Malanginspirasi.com – Mahasiswa memiliki posisi strategis dalam mendukung sosialisasi kebijakan redenominasi, sebab mereka berada di persimpangan antara dunia akademik dan realitas sosial masyarakat.
Diskusi MENARA (Membedah Narasi dan Realitas) yang diselenggarakan UKM LKP2M UIN Malang di Kota Batu pada Minggu (16/11/2025).
Forum ini menunjukkan tingginya kepedulian generasi muda terhadap transparansi kebijakan publik
Termasuk transparansi kebijakan tentang efektivitas penyampaian informasi mengenai redenominasi kepada masyarakat luas.
Tantangan Redenominasi
Bintang Rachamatullah, pemantik diskusi sekaligus mahasiswa ekonomi dan Direktur LKP2M, menekankan bahwa tantangan terberat kebijakan ini adalah besarnya kebutuhan anggaran.
Ia menyampaikan bahwa masyarakat masih mempertanyakan kelayakan kebijakan tersebut.
“Masyarakat pasti akan bertanya, apakah ini bisa diterapkan di Indonesia? Sedangkan biaya yang akan ditanggung negara itu sangat besar,” ujarnya.
Menurut Bintang, skala kebutuhan sosialisasi tidak kecil.
“Biaya untuk sosialisasi dan mengedukasi masyarakat itu setara dengan membuat satu provinsi baru. Gila enggak tuh? Satu provinsi baru,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa proses edukasi harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, dari pusat sampai ke pelosok, sampai ke perbatasan.
Ia juga mengingatkan potensi risiko moneter apabila komunikasi kebijakan tidak tersampaikan dengan baik.
“Kalau kebijakan moneter itu terguncang, kita akan kesulitan. Bahkan bisa jadi nilai mata uang kita tidak ada harganya di luar negeri karena semua orang sudah panik,” tegasnya.
Diskusi turut menyinggung literasi investasi di kalangan generasi muda untuk menghadapi kemungkinan inflasi di tahun 2030.

Peserta diskusi, Habin Muharom menimpali dengan menjelaskan fungsi instrumen investasi secara sederhana.
“Prinsipnya, emas itu lebih ke menjaga nilai kekayaan. Kalau investasi properti bisa lebih profitable, tergantung strategi masing-masing,” tuturnya.
Sementara itu, Bingang juga mencontohkan bagaimana negara-negara besar mengelola cadangan emas.
“Amerika sekarang lebih dari 90 ton emas yang mereka simpan,” katanya.
Mengenai implementasi teknis redenominasi, Bintang menilai banyak aspek yang memerlukan perhatian serius.
“Kendala utamanya biaya besar. Kita perlu waktu buat ganti uangnya jadi hilang nolnya. Itu juga perlu anggaran. Apa dibebankan ke masyarakat, atau pemerintah mau back-up semuanya?” jelasnya.
Peran Mahasiswa
Dalam konteks peran mahasiswa, menurutnya kontribusi generasi muda dapat sangat signifikan.
“Mahasiswa bisa membantu pemerintah dalam sosialisasi dan menyamakan persepsi,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah berencana menggandeng lembaga pendidikan untuk memperluas pemahaman publik, khususnya dari disiplin akuntansi dan psikologi.
Mahasiswa dari jurusan lain pun dapat berkontribusi melalui kajian, publikasi, dan penyebaran informasi.
Baca Juga:
Diskusi MENARA UIN Malang Kupas Isu Redenominasi Rupiah dan Kesiapan Publik
“Contohnya mengeluarkan berita. Berita itu nanti dibaca banyak orang dan persepsi masyarakat bisa disatukan,” tambahnya.
Bintang juga menyinggung sikap sebagian mahasiswa yang masih apatis.
“Harusnya mahasiswa tidak menutup diri. Kalau hanya mikirin dirinya atau orang terdekatnya, ya enggak akan maju,” ujarnya.
Ia menutup dengan pesan kuat mengenai sejarah peran mahasiswa.
“Negara ini enggak bisa maju sendirian. Tahun ’98 membuktikan mahasiswa lebih berpengaruh daripada pemerintahan. Masyarakat percaya mahasiswa itu orang yang berilmu dan punya kapabilitas,” tegasnya.








