepotkan raksasa,” kata Xhaka.
Baca Juga:
Sarat Ketimpangan, Simak Sederet Kecurangan Wasit di Laga Argentina vs Mesir
Juara Bertahan Unggul Tipis dari Tim Peringkat 64 FIFA, Laga Argentina vs Cape Verde Bikin Jantungan
Perjalanan Argentina ke perempat final juga tak mulus.
Mereka lolos dari babak gugur dan tak menang mudah dari Cape Verde di babak 32 besar, bahkan sempat tertinggal saat melawan Mesir di babak 16 besar.
Berkat pendekatan defensif yang disiplin dan performa gemilang kiper Gregor Kobel, Swiss hanya kebobolan satu gol sejauh ini di turnamen.
Melawan Argentina, rencana permainan Swiss kemungkinan akan dibangun di atas pertahanan yang solid dan memanfaatkan serangan balik dengan mengeksploitasi area di mana Argentina kesulitan akhir-akhir ini.
“Kami ingin menyulitkan mereka dan menciptakan masalah di titik lemah mereka, sambil bermain sesuai kekuatan kami,” jelas Murat Yakin, pelatih Swiss.
Fokusnya adalah membangun identitas tim secara kolektif.
“Hanya ada satu cara untuk mengalahkan Argentina dan Messi, yaitu dengan bekerja sebagai tim,” kata pelatih berusia 49 tahun itu.
Yakin mengatakan kepemimpinan Xhaka sangat penting bagi solidaritas Swiss, telah lama meyakini bahwa timnas Swiss mampu melakukan hal-hal besar.
“Dia adalah seorang pemimpin bukan hanya di lapangan, tetapi juga di luar lapangan. Anda bisa merasakan auranya dan betapa pentingnya dia bagi rekan-rekan setimnya,” kata Yakin.
Xhaka menerima tanggung jawab itu dan sering bertindak seperti pelatih kedua di lapangan, mengatur permainan dan menyemangati rekan-rekan setimnya.
“Merupakan suatu kehormatan juga untuk bermain melawan Messi. Terpenting kami akan bermain dengan cara yang dapat kami kenang dengan bangga,” kata pemain Sunderland itu.
Jika Swiss menang, tim ini akan mencapai semifinal Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.







