Malanginspirasi.com – Puluhan orang tua menyertakan doa bagi para peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Brawijaya (UB) Malang yang berlangsung mulai 21 hingga 26 April mendatang.
Mereka berada di kawasan UB Malang, ada yang duduk-duduk di selasar gedung, hingga yang sekadar menyandar di kursi taman.
Bagi para orang tua, Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 bukan hanya ujian tulis bagi san anak, tetapi juga sebuah pertaruhan asa yang mereka perjuangkan dengan doa dan air mata.
Zamzam, seorang Ayah asal Kediri ini menempuh perjalanan panjang dengan sepeda motor demi mengantar putranya, Sultan.
Ia rela menanggalkan seragam kantornya dan mengambil cuti dua hari.
”Saya berangkat dari Kediri kemarin, menginap di daerah Bukit Cemara Tujuh,” begitu ia berkisah.
Baginya, menempuh puluhan kilometer dengan roda dua adalah bentuk dukungan paling nyata yang bisa ia berikan
“Ini tentang masa depan anak. Saya hanya ingin dia tahu bahwa ayahnya ada di sini, mendukung mimpinya sampai jadi nyata,” lanjutnya.
Sementara itu, pasangan suami istri (pasutri) , Sulastri dan Sunardi, tampak duduk tenang di depan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).
Mereka datang jauh-jauh dari Probolinggo sejak pukul 03.00 dini hari.
Tahun ini menjadi babak kedua bagi putra mereka, Fahat, yang sempat gagal di UTBK tahun lalu.
“Karena pernah gagal, sekarang semangatnya harus lebih tinggi. Kami ingin dia merasa yakin bahwa kegagalan kemarin bukan akhir,” tutur sang ibunda.
Kehadiran mereka menjadi penyemangat Fahat, apapun hasilnya nanti.
Baca Juga:
UB Distribusikan Ratusan Alat Deteksi Kecurangan UTBK 2026
Sedangkan Ardian, seorang pengemudi ojek online asal Sawojajar, perjuangan sudah dimulai jauh sebelum hari ini.
Di sela-sela waktu mencari penumpang, ia kerap mengirimkan tautan informasi soal-soal UTBK kepada anaknya.
”Saya ajak diskusi, saya amati proses belajarnya. Saya ingin dia siap secara mental,” ujar Ardian. Meski harus mengejar setoran, ia memilih hadir langsung di kampus UB untuk memastikan sang anak tidak merasa berjuang sendirian.
Kisah unik datang dari Ibu Rasinah. Nenek asal Bojonegoro ini datang memboyong keluarga besar demi mendukung cucu pertamanya, Khoirus. Tidak tanggung-tanggung, mereka menjadikan mobil sebagai “rumah sementara” untuk beristirahat selama di Malang.
”Kami menginap dan istirahat di mobil saja. Tidak apa-apa, yang penting bisa mendampingi,” ujar Rasinah yang sehari-harinya bekerja sebagai petani.
Baginya, fleksibilitas waktu sebagai petani adalah berkah yang memungkinkannya menyaksikan momen bersejarah dalam hidup cucunya.
Saat lonceng ujian berakhir nanti, ribuan peserta akan keluar dari ruangan dengan berbagai raut wajah.
Namun bagi para orang tua ini, perjuangan tidak berhenti saat lembar jawaban dikumpulkan.







