Inovasi Lima Mahasiswa UB Lewat Rompi Pintar untuk Penanganan Tantrum Anak Autis

Pendidikan12 views

Malanginspirasi.com –  Lima mahasiswa  Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan ADAPT-V, sebuah teknologi wearable rompi pintar berbasis Deep Pressure Therapy (DPT).

Rompi ini dirancang khusus mendeteksi stres fisiologis secara otomatis dan memberikan respons menenangkan bagi anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) yang meminimalkan risiko terjadinya tantrum.

Inovasi ini lahir dari kepedulian tim terhadap masalah sensory processing yang kerap dihadapi oleh anak-anak ASD.

Respons emosional terhadap rangsangan tertentu sering kali memicu perilaku tantrum yang tidak terkendali.

Anggota tim dari Program Studi Psikologi UB, Muhammad Nafis Khilmi, menjelaskan latar belakang psikologis di balik pengembangan alat ini.

“Anak dengan ASD sering kali mengalami kesulitan dalam memproses rangsangan sensorik, yang dampaknya bisa memunculkan perilaku menangis, berteriak, menendang, hingga tindakan agresif yang membahayakan dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar. Melalui ADAPT-V, kami menerapkan metode Deep Pressure Therapy (DPT) dengan memberikan tekanan terkontrol pada tubuh untuk menghadirkan sensasi nyaman menyerupai pelukan hangat yang telah terbukti efektif memberikan efek relaksasi,” ujar Nafis.

Sebelumnya, terapi sejenis sebenarnya sudah bisa dilakukan menggunakan alat manual seperti Snug Vest.

Namun, rompi konvensional tersebut masih memiliki keterbatasan karena membutuhkan pengawasan penuh dari terapis atau orang tua untuk mengatur tekanannya secara manual.

Ketua tim pengembang, Zakky Yahya dari Program Studi Teknik Elektro UB, mengungkapkan bagaimana teknologi kecerdasan buatan (Machine Learning) diintegrasikan untuk memecahkan masalah otomatisasi tersebut.

“Untuk mengatasi keterbatasan rompi manual, ADAPT-V dirancang bekerja secara otomatis dan bekerja secara real-time. Kami menanamkan sensor MAX30102 untuk mendeteksi denyut nadi jantung serta sensor MPU6050 untuk memetakan pola gerakan anak. Data dari kedua sensor fisik ini kemudian dianalisis secara cerdas oleh algoritma Support Vector Machine (SVM) guna mendeteksi secara presisi kapan anak mulai mengalami fase tantrum,” jelas Zakky.

Baca Juga:

Sekolah Pascasarjana UB Genjot Riset dan Program Double Degree Internasional Lewat Ribuan Mahasiswa Baru

Ketika fase tantrum terdeteksi oleh sistem cerdas tersebut, mikrokontroler ESP32 akan secara otomatis mengaktifkan pompa udara (micro air pump DC) untuk mengisi kantung udara di dalam rompi. Pengaturan tekanan ini juga dibuat sangat aman menggunakan algoritma khusus.

Anggota tim lainnya dari Teknik Elektro, Sugih Rizkiawan, memaparkan detail mekanisme kontrol tekanan udara rompi.

“Kunci keamanan rompi ini terletak pada kendali algoritma Proportional Integral Derivative (PID) yang terhubung dengan sensor tekanan MPX5100DP. Algoritma ini memastikan tekanan udara yang masuk ke tubuh anak tetap stabil pada batas aman yang ditentukan. Ketika sistem mendeteksi kondisi emosi anak telah kembali tenang (tidak tantrum), katup solenoid (solenoid valve) akan terbuka perlahan untuk mengempiskan rompi secara otomatis,” tambah Sugih.

Tidak hanya mengandalkan otomatisasi fisik, rompi pintar ini juga terintegrasi penuh dengan ekosistem digital berbasis Internet of Things (IoT). Data aktivitas anak dan respons rompi dikirimkan langsung menggunakan koneksi Wi-Fi ke aplikasi smartphone. Dengan begitu, orang tua dan terapis dapat melakukan pemantauan kondisi anak secara jarak jauh secara real-time.

Pengembangan ADAPT-V yang didanai melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) ini berada di bawah bimbingan dosen Teknik Elektro, Ir. Nurussa’adah, M.T., dan dosen Kedokteran, DR. dr. Agung Riyanto Budi S, SpOT.

Fokus Utama Pengujian Pada Keandalan dan Keamanan Produk

Dosen pembimbing teknis, Ir. Nurussa’adah, M.T., menegaskan bahwa keandalan dan keamanan produk menjadi fokus utama pengujian.

“Pengembangan ADAPT-V ini melalui tahapan pengujian yang sangat ketat, mulai dari akurasi sensor, respons algoritma klasifikasi emosi, hingga kestabilan sistem tekanan udaranya. Kami juga melibatkan evaluasi langsung dari para terapis di lembaga pendidikan inklusif demi menjamin aspek kenyamanan, keamanan medis, serta kemudahan operasional alat saat diaplikasikan langsung pada anak,” terang Ir. Nurussa’adah.

Dengan hadirnya inovasi ini, tim berharap ADAPT-V mampu menjadi solusi berkelanjutan yang berdampak nyata bagi masyarakat luas.

ADAPT-V kini menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi lintas disiplin ilmu (teknik elektro, kedokteran, dan psikologi) mampu melahirkan inovasi teknologi kesehatan yang solutif, empatik, dan berdaya guna tinggi bagi kemanusiaan

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *