Malanginspirasi.com – Universitas Brawijaya (UB) berkomitmen mendukung peningkatan daya saing produk UMKM melalui Program Dosen Berkarya 2026 sebagai rangkaian Program Prioritas Rektor 2026 “UB Global Excellence” mulai April hingga Oktober 2026, dengan melibatkan Dinas Pertanian Kabupaten Kediri, khusunya PPL Kecamatan Kepung dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari Kelud.
Program ini untuk mewujudkan status World Class University dan bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat.
Keterlibatan mitra menunjukkan besarnya dukungan yang diberikan dalam pengembangan teknologi tepat guna yang berorientasi pada kesejahteraan pelaku UMKM.
Pada Sabtu, tanggal 19 September 2026, tim dosen UB yang diketuai oleh Prof.Dr.Ir. Sukardi, MS., bersama dengan Aunurrofiq Mulyarto, STP.MSc. dan Isti Purwaningsih STP. MT., telah mengadakan pelatihan dan pendampingan dalam rangka mengenalkan Alat Pemasak dan Pengaduk Saos Cabai Semi Otomatis kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari Kelud dengan pemantauan lama waktu operasional proses pemasakan dengan peralatan yang baru dihibahkan.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 15 anggota KWT sebagai pelaku usaha UMKM setempat yang antusias dalam mempelajari cara pengoperasian Alat Pemasak dan Pengaduk Pembuatan Saos Cabai Semi Otomatis.
Kegiatan ini berangkat dari adanya potensi cabai besar di Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, yang merupakan sentra produksi cabai besar terbesar di Kabupaten Kediri, yang harganya menurun tajam pada saat panen raya.
Kondisi inilah yang memberi ide para wanita tani ini untuk mengolah cabai menjadi saos cabai dan sambal cabai. Pembuatan saos cabai selama ini dilakukan secara manual dengan wajan dan kompor dengan kapasitas 4 lt per batch dan waktu sekitar 4 jam, dan api yang susah dikontrol sehingga terkadang gosong.
Permasalahan lain adalah pada saat proses pengadukan, terasa bau cabai yang menyengat sehingga harus dilakukan secara bergantian karena terasa sakit di hidung, mata atau muka.
KWT Lestari kelud saat ini sudah menghasilkan produk olahan saos cabe dan produknya sudah dipasarkan ke luar Jawa, dan kadang ada TKW yang minta dikirimi produk saos cabai yang dihasilkan.
Namun permintaan belum sepenuhnya terpenuhi akibat belum optimalnya penerapan teknologi pascapanen.
Menjawab tantangan tersebut, tim dosen UB menghadirkan inovasi mesin pemasak dan pengaduk saos cabai secara semi otomatis.
Mesin ini berkapasitas 10 lt dan dilengkapi dengan sistem pemasakan otomatis (kompor menyala dan mati sendiri, berdasarkan setting suhu yang sudah ditargetkan), sistem pengadukan yang juga bisa diatur kecepatannya, sehingga saos cabai yang dihasilkan ”tidak mungkin gosong”.
Hal ini karena pemanasan tidak dilakukan secara langsung seperti menggunakan wajan, karena alat ini terdapat 2 lapisan plat yang ditengahnya diisi minyak goreng, sebagai bahan transfer panas.
Inovasi ini menjawab kekurangan proses produksi yang selama ini dialami KWT (mitra sasaran), baik berdasarkan teknologi proses maupun waktu proses.
Menurut Ibu Ika Wahyuni sebagai Ketua KWT, adanya bantuan mesin pemasak dan pengaduk saos semi otomatis ini, sangat membantu KWT Lestari Makmur dalam upaya meningkatkan kualitas produk dan efisiensi operasional usaha.
Baca Juga:
Mahasiswa FTAB UB Ciptakan Inovasi Keren Dukung UMKM, Pantau Lele Cukup Lewat HP
”Program ini sangat membantu kelompok atau anggota KWT dalam hal peningkatan pengetahuan dan peningkatan kualitas dan kuantitas produk yang kami peroleh. Apalagi pengenalan dan pelatihan penggunaan mesin pemasak ini terbukti mampu meningkatkan kualitas produk, karena sebelumnya kami masih menggunakan wajan dan diaduk secara manual. Bahkan memperbesar dan memperkecil api komporpun kami masih secara manual, sehingga kalu lupa bisa gosong” ujarnya.
Menurut Supriantoko, SPt., selaku koordinator penyuluh pertanian Kecamatan Kepung-Kabupaten Kediri, dengan adanya hibah mesin pengolah dan pengaduk saos cabai dengan kapasitas 10 lt ini, kapasitas produksi meningkat hampir 3 kali lipat dibandingkan semula.
Selain itu waktu proses yang lebih pendek produktivitas juga meningkat.
Oleh karena itu diharapkan dengan introduksi alat tersebut disamping peningkatan kapasitas, tentunya kualitas juga lebih terstandar serta tidak mungkin terjadi ”gosong” seperti proses sebelumnya.
Waktu proses yang lebih singkat berdampak pada biaya produksi bisa agak murah, serta resiko pirih di mata, hidung dan muka sudah tidak terjadi lagi.
Tim pendamping lain yaitu: Aunurrofiq Mulyarto STP., MSc., dan Isti Purwaningsih STP, MT., memberikan penyuluhan tentang perawatan peralatan dan pemasaran produk.
Kegiatan ini menekankan bahwa teknologi proses pembuatan saos cabai saja tidak cukup untuk meningkatkan daya saing produk, tetapi juga harus dilengkapi dengan kemasan yang baik, serta memperhatikan keamanan saos cabai yang dihasilkan.
Oleh karena itu, 15 anggota KWT yang hadir dibekali dengan pengetahuan lebih lajut yang mencakup cara produksi secara aman dan desain label yang menarik untuk meningkatkan nilai jual produk, walaupun saat ini sudah relatif baik produk dan kemasannya.
Melalui program ini, para anggota KWT diharapkan mampu menerapkan teknologi pengolahan saos cabai secara lebih optimal, umur simpan produk lebih lama, menjaga kualitas organoleptik produk, sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen melalui tampilan kemasan yang lebih rapi dan higienis.
Kolaborasi antara UB dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari Makmur Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri ini menjadi bukti nyata sinergi antara dunia akademik dan masyarakat dalam mendorong hilirisasi teknologi tepat guna bagi masyarakat dan penguatan daya saing UMKM







