Malanginspirasi.com – Merantau dari Medan, Sumatera Utara untuk menuntut ilmu di Kota Malang tak menyurutkan langkah atlet Muay Thai Bintang Saragih untuk mengukir prestasi.
Mahasiswa semester akhir di Universitas Merdeka Malang yang kini sedang berjuang menyelesaikan skripsinya tersebut siap unjuk kemampuan di ajang bergengsi Malang Super Fight 27 yang akan berlangsung pada pertengahan November mendatang.
Pertarungan kali ini menjadi tonggak sejarah baru dalam perjalanan karier atlet yang bernama lengkap Geovany Bintang Armada Saragih ini.
Pasalnya, Bintang dijadwalkan akan bertarung melawan petarung asal Prancis—sebuah tantangan internasional pertamanya setelah sebelumnya mengantongi banyak jam terbang bertanding melawan atlet-atlet lokal.
Memupuk Basic Beladiri Sejak Kecil dan Bergabung di Nak Muay
Kecintaan pria yang lahir di Pematang Siantar, 30 Juni 2004 terhadap dunia beladiri bukanlah hal baru.
Ia telah memiliki dasar beladiri wushu dan kickboxing sejak berada di bangku Sekolah Dasar (SD).
Dorongan kuat dari dalam diri serta dukungan penuh dari keluarga menjadi pendorong utama keberlanjutannya di jalur ini.
Baca Juga:
Langkahnya di cabang Muay Thai makin terarah saat ia memutuskan merantau ke Malang untuk berkuliah di Universitas Merdeka Malang pada tahun 2023.
Bintang bertemu dengan Coach Rudi pemilik Sasana Nak Muay di Kota Malang yang kemudian mengajaknya bergabung dan membimbingnya menjadi atlet andalan.
“Muaythai bukan sekadar olahraga pembentuk kebugaran atau wadah kompetisi semata, melainkan jalan hidup dan pembuka peluang karier,” katanya kepada wartawan Malang Inspirasi
“Saya ikut Muay Thai sebenarnya bukan hanya untuk berkompetisi, tapi juga sebagai jalan menimpa karier dan jalan hidup. Sebagai anak rantau di Malang, prestasi dari Nak Muay ini memberikan uang saku dan benefit yang sangat membantu kebutuhan sehari-hari,” tutur Bintang.
Disiplin Ketat: Membagi Waktu Antara Skripsi dan Jadwal di Ring

Menjelang kelulusannya di semester 7, Bintang dituntut untuk ekstra disiplin dalam membagi waktu antara pengerjaan tugas akhir atau skripsi dan porsi latihan fisik yang intensif.
Tanpa perlu hadir ke kampus setiap hari, Bintang merancang rutinitas harian yang teratur:
“Pagi hari jam 06.00 sampai 08.00 saya mengawali hari dengan latihan lari pagi untuk menjaga ketahanan fisik dan stamina. Kemudian hingga sore saya fokus penuh mengerjakan draf skripsi di indekos maupun di tempat belajar,” kata dia.
Sedangkan sore hingga malam hari ia berlatih intensif bersama para pelatih dan rekan sesama atlet.
“Latihan keras itu tuntutan harian dari pelatih-pelatih saya di Nak Muay , jadi bukan cuma saat ada event saja. Karena sudah terbiasa latihan tiap hari, begitu dapat tawaran pertandingan seperti Malang Super Fight 27 ini, persiapan fisik dan mental saya sudah jauh lebih matang,” tegasnya.
Siap Hadapi Tantangan Petarung Prancis
Menghadapi pertempuran perdana melawan petarung mancanegara, Bintang mengaku sangat siap dan optimis.

Jam terbang dari sederet kompetisi yang pernah ia ikuti sebelumnya menjadi modal berharga untuk berlaga di atas ring Malang Super Fight 27.
Bintang berharap penampilan maksimalnya nanti tidak hanya membawa hasil terbaik bagi dirinya dan camp Nak Muay.
Tetapi juga membuktikan bahwa perjuangan anak rantau asal Medan di Kota Malang mampu menembus level internasional.








gas pra ku.