Beberapa upaya pengobatan yang dilakukan dokter di antaranya :
– Meresepkan obat-obatan antiperspiran yang mengandung alumunium klorida yang dapat menyumbat kelenjar keringat sehingga mencegah produksi keringat berlebih. Namun obat ini dapat menimbulkan iritasi mata dan kulit.
– Memberikan obat anti depresan untuk mengurangi rasa cemas yang memperparah hiperhidrosis.
– Iontophoresis (alat penghambat keringat). Tindakan ini dilakukan jika hiperhidrosis terjadi di salah satu tangan dan kaki, atau keduanya. Terapi ini menghambat kelenjar keringat sementara dengan aliran listrik.
– Terapi microwave. Terapi ini menggunakan aliran energi gelombang mikro untuk menghancurkan kelenjar keringat.
– Operasi. Operasi yang dilakukan adalah mengangkat kelenjar keringat. Pengangkatan ini dilakukan jika di ketiak terjadi keringat berlebih. Sedangkan untuk mengendalikan keringat di tangan, dokter dapat melakukan simpatektomi.

– Suntikan botox (botulinum toksin). Suntikan botox dapat menghambat saraf yang menghasilkan keringat secara sementara. Suntikan botox adalah yang paling populer karena efektif dan tahan lama, bisa bertahan 6 hingga 9 bulan. Meski demikian, terapi dengan cara ini dapat menyebabkan efek samping berupa kelemahan otot.
Selain menjalani pengobatan khusus, ada baiknya kita membiasakan diri hidup sehat seperti :
– Mandi secara teratur.
– Gunakan sabun mandi anti bakteri dan deodoran antiperspiran.
– Pakai pakaian dengan bahan yang mudah menyerap keringat.
– Hindari makanan tertentu, terutama yang pedas dan berminyak.
– Perbanyak konsumsi buah-buahan yang mengandung banyak air agar suhu tubuh tetap dingin.
Keringat berlebih dan bau tak sedap yang menyertainya biasanya memang tidak berbahaya. Namun tetap saja menyebabkan ketidaknyamanan dan perasaan malu pada penderitanya. Kualitas hidup dan hubungan sosial dengan orang lain juga terpengaruh.







