Gagalnya Tim-Tim Asia di Piala Dunia FIFA 2026, AFC Harus Segera Berbenah

Malanginspirasi.com – Kegagalan Australia menaklukkan Mesir melalui adu penalti di babak 32 besar menjadi penutup tragis perjalanan tim-tim Asia di Piala Dunia FIFA 2026. Dengan kekalahan tersebut, memastikan tak ada satu pun anggota dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang melaju ke babak 16 besar.

Meski diberi kesempatan lebih besar melalui format 48 tim, sembilan negara Asia, termasuk kekuatan tradisional seperti Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Australia, secara kolektif gagal memenuhi ekspektasi.

Hanya Jepang dan Australia yang berhasil lolos dari fase grup. Namun di fase knock-out 32 besar, Jepang disingkirkan Brasil 2-1 dan Australia dipulangkan Mesir 4-2 melalu adu penalti setelah imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu.

Yang lebih miris, 3 tim (Uzbekistan, Yordania dan Irak) bahkan tak meraih satu poin pun di babak grup. Sementara sisanya kandas di peringkat 3-4.

Moncer di Kontinental, Jadi Bulan-bulanan di Level Dunia

Sepanjang fase grup, tim-tim Asia memainkan 27 pertandingan, meraih hanya 3 kemenangan, 9 imbang, dan 15 kekalahan. Para wakil Asia ini mencetak sedikit gol dan kebobolan jauh lebih banyak

Lima tim bahkan menjadi juru kunci di grup masing-masing, Qatar, Arab Saudi, Irak, Yordania, dan Uzbekistan.

Analis sepak bola internasional menyebut performa ini sebagai “global flop” bagi Asia. Padahal sebelum turnamen, harapan sempat membumbung tinggi mengingat kemajuan beberapa tim di level kontinental.

Realitanya, dominasi di Piala Asia tidak serta merta berarti kompetitif di panggung dunia.

Akar Masalah

Para pengamat menyoroti beberapa faktor utama di balik kegagalan ini.

Pertama, kesenjangan pengalaman internasional. Mayoritas pemain Asia minim jam terbang melawan tim-tim elite Eropa atau Amerika Latin. Jepang menjadi pengecualian relatif berkat banyaknya pemain di liga-liga top Eropa, namun tetap mentok saat menghadapi Brasil di babak gugur.

Reaksi sedih ofisial dan para pemain Jepang usai kalah lawan Brasil. Selain Australia, Jepang adalah wakil Asia yang lolos dari babak penyisihan grup meski akhirnya kandas di babak 32 besar. (AP Photo)

Kedua, kelemahan fisik dan intensitas permainan. Pemain Asia kerap kalah duel, kalah kecepatan, dan kesulitan menghadapi tekanan fisik tinggi yang menjadi ciri tim Afrika, Eropa maupun Amerika Selatan.

Mesir, misalnya, berhasil memanfaatkan ketangguhan mental dan pengalaman Mohamed Salah dkk. untuk menyingkirkan Australia.

Ketiga, infrastruktur pengembangan pemain yang belum merata. Kecuali Jepang dan Australia yang memiliki sistem lebih matang, sebagian besar negara Asia masih bergulat dengan akademi muda yang ketinggalan jaman, kurangnya kompetisi berkualitas, serta masalah tata kelola termasuk korupsi di sejumlah federasi.

Selain itu, atau yang keempat, minimnya pertandingan uji coba berkualitas menghadapi lawan-lawan kuat membuat tim-tim Asia sering termehek-mehek saat bertemu tim-tim papan atas dunia.

AFC Musti Berbenah

Kegagalan ini bukan sekadar soal hasil pertandingan, melainkan cerminan masalah struktural yang mendalam. Presiden AFC Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa sendiri mengakui bahwa performa tim Asia berada di bawah ekspektasi.

Buruknya performa sebagian besar wakil Asia di Piala Dunia tahun ini juga menimbulkan pertanyaan besar tentang kinerja AFC dalam meningkatkan kualitas sepak bola di Asia. Bahkan mulai muncul suara-suara tentang perlunya perombakan besar-besaran di organisasi sepak bola di benua terpadat di kolong jagad ini.

Tanpa reformasi secara menyeluruh seperti aspek teknis, fisik, mental, dan infrastruktur, sepak bola Asia berisiko terus tertinggal.

Bagi AFC, Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi momentum evaluasi besar-besaran. Investasi pada youth development, peningkatan kualitas liga domestik, lebih banyak exposure internasional, dan reformasi tata kelola, menjadi agenda mendesak.

Asia memiliki kesempatan berbicara lebih banyak di edisi Piala Dunia berikutnya yang bakal digelar di Arab Saudi (2030). Namun kesempatan itu akan menguap sia-sia (seperti di Qatar 2022) seandainya saja AFC masih berlaku “business as usual”, seolah semuanya baik-baik saja.

Piala Dunia tahun ini meninggalkan pelajaran berharga. Bertambahnya kuota peserta dari Asia saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah kualitas, kematangan skuad, dan visi jangka panjang yang konsisten.

Jika AFC tidak segera berbenah dan masih terus cenderung menganakemaskan negara-negara tertentu, bukan tidak mungkin usulan Jepang agar konfederasi dibagi dua bakal terwujud. Asia Timur dan Asia Barat. Entah apapun namanya kelak.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *