Malanginspirasi.com – Konsep urban farming kini makin didorong sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan.
Hal ini diperkenalkan melalui kegiatan panen bersama yang dilakukan oleh penggiat hidroponik, Mitha Lidwina.
Ia merupakan pelaku urban farmer dan pengembang sistem pertanian skala rumahan, yang berlangsung di CASA de Patisserie, Minggu (7/12/2025).

Tingkatkan Kesadaran Diri Masyarakat
Kegiatan ini diikuti oleh 18 peserta yang secara langsung belajar memanen dua jenis sayuran hidroponik premium, yaitu Butterhead dan Red Oakleaf.
Selain praktik panen, peserta juga diperkenalkan manfaat pertanian hidroponik rumahan sebagai solusi kebutuhan pangan segar di tengah keterbatasan lahan perkotaan.
“Tujuan kegiatan ini sebagai upaya meningkatkan awareness masyarakat bahwa kita sebenarnya bisa memproduksi makanan sehat dari rumah sendiri,” ungkap Mitha Lidwina, Urban Farmer sekaligus Co-Founder Smay!.
Menurutnya, kesadaran akan gaya hidup sehat mengalami peningkatan signifikan pasca pandemi.
Namun, masih banyak masyarakat yang bergantung pada pasar sebagai sumber utama pemenuhan kebutuhan harian, terutama sayuran.
Padahal, sayuran memiliki masa simpan pendek sehingga sering kali tidak lagi segar hanya sehari setelah dibeli.

Gaya Hidup Modern
Mitha menambahkan bahwa urban farming bukan sekadar aktivitas bercocok tanam, melainkan bagian dari gaya hidup yang relevan dengan karakter masyarakat modern.
Tren ini banyak menarik perhatian generasi muda seperti milenial dan Gen Z, yang kini lebih sadar terhadap kesehatan dan keseimbangan hidup.
“Kami membawa hidroponik ini ke ruang publik, seperti kafe dan restoran. Agar masyarakat bisa melihat langsung bahwa bertanam itu mudah, bersih, estetik, dan bisa menjadi bagian dari dekorasi ruangan,” jelasnya.
Selain diyakini sebagai aktivitas yang memberi efek terapeutik, sistem hidroponik juga dinilai menjanjikan dari sisi bisnis.
Hal ini terlihat dari sejumlah peserta yang merupakan pelaku usaha kuliner dan mengaku kesulitan mendapatkan pasokan sayuran premium secara konsisten.

“Saya sebagai chef sering kesusahan untuk mencari supplier yang bagus untuk bahan makanannya,” ujar Amanda, salah satu peserta kegiatan panen yang berprofesi sebagai chef.
Program panen bersama ini sebenarnya dirancang sederhana. Namun antusiasme yang tinggi membuat pendaftar mencapai 40 orang.
Smay! akhirnya membatasi peserta hanya 18 orang sesuai jumlah tanaman yang siap dipanen.
Selain praktik memanen, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai sistem hidroponik mulai dari kebutuhan nutrisi dan pencahayaan.
Baca Juga:
Talkshow Fakultas Pertanian UB, Dorong Smart Farming demi Kemandirian Pangan
Hingga perawatannya yang dikenal “low maintenance” karena tidak memerlukan penyiraman setiap hari dan tidak menggunakan tanah sehingga area tetap bersih.
Melalui kegiatan ini, Smay! berharap masyarakat semakin sadar bahwa bercocok tanam dapat dilakukan di ruang terbatas dan menjadi bagian dari keseharian.
“Kalau kita bisa menanam sendiri, kita tidak harus tergantung pasar,” tutup Mitha.








