Malanginspirasi.com – Asosiasi Perajin Batik Kota Malang (APBKM) mencatat puluhan pelaku usaha batik kini tersebar di berbagai wilayah kelurahan dan mendorong pemetaan data serta penguatan sinergi lintas sektor guna mengoptimalkan potensi tersebut.
Ketua APBKM, Isa Wahyudi yang akrab disapa Ki Demang, menegaskan pentingnya validasi data pelaku usaha hingga ke tingkat kewilayahan terkecil demi memetakan kebutuhan mendasar para pengrajin.
“Pengrajin batik Kota Malang ada sekitar 90. Mereka tersebar di masing-masing kelurahan,” ujar Ki Demang dalam rangkaian peringatan Hari Batik Nasional di kawasan Alun-Alun Kota Malang, Minggu (4/10/2026).


Langkah pendataan ini dinilai akan memudahkan pemerintah daerah menyusun skema program yang tepat sasaran, mulai dari pelatihan peningkatan kapasitas, promosi, hingga pembukaan akses pasar secara berkelanjutan.
Ki Demang pun mengimbau keterlibatan aktif aparatur kewilayahan untuk mendukung pemetaan ini.
“Ini mohon Pak Camat, Ibu Camat juga bisa mencatat,” katanya.
Selain pendataan, APBKM menekankan pentingnya integrasi antarpihak—meliputi pemerintah, pengrajin, akademisi, sektor perbankan, hingga dunia usaha—agar pengembangan ekosistem batik tidak berjalan secara parsial.
Kemitraan ini terwujud dalam gelaran peringatan Hari Batik Nasional di Alun-Alun Kota Malang yang memadukan pameran UMKM, workshop membatik bagi 300 peserta, keterlibatan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, serta pemanfaatan platform digital Roblox untuk mengenalkan batik ke generasi muda.
Baca Juga:
Dukungan juga mengalir dari Dekranasda Kota Malang yang menyediakan 10 stan pameran, serta kemitraan bersama Bank Indonesia dan Bank Jatim.
“Ini adalah kerja kolaborasi antara Asosiasi Perajin Batik Kota Malang bersama Universitas Brawijaya, utamanya Fakultas Ilmu Budaya, yang kemudian disupport penuh oleh Dekranasda,” jelasnya.
Pemilihan Alun-Alun Kota Malang sebagai pusat kegiatan juga dimaksudkan untuk membawa kain warisan budaya ini lebih dekat dengan masyarakat di ruang publik, ketimbang sekadar merayakannya lewat acara seremonial.
“Alun-alun sampai dua hari ini, Sabtu dan Minggu, sangat hidup. Ada banyak kegiatan hiburan dan kegiatan masyarakat yang diselenggarakan bersama,” tuturnya.
Melalui kesinambungan pendataan, inovasi produk, dan kolaborasi yang solid, APBKM optimistis batik tidak sekadar bertahan sebagai karya seni dan warisan tradisi, tetapi bertransformasi menjadi penggerak ekonomi kerakyatan sekaligus penegas identitas Kota Malang.






