Malanginspirasi.com – Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (UNIKAMA) Tahun 2026 di Desa Sumber Pasir, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, memasuki tahap monitoring dan evaluasi (monev), Kamis (20/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Balai Serbaguna Dusun Ngrangin tersebut menjadi ruang evaluasi bagi mahasiswa untuk memaparkan perkembangan program sekaligus mempertanggungjawabkan proses pengabdian yang telah dilakukan di tengah masyarakat.
Tim monev terdiri atas perwakilan PPLP PT-PGRI Malang, yakni Dr. Nawaji, M.Pd. dan Nanang Puji Astika, M.Pd. Sementara dari DP3M Universitas PGRI Kanjuruhan Malang hadir Dr. Riski Nur Istiqomah Dinnullah, M.Si. dan Dwi Rarasintyas, S.Pd.
Kehadiran tim monev diterima oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN UNIKAMA 2026 Desa Sumber Pasir, Engelbertus Kukuh Widijatmoko, SH., M.Pd. Bagi tim KKN, evaluasi tersebut menjadi momentum penting untuk melihat kembali proses pengabdian, bukan sekadar mengukur ketercapaian program.
Dalam sesi pemaparan, mahasiswa menyampaikan hasil observasi, identifikasi, analisis, serta diskusi bersama Kepala Desa Sumber Pasir dan Kepala Dusun Ngrangin. Dari proses tersebut kemudian dirumuskan sejumlah kegiatan yang dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Salah satu program yang mendapat perhatian adalah sosialisasi dan praktik pembuatan eco enzyme bagi ibu-ibu PKK dan pendidik PAUD di Dusun Ngrangin. Program tersebut diarahkan untuk mengubah sampah organik rumah tangga menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat.
Dr. Nawaji, M.Pd. memberikan apresiasi terhadap luaran KKN tersebut.
Menurutnya, pengolahan sampah organik melalui eco enzyme memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh sehingga tidak berhenti sebagai kegiatan edukasi.
Baca Juga:
KKN UNIKAMA 2026 Edukasi Pengolahan Sampah Organik melalui Pelatihan Eco Enzyme
Apresiasi tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi mahasiswa agar program yang telah dijalankan dapat meninggalkan jejak yang lebih panjang bagi masyarakat.
Di sisi lain, dinamika kegiatan KKN di Desa Sumber Pasir juga berkembang mengikuti kondisi lapangan.
Antusiasme masyarakat serta padatnya berbagai kegiatan dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia membuat mahasiswa melakukan penyesuaian dan pengembangan kegiatan.
Bagi Engelbertus Kukuh Widijatmoko, monev menjadi bagian penting dalam memastikan KKN tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan seremonial.
“Yang penting bukan hanya kegiatan terlaksana, tetapi apakah masyarakat mendapatkan manfaat dan apakah ada sesuatu yang dapat dilanjutkan setelah mahasiswa kembali ke kampus,” menjadi semangat yang mewarnai proses pendampingan KKN di Desa Sumber Pasir.
Program eco enzyme menjadi salah satu contoh bagaimana mahasiswa mencoba mempertemukan kebutuhan lingkungan, pemberdayaan masyarakat dan peluang ekonomi lokal dalam satu kegiatan.
Dari sampah organik yang selama ini dianggap tidak bernilai, muncul gagasan sederhana: mengolah, memanfaatkan, dan memberi nilai tambah.
Monev pun tidak ditempatkan semata sebagai proses penilaian, melainkan sebagai ruang untuk membaca kembali perjalanan KKN.
Apa yang sudah berhasil, apa yang perlu diperbaiki, dan program mana yang memiliki peluang untuk diteruskan masyarakat menjadi bagian penting dari evaluasi.
Dengan demikian, KKN UNIKAMA 2026 di Desa Sumber Pasir diharapkan tidak hanya meninggalkan dokumentasi kegiatan.
Tetapi juga meninggalkan pengetahuan, keterampilan, jejaring kolaborasi, dan praktik baik yang dapat terus berkembang setelah masa KKN berakhir.







